30 Siswa Belajar Lesehan

Tribun Kaltim, Selasa, 21 September 2010 | 21:30 WITA SAMARINDA – Sebanyak 30 murid kelas V SDN 030 Sungai Kapih, Samarinda Ilir terpaksa belajar dengan duduk di lantai, tanpa bangku dan kursi. Kondisi ini sudah mereka rasakan sejak dimulainya tahun ajaran baru 2010/2011, ketika menempati bangunan baru sekolah. Dari pantauan Tribun, Rabu (21/9), murid-murid terpaksa membungkuk ketika menulis di buku mereka. Saat hendak menyalin tulisan yang dituliskan guru di papan tulis, mereka pun harus berkali-kali membungkuk dan duduk tegak. Beberapa potong karpet mengalasi tubuh mereka. Beberapa murid bahkan dengan santai menulis sambil tengkurap. Di pojok ruangan, terlihat seorang murid membawa meja belajar kecilnya ke dalam kelas, sehingga dia tidak perlu terlalu membungkukkan badannya saat menulis. "Murid-murid mengeluh, katanya pinggangnya sakit. Ada juga yang sakit mata dan mengeluh kedinginan karena tak biasa duduk di lantai," kata Sabarti Budi Utami, Wali Kelas V SDN 030 Sungai Kapih, saat ditemui Tribun. Entah karena rasa dingin akibat duduk lesehan, para murid bolak-balik buang air kecil. "Jadinya suka keluar masuk ruangan karena suka buang air kecil. Padahal sebelumnya sih tidak begitu," ungkap B Sri Molyana, Guru Agama SDN 030. Kondisi ini kian sulit karena toilet sekolah belum rampung. Alhasil, murid-murid terpaksa menumpang buang air kecil di rumah guru tak jauh dari sekolah. Para guru pun mesti pulang ke rumah mereka, bila ingin buang air kecil. "Sebelum bangunan lama dibongkar, WC di sekolah masih ada tetapi karena saat ini bangunan baru, toilet belum selesai dibangun," kata seorang guru. Ditemui terpisah, Kepala SDN 030 Sungai Kapih, Suryaniwati menuturkan, dana untuk pengadaan meja dan kursi belajar belum tersedia. Sebagian besar meja dan kursi belajar di SDN 030, kata Suryaniwati memang sudah lapuk. Pihak sekolah pernah mendapat bantuan dari sekolah lain, namun itu juga bukan bangku dan meja yang baru. "Sudah banyak bangku dan meja yang rusak bahkan ada yang sudah hancur karena kondisinya sudah tua," ujarnya. Diapun mengaku dana untuk pengadaan meja dan kursi belajar belum ada. "Untuk honor guru saja, tidak cukup. Selain itu, dana yang diterima sekolah juga digunakan untuk keperluan yang lainnya," paparnya. Meja dan kursi untuk kelas I, III dan IV telah terpenuhi dari dana yang diterima Dinas Pendidikan. Sedangkan, bangku dan kursi murid kelas VI dibuat dari plywood bangunan sekolah. "Tapi untuk kelas V belum kebagian," ujarnya. Mengenai toilet sekolah, kata kepala sekolah, saat ini memang belum rampung karena masih menunggu pencairan dana sisa 10 persen dari total dana pembangunan sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, Harimurti WS menyarankan agar pihak sekolah tidak memaksakan seluruh murid masuk di pagi hari, bila sarana belum mencukupi. "Bisa saja dengan secara bergantian menggunakan kelas dan bangku yang tersedia, sambil menunggu dana untuk pengadaan meja dan kursi. Dana tidak bisa seketika turun, jadi dipilah dulu dan dibagi-bagi dengan kebutuhan lainnya," papar Harimurti. Ketika dimintai komentar, anggota DPR RI Hetifah Sjaifudian, MPP tidak mempercayai fakta seperti itu terjadi di kota Samarinda, yang merupakan ibukota Provinsi. "Ini menjadi signal bahwa ada sesuatu yang salah dalam penentuan prioritas dan program serta penggunaan anggaran pendidikan," ujar anggota DPR RI Komisi X dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur ini. (may)

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Ibu . saya guru bimbingan konseling.di SMA 15 tahun.smk 10 tahun.pernah membantu mengajar bidang studi sejarah.terakhir tahun 2017 jam pelajaran sejarah dikurangi. Pertanyaan adalah kenapa?

  2. Halo kak hetifah. Saya murid dari Sma muhammadiyah tanah grogot kak.Nama saya Dea Andriyani, Saya harap saya lolos dalam pendaftaran beasiswa pip untuk daerah paser. Karena dengan adanya Beasiswa ini sangat sangat sangat membantu untuk membayar spp saya Yang sudah telat 6 bulan🙏🙏 terima kasih kak

Lihat semua aspirasi