Kunjungan ke Perbatasan: Siswa Tak Punya Buku, Guru Mengonsumsi Mi Instan

Murid-murid di SMA 1 Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan,Kalimantan Timur, tidak memiliki buku pelajaran.Mereka harus menyalin isi buku yang ditulis sang guru di papan tulis. “Buku pelajaran itu hanya dimiliki seorang guru,murid sama sekali tidak memiliki buku pegangan jadi mereka benar-benar menyalin di papan tulis layaknya sekolah era ’80-an,”kata anggota Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian,yang mengaku baru pulang reses ke wilayah perbatasan,Minggu (6/11) di Balikpapan. Menurut Hetifah,kondisi seperti itu tidak hanya dialami satu kelas tapi semua murid kelas III yang akan mengikuti ujian akhir. “Mereka mengeluh dan katanya capai harus menyalin semua pelajar,”ujar anggota Fraksi Golkar ini. Setelah ditelusuri,kata Hetifah,ternyata buku-buku pelajaran itu yang merupakan bantuan operasional sekolah (BOS) menumpuk di Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan.Selain soal buku, ditemukan juga ada bantuan dari pusat untuk pembangunan ruang kelas di SMA 1 Sebatik,Kabupaten Nunukan sebesar Rp341 juta tidak digunakan dan akhirnya dikembalikan. “Alasannya dana tersebut tidak bisa membangun tiga ruang karena biayanya.Harga semen per saknya saja mencapai Rp600.000,”ungkap Hetifah. Menurut Hetifah,dari hasil kunjungan tiga hari ke perbatasan,juga banyak ditemukan guru-guru yang tidak memperoleh tunjangan khusus sehingga mereka benar-benar mempertanyakan keseriusan pemerintah terhadap nasib pendidikan masyarakat perbatasan.“Ada 400 guru di Kabupaten Nunukan yang bertugas di perbatasan.Nah,dari pusat ke provinsi hanya berikan tunjangan khusus kepada delapan guru,tapi hanya dua orang yang menerima. Akhirnya yadikembalikan tunjangan khusus itu,” paparnya. Akibat kesenjangan ini, guru-guru tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup layaknya guru-guru lain yang mendapat tunjangan khusus. “Kita temukan banyak guruguru yang kesehariannya mengonsumsi mi instan dan lauk kangkung,”tandasnya. Kabag Humas Pemkab Nunukan Hasan Basri mengakui penumpukan buku karena belum ada anggaran untuk mengirimkannya.“Ya, benar,memang seperti itu karena tidak ada anggarannya,”ujarnya. Selain di Kabupaten Nunukan,Hetifah dan rombongan juga mengunjungi sekolah di negara bagian Sabah,Malaysia.Di negara itu, sebanyak 48.000 anak Indonesia tidak memperoleh pendidikan yang layak. “48.000 anak itu merupakan anak-anak dari tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia,”akunya.   sumber:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/441961/
AMIR SYARIFUDDIN Balikpapan

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Ibu . saya guru bimbingan konseling.di SMA 15 tahun.smk 10 tahun.pernah membantu mengajar bidang studi sejarah.terakhir tahun 2017 jam pelajaran sejarah dikurangi. Pertanyaan adalah kenapa?

  2. Halo kak hetifah. Saya murid dari Sma muhammadiyah tanah grogot kak.Nama saya Dea Andriyani, Saya harap saya lolos dalam pendaftaran beasiswa pip untuk daerah paser. Karena dengan adanya Beasiswa ini sangat sangat sangat membantu untuk membayar spp saya Yang sudah telat 6 bulan🙏🙏 terima kasih kak

Lihat semua aspirasi