Hetifah: “Sekarang ini Mana Ada Ukuran Seorang Anggota DPR Telah Bekerja Dengan Baik?”

Ketika anggota DPR RI didera aneka cercaan sampai pada titik nadir yang paling bawah, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP mencoba konsisten dengan sikapnya. Tidak resisten, tidak pula mengkritik balik cercaan-cercaan tersebut. Ia tahu kritikan dan cercaan itu tidak sepenuhnya benar, tetapi terkadang perlu sebagai cermin maupun motivasi untuk berbuat yang terbaik. Soal gedung baru DPR yang akan dibangun misalnya. Berbagai kritik datang bertubi-tubi pada dirinya. Yang terakhir soal perjalanan ke Jepang dan Korea Selatan dalam rangka studi banding kepramukaan. Oleh mayoritas orang, perjalanan tersebut menghabiskan uang negara yang juga uang rakyat. Hasil studi bandingnya pun tidak sepadan dengan perjalanan tersebut. Bahkan oleh salah satu koleganya di ITB, seharusnya tidak perlu menghabiskan dana ratusan juta, tetapi cukup Rp 17 ribu, yakni goggling di warung internet (warnet). Untunglah Hetifah tetap sabar. Baginya yang terpenting adalah tetap konsisten berjuang di parlemen ini, apalagi ia telah memiliki rencana strategis (Renstra) selama berada di parlemen ini, yakni ingin mereformasi DPR. Dengan reformasi DPR, jelas kritikan-kritikan terhadap kinerja DPR bisa berkurang. Para anggota maupun orang-orang yang berada pada sikap resisten akan semakin lama tergerus. Memang butuh tantangan, tetapi hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi. "Kalau sekarang ini mana ada ukuran seorang anggota DPR telah bekerja dengan baik?" tanya Hetifah. "Padahal beberapa orang anggota banyak yang kinerjanya bagus. Tidak resisten dan punya sikap reformis." Berikut ini interview terakhir anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP dengan wartawan majalah Mimbar Politik Alfons di ruang kerja di gedung Nusantara I. Soal pembangunan gedung yang kamarin sempat diributkan, bagaimana penjelasan Ibu? Prinsipnya begini, apabila anggota DPR itu ingin merepresentasikan sebuah daerah, merepresentasikan kelompok, dan merepresentasikan kaum marjinal, apakah kami tidak boleh dibantu selama bekerja? Sebab, kami butuh tenaga ahli. Saya membayangkan seorang anggota DPR itu membutuhkan lima tenaga ahli dan seorang asisten, karena seorang anggota DPR itu semacam institusi. Dia punya wakil yang ada di Dapil. Idealnya, kita ingin bekerja efektif. Dari kebutuhan-kebutuhan itu, tentu tidak cukup lagi dengan fasilitas yang ada sekarang. Untuk dua orang yang ada di rumah masing-masing anggota saja sudah sangat sempit, apalagi dengan jumlah yang banyak. Sebab, sekarang ini setiap anggota DPR cuma diberi satu tenaga ahli. Sekarang Anda bisa tanya pada tenaga ahli saya seberapa banyak ia bisa membantu saya? Dengan kondisi seorang tenaga ahli, ketika saya minta memuat analisis anggaran saja ia sudah keteteran. Lalu membuat riset data. Saya tentu tidak bisa melakukan sendiri. Tanpa asisten, saya butuh waktu lama sekali untuk menganalisa. Itu awalnya pembangunan gedung DPR. Lalu kalau kita mau lebih sehat, kita tentu harus memiliki kesempatan untuk berolahraga. Dari situlah timbul fitness di gedung baru nantinya. Sebab, tidak punya kesempatan lagi untuk keluar gedung, karena jadwal rapat satu ke rapat lain sudah sangat menyita. Jadi wacana adanya fitness center bukan, karena ingin gagah-gagahan. Tolong jangan lihat kemewahannya, tetapi saya pribadi betul-betul merasakan hampir setahun bekerja di sini, tidak sehat. Pekerjaan betul-betul menyita waktu, tetapi tidak cukup berolahraga. Rapat sampai malam, lalu keesokan harinya datang lagi pagi-pagi. Semua dilakukan di dalam ruang. Itu kalau anggota DPR yang serius bekerja, lho. Kalau dulu sebelum menjadi anggota DPR, saya masih punya kesempatan berada di luar ruangan. Menghirup udara luar. Kalau dari suasana kerja, saya jelas menikmati dunia luar. Misalnya saat saya menjadi peneliti. Makanya saya menikmati sekali pada masa-masa reses, dimana saya turun ke lapangan, ketemu dengan kelompok-kelompok masyarakat. Kalau di sini, kesempatan untuk outdoor sudah jarang. Sebab, rapat-rapat selalu di ruangan berjam-jam. Menurut saya sangat inward looking. Tidak sempat lagi untuk berolahraga. Dan itu tidak sehat. Sementara untuk orang demo saja kita tidak pernah berhubungan langsung dengan