Pejuang Utama Pembangunan Generasi Unggul

Setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati Hari Ibu. Penetapan hari ini sebenarnya mengacu pada pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I yang dimulai pada tanggal 22 Desember 1928. Dalam kongres perempuan pertama Indonesia tersebut, lebih dari 600 perempuan dari berbagai latar belakang sosial, budaya, agama, dan organisasi berkumpul untuk membahas perubahan peran perempuan, salah satunya dalam pergerakan nasional.

Hari ini, 22 Desember 2019, kita memperingati Hari Ibu dalam kondisi yang sudah jauh berbeda. Bangsa kita sudah merdeka, tidak lagi berada di bawah penjajahan asing. Tantangan-tantangan yang kita hadapi sebagai sebuah bangsa sudah jauh berbeda, dan tentunya, peran dan perjuangan perempuan juga menjadi jauh berbeda.

Pergerakan perempuan saat ini sudah menyebar ke berbagai aspek, mulai dari ekonomi, politik, sosial, pendidikan, hingga ke ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa dekade terakhir, kaum perempuan juga sudah berhasil membuat capaian-capaian yang progresif. Sebagai contoh, angka partisipasi pendidikan perempuan saat ini sudah bisa dibilang sama dengan laki-laki.

Terlepas dari kemajuan kaum perempuan di segala bidang, perempuan masih menjalankan peran utamanya sebagai Ibu. Peran ini tidak kalah pentingnya dengan peran-peran wanita lainnya, jika tidak bisa dibilang lebih penting. Ibu merupakan pendidik pertama dan utama generasi bangsa. Jika visi kita kedepan sebagai bangsa adalah menciptakan sumber daya manusia yang unggul, maka kaum ibu adalah pejuang utamanya.

Sejak pertama kali anak terlahir ke dunia, Ibulah yang biasanya menghabiskan paling banyak waktu bersama. Usia 0-5 tahun pertama kehidupan anak  merupakan masa-masa keemasan atau golden age, dimana 80% kecerdasan anak terbentuk disini. Di masa inilah anak belajar untuk berjalan, bicara, berpikir, berhitung, mengingat, dan hal-hal penting lainya, dimana orangtua, terutama Ibu menjadi pihak utama yang memberikan pengajaran dan pendampingan.

Di masa-masa ini, Ibu harus menyadari pentingnya memberikan pola asuh yang baik. Secara fisik, penuhi nutrisi anak agar mendapatkan gizi yang cukup dan terhindar dari masalah stunting. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting atau kerdil merupakan suatu kondisi di mana anak mengalami gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini dapat berakibat pada rendahnya kemampuan psikomotorik, kognitif, dan tingginya resiko penyakit degeneratif.

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menyebutkan pada 2018  terdapat 13,8% anak usia di bawah lima tahun dengan gizi kurang dan 3,9% gizi buruk. Hal ini berarti,  dari estimasi populasi balita sebesar 23,8 juta jiwa , terdapat 3,2 juta anak dengan gizi kurang dan 928 ribu mengalami gizi buruk. Angka ini hanya mengalami sedikit sekali perbaikan sejak 5 tahun sebelumnya dimana 13,9% balita mengalami gizi kurang dan 5,7% mengalami gizi buruk. Jika kondisi ini terus dibiarkan terjadi dalam skala nasional, tentu hal ini akan menjadi ancaman bagi kita dalam mencapai pembangunan SDM Indonesia Unggul.

Selain memperhatikan masalah fisik, Ibu juga harus memperhatikan kecerdasan anak. Pada usia-usia dini, anak sangat mudah menyerap dan mempelajari hal baru. Manfaatkanlah usia-usia tersebut untuk mengajarkan banyak hal, seperti membaca, berhitung, bermain puzzle, dan lain-lain. Hal ini akan merangsang cara berpikir anak. Namun ingat, hal-hal ini haruslah dilakukan secara menyenangkan, tanpa membuat anak tertekan. Sekali-kali, bacakan dongeng sebelum tidur atau ajak Ia bernyanyi.

Yang terakhir yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah karakter. Pada usia dini, anak sangat mudah mengambil nilai-nilai yang diserap dari sekitarnya. Apa yang dilakukan orang-orang terdekatnya akan mudah ditiru, dan dianggap sebagai sesuatu yang benar untuk dilakukan. Disini, tanggung jawab orangtua sangat besar untuk menjadi tauladan yang baik bagi anak. Lakukanlah perbuatan yang baik, dan katakanlah kata-kata yang baik. Ini akan diserap secara bawah sadar oleh anak, dan bertahan hingga Ia dewasa.

Tanamkan pendidikan pancasila sejak dini. Nilai-nilai luhur yang tercermin dalam 5 sila pancasila seperti nilai-nilai Ketuhanan, gotong royong, dan toleransi tentu tidak bisa diajarkan kepada anak hanya dengan mendiktekannya. Berilah contoh pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ajari anak bekerja bakti di lingkungan rumah. Ajak anak menjenguk temannya yang sakit. Fasilitasi anak untuk bermain dengan teman-teman yang berbeda suku dan agama dengannya.

Ibu-Ibu sekalian, sadarilah betapa vitalnya peran kita dalam keberjalanan bangsa dan negara ini. Keberhasilan Ibu-ibu dalam menjalankan peran pendidik dapat mengantarkan keberhasilan kita sebagai suatu bangsa yang maju, berdaulat, adil dan makmur. Sebaliknya, jika para Ibu tidak terberdayakan untuk menjalankan perannya tersebut secara maksimal, masa depan bangsa ini akan menjadi terancam.

Oleh karena itu, marilah kita semua sama-sama terus meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi Ibu-Ibu yang lebih baik. Di tangan kita terletak masa depan bangsa. Perjuangan kita saat ini bukanlah melawan penjajahan, namun melawan kebodohan dan ketertinggalan.  Dan Ibu, merupakan garda terdepan perjuangan.

Selamat hari Ibu dan selamat berjuang.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Ibu . saya guru bimbingan konseling.di SMA 15 tahun.smk 10 tahun.pernah membantu mengajar bidang studi sejarah.terakhir tahun 2017 jam pelajaran sejarah dikurangi. Pertanyaan adalah kenapa?

  2. Halo kak hetifah. Saya murid dari Sma muhammadiyah tanah grogot kak.Nama saya Dea Andriyani, Saya harap saya lolos dalam pendaftaran beasiswa pip untuk daerah paser. Karena dengan adanya Beasiswa ini sangat sangat sangat membantu untuk membayar spp saya Yang sudah telat 6 bulan๐Ÿ™๐Ÿ™ terima kasih kak

Lihat semua aspirasi