Minat Belajar Calon Mahasiswa ke Luar Negeri Masih Cukup Tinggi

Setidaknya kesimpulan tersebut dikemukakan oleh Mimi Ang, salah seorang konsultan manager pendidikan. Setiap tahun, terjadi lonjakan peminat antara 30-40%. Mimi tak menyebut alasan calon mahasiswa yang lebih suka memilih studi di luar negeri, namun yang pasti, program studi yang paling banyak peminatnya adalah bisnis, teknologi informasi, dan hospitality management. Salain itu, peminat program studi pangan, teknik, dan komunikasi juga banyak. Mutu pendidikan agaknya menjadi tolak ukur calon mahasiswa lebih suka memilih studi di luar negeri. Di luar negeri, mutu pendidikannya jauh lebih baik. Menurut Mimi, negara yang banyak menjadi incaran calon mahasiswa adalah Australia dan negara Barat lain. Bagi mereka yang lebih memilih studi ke negeri, Mimi menyarangkan agar melalui jasa konsultasi pendidikan. Selain hemat biaya, juga tenaga. Selain itu, tidak semua agen menjalin kerjasama dengan negara-negara yang akan menjadi lokasi studi. Ada agen yang hanya menjalin kerjasama khusus di Australia, Singapura, dan Malaysia. Ada pula agen yang hanya menjalin universitas di 10 negara, antara lain universitas di Amerika Serikat, Kanada, Malaysia, dan Singapura. Tentu tak semua calon mahasiswa tertarik berguru ke luar negeri, sebagian besar masih tetap lebih suka kuliah di tanah air. Hebatnya ada satu program studi yang menjadi favorit calon mahasiswa, sehingga setiap tahun selalu membludak. Di Universitas Pancasila, misalnya. Fakultas farmasi ternyata menjadi program studi favorit, sampai-sampai tahun 2010 ini Universitas Pancasila terpaksa melakukan pembatasan calon mahasiswa. Fakultas farmasi sudah 44 tahun berkiprah sejak didirikan Universitas Pancasila sejak tahun 1966. Sebagaimana dikutip Media Indonesia (Rabu/23/11), dalam 10 tahun terakhir ini, animo calon mahasiswa meningkat tajam, karena lulusannya banyak terserap masuk kerja di industri farmasi, obat-obatan, maupun apoteker. Namun ada program studi yang saat ini “kritis”, yakni pertanian. Bahkan disinyalir oleh pengamat pendidikan Utomo Dananjaya, ada 175 program studi pertanian di sejumlah perguruan tinggi (PT) ditutup. Hal ini jelas sangat merisaukan, mengingat negara kita masih dianggap sebagai negara agraris. Menurut Utomo, kemungkinan ditutupnya program studi ini karena prospek pekerjaan lulusan program pertanian semakin berkurang dan calon mahasiswanya takut tidak mendapatkan pekerjaan. “Harusnya pendidikan kita kontekstual atau contextual learning,” papar Utomo. “Orang yang di pantai belajar menjadi nelayan, di gunung belajar tentang bercocok tanam sayuran dan mengelola peternakan, di sawah belajar pertanian.” Namun sayang, saat ini justru banyak masyarakat yang tinggal di daerah pertanian menginginkan anak-anak mereka untuk bekerja di kantoran atau menjadi pegawai negeri. Inilah yang pada akhirnya mengancam sifat agraris yang sebetulnya dimiliki oleh negara kita.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamuallaikum..Alhamdulillah sy mempunyai ank2 yg pintar2 tp dalam pembyran uang sekolah km kurng mampu..sampai sekrng ank2 sy blm pernh dpt bntuan/beasiswa u.meringankn uang sekolahx,, apakah ank2 sy bisa menerima bntuan dr ibu..?

  2. Assalamuallaikum..maaf ibu anak2 sy Alhamdulillah anak2 yg pintr ibu dn km dr keluarga yg kurang mampu dlm masalah pembyran uang sekolah semester..smpai skrng anak2 sy blm prnh dpt bantuan/beasiswa dr mn pun u. meringankn pembyran uang sekolah mereka..apakh ank2 sy bisa mendptkn bntuan dr ibu..?

  3. Assalamualaikum bunda, Ada yg ingin sy tnyakan, dan ingin cerita sedikit, kmrn sore sy dapat formulir dari pak RT sy, katanya formulir beasiswa untuk anak2 sekolah, ap programnya itu benar ada? Karena di formulir itu tertera nama bunda🙏 terima kasih bunda🙏

Lihat semua aspirasi