mereka, kecuali ada pimpinan yang menjumpai mereka. Kita malahan seperti dipagari. Makanya saya yang sekarang di BURT mencoba merumuskan itu. Seperti yang sedang kami bicarakan, yakni penyaluran aspirasi atas pengaduan masyarakat atau complain handling, sedang menggundang beberapa tenaga ahli untuk memberikan masukan. Konsepnya perlu adanya hotline telepon, perlu ada SMS. Demo tetap boleh dan harus ada tempat. Dalam rancangan gedung baru itu ada tempat untuk demo atau semacam mimbar bebas. Lalu kalau ada temu-tamu daerah. Mereka sering diperlakukan tidak layak juga di sini. Kita kan perlu tempat? Ada semacam resepsionis begitu. Kalau sekarang ini tidak ada. Semua tamu yang datang ke sini diterima oleh Pamdal (keamanan di gedung MPR DPR-pen).Jadi kasihan sekali tamu-tamu itu. Saya pikir dengan kondisi tersebut ini bukan rumah rakyat namanya. Begitu pula untuk lobi. Kalau sekarang kita kan tidak sediakan di DPR. Selama ini rata-rata anggota menggunakan hotel-hotel dalam rangka lobi. Kenapa tidak kita buat saja fasilitas di sini supaya lebih representatif? Dengan adanya ruang lobi mirip hotel, tentu para anggota tidak perlu repot-repot ke hotel-hotel. Ruang komunikasi antartenaga ahli pun begitu.Saat ini tidak ada aula atau saya istilahkan common room untuk mereka saling berkumpul. Coba kalau ada sebuah ruang yang bisa untuk itu, jelas akan berguna. Bolehlah orang melihat gedung sekarang ini sudah bagus. Tetapi menurut pendapat saya, karena saya bandingkan dengan parlemen lain, tidak representatif. Mohon jangan lihat kemewahannya. Jadi keberadaan kolam renang dan spa itu bagaimana bu? Saya tidak pernah mendiskusikan soal kolam renang. Saya tidak tahu darimana muncul ada fasilitas kolam renang dan spa. Yang saya diskusikan adalah tempat olahraga. Kira-kira ya seperti fitness, dimana dalam tempo setengah jam, kita bisa berolahraga. Jadi ketika rehat dari rapat satu ke rapat lain kita bisa melakukan sesuatu untuk kesegaran fisik. Soal biaya yang Rp 1,3 triliun itu. Saya dengar sebetulnya sudah disahkan pada periode lalu? Sebetulnya bukan sudah disahkan. Seperti rumah aspirasi, ada sebuah pemikiran untuk melakukan sesuatu. Kalau punya pemikiran, kan tidak mungkin anggarannya akan dipikirkan pada saat itu. Jadi kita sudah punya estimasi anggaran yang akan dikeluarkan berapa untuk pemikiran tersebut. Kebetulan saya tidak berada di Panja gedung. Saya di Panja rumah aspirasi. Tetapi saya pikir, estimasi biaya itu sudah diperkirakan sebelumnya.Meski begitu, saya paham, ada kesalahpahaman persepsi antara kami di Panja yang sedang merancang dengan publik. Bahkan dengan teman-teman DPR lain pun begitu, masih ada saling salah paham. Sepertinya terjadi masalah komunikasi publik? Memang sangat buruk. Saya akui memang perlu diperbaiki komunikasi publik. Bahkan komunikasi internal kita. Seperti misalnya rumah aspirasi. Kenapa anggota DPR sendiri memplintir ini dan menjadi isu di koran? Saya sebenarnya memahami ini. Ya mana mungkin anggota yang tergabung dalam forum kerjasama DPR RI dan DPD RI Kaltim seperti kami yang menjatuhkan soal rumah aspirasi? Mereka itu berasal dari berbagai partai politik. Ada Demokrat, Golkar, Gerindra, dan lain-lain. Mereka sudah tahu manfaat rumah aspirasi. Banyak orang yang bertanya-tanya apa mungkin berbeda partai bisa bekerjasama? Ternyata mungkin! Rumah aspirasi inilah yang menyatukan kami-kami dari berbagai partai politik. Sebenarnya ini sedang dicoba dijalankan. Dengan adanya dana yang sebetulnya bisa menjalankan program, itu tentu akan semakin baik. Tetapi oleh karena rumah aspirasi sudah diplintir, ya sulit juga. Harusnya seperti inovasi one stop service. Ketika dijalankan dan bagus, bisa dianggat ke forum yang lebih tinggi lagi ke tingkat nasional. Begitu juga dengan rumah aspirasi. Seharusnya forum kerjasama Dapil Kaltim ini bisa menjadi pilot project, dimana ketika berhasil akan bisa dijadikan contoh bagi para anggota dari Dapil lain. Kejadian tersebut saya ibaratkan seperti pepatah, buah sudah busuk sebelum matang. Padahal saya ingin sekali memperbaiki reputasi DPR dan saya ingin membuat reformasi internal. Tetapi belum sepenuhnya berhasil. Pertama, barangkali karena cara saya mengkomunikasikan kurang. Saya sudah mengatakan ini-itu, tetapi orang tetap belum faham. Dengan publik juga begitu. Bagaimana saya bisa mengkomunikasikan gagasan? Ya, paling-paling selama ini saya menulis di website saya. Memang terbatas, meski memang ada beberapa yang membaca dan memberikan tanggapan. Tetapi soal aspirasi ini, DPR sudah mulai akan ada media untuk penyaluran aspirasi. Nanti setiap warga masyarakat bisa mengadukan mengenai berbagai hal lewat internet. Sebelumnya tidak ada. Begitu pula lewat SMS. Semua pengaduan itu harus dianalisa. Tugas Sekretaris Jenderal DPR juga harus menjamin, pengaduan dari masyarakat itu benar-benar direspon. Kalau sekarang ini tidak, hanya membuat statistik. Tahun ini jumlah pengaduan sebanyak sekian ratus, ada sekian demo temannya ini, dan lain-lain. Lalu saya tanya, lalu apa hasilnya? Apa tindak lanjutnya? Sudah ada perubahan belum? Kalau sekarang tidak. Itulah kenapa masyarakat lebih suka langsung ke masing-masing anggota. Menurut warga, siapa tahu kalau lewat anggota langsung bisa mendapat perhatian. Tetapi anggota punya keterbatasan, ya kan? Saya punya cerita, tiba-tiba sejumlah guru honorer tiba-tiba datang ke ruangan saya, padahal mereka bukan dari Dapil saya. Apakah saya tolak? Tentu saya menerima terlebih dahulu. Saya tanya pada mereka, ‘Bapak tidak menghubungi anggota DPR dari Dapil bapak?’ Mereka jawab, ‘Ah, susah. Mereka sekarang sombong-sombong’. Nah, coba kalau ada sebuah forum yang bisa terdiri dari berbagai partai politik dan berbagai Komisi seperti rumah aspirasi, barangkali cerita saya tidak akan terjadi. Sepertinya Ibu serius sekali menjadi wakil rakyat. Ibu terbuka dengan orang lain meski orang tersebut bukan dari Dapil Ibu... Sebagai wakil rakyat harusnya seperti itu. Nah, saya ingin anggota DPR yang serius menjadi wakil rakyat harus juga dilihat. Kalau sekarang ukuran anggota DPR yang serius dan tidak serius itu tidak ada ukuran. Coba sekarang ukurannya gimana? Atas dasar apa kita itu sudah dan selalu mendengarkan aspirasi masyarakat? Setiap anggota itu beda-beda kan? Dan itu tidak ada yang menilai juga. Berat sekali di BURT kalau kita serius menangani itu. Makanya saya serius dan ingin memreformasi internal di DPR ini. Sekali lagi memang tidak mudah, tetapi pasti bisa. Namun saya belajar, bahwa melakukan inovasi dan gagasan itu butuh tantangan. Sebab, problem membuat kebijakan untuk mengukur diri sendiri itu berat. Mereka banyak yang berkomentar,’Wah, nanti kalau kebijakannya seperti itu, nanti kita jadi terlihat jelek’. Menurut saya, kalau membuat kebijakan untuk diri sendiri ada dua hal. Pertama, itu bisa memacu diri kita. Kedua, bisa jadi hanya untuk menyenangkan diri sendiri saja. Selalu ada kompetensi gagasan. Ada yang memang benar ingin mereformasi, ada yang resisten alias tidak mau berubah. Saya selalu bilang, kalau kita resisten, kita akan selalu digempur dari luar. Oleh karena itu saatnya kita tunjukkan diri.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamualaikum wr. wb Yth. Ibu Hetifah Wakil ketua komisi X DPR RI Saya ingin menyuarakan terkait permasalahan di SMK 12 Samarinda terkait dengan pembangunan sarana & prasana sekolah yang sampai saat ini mandek di tempat sehingga belum bisa secara maksimal untuk sekolah melaksanakan proses praktikum ataupun pembelajaran biasa dikarenakan kondisi saat ini sekolah masih ada sebagian gedung yang menumpang di SMP 28 Samarinda terutama untuk workahop & bangunan laboratorium jurusan. Untuk gedung baru sekolah yang baru sudah terbangun sekitar 40%. Dikarenakan masih adanya permasalahan terkait dokumen kepemilikan tanah yang masih belum jelas sehingga sangat sulit bagi kami untuk mendapatkan bantuan untuk pembangunan gedung baru di lokasi yang sekarang. Sekiranya ibu berkenan berkunjung ke Sekolah kami untuk melihat situasi & kondisi saat ini di SMK Negeri 12 Samarinda. Semoga ibu membaca aspirasi dari saya sekian 🙏🙏. Terimaksih ibu sudah bersedia menampung aspirasi saya.

  2. Ini anak saya dapat pip tahun 2020...karna baru tahu kalau dapat di tahun 2022(pihak sekolah gk memberi tahu kalo dpt)...sdh diurus ternyata dana udah hangus...apa untuk selanjutnya bisa dapat lagi?

  3. thanks for your information, dont forget to visit airlangga university website https://www.unair.ac.id/2022/07/14/summer-program-wuacd-unair-bahas-strategi-pemberdayaan-perempuan-di-indonesia-dan-filipina/

Lihat semua aspirasi