Pesta Budaya Erau: Tradisi Lokal untuk Merajut Harmoni Sosial

Matahari begitu cerah memancarkan sinarnya. Buat sebagian orang, suasana seperti itu bisa membuat malas untuk berada di bawah terik matahari. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi 1.500 orang dari 18 kontingen dari Kutai Kalimantan (Kukar). Mereka nampak tetap semangat mengikuti pesta tahunan bernama Pesta Budaya Erau ini. Pesta yang baru dibuka Sabtu (11/07) kemarin ini menampilkan keahlian dan keterampilan atraksi dari budaya masing-masing, di antaranya, dari suku Bali, suku Sasak dari NTB, Batak, Toraja, suku Banjar, juga suku Jawa. Pada pembukaan Sabtu, terdapat kirab budaya yang diikuti kontingen yang berasal dari Kaltim atau yang oleh masyarakat Kutai disebut “7 Benua”, seperti Balikpapan, Kutai Timur, Kutai Barat, Samarinda, Bontang, dan Penajam Paser Utara. “Pesta budaya ini luar biasa dan patut dipertahankan,” komentar anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah, MPP yang pada pembukaan Sabtu lalu berada di tengah-tengah penonton kirab. Menurut Hetifah, Pesta Budaya Erau ini menjadi momen penting dalam pengembangan wisata di Kaltim dan juga diharapkan memberikan dampak wisata di Berau. Diharapkan wisatawan-wisatawan akan datang dan melihat potensi yang luar biasa. Bukan hanya ingin melihat bagaimana potensi wisata budaya yang ada di Kukar. Tetapi, wisatawan juga ingin melihat secara keseluruhan potensi wisata yang ada di Kaltim, termasuk wisata bahari di daerah ini. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kaltim, juga tentu memanfaatkan Erau untuk “menjual” potensi wisata Kaltim. Kalau Erau menjadi pintu masuk di wilayah selatan, tentu Berau berharap juga bisa menjadikan pintu masuk di wilayah utara bagi wisatawan mancanegara dan domestik yang ingin menikmati keindahan alam. Khususnya keindahan bawah laut. Kirap Sabtu kemarin dimulai pukul 10.00 Wita. Namun para peserta sudah berkumpul di halaman kantor Bupati Kukar sejak pukul 08.00 Wita. Kirab yang menempuh jarak 2 kilometer ini diawali dari Kantor Bupati Kukar di Jalan Wolter Mangonsidi dan berakhir di panggung kehormatan depan Bank Kaltim di Jalan KH Akhmad Muksin. Para penari dan peserta kirab ini dengan semangat memamerkan budaya mereka. Salah satu tari yang menarik perhatian adalah penampilan paguyuban kesenian Reog Ponorogo Karyo Singo Yudho. Reog ini membuat para warga takjub dan terhibur. “Saya berharap Pesta Budaya ini akan berdampak positif, selain terhadap pariwisata lokal, tetapi juga sebagai media komunikasi,” papar Hetifah. Lanjut Hetifah, media komunikasi yang dimaksud tidak lain adalah hubungan harmonis antara para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh budaya, rakyat, dan insan yang terkait dalam pengelolaan kota. “Saya menyebutnya dengan istilah harmoni sosial,” kata Hetifah. “Bahwa dengan komunikasi yang baik, tentu akan tercipta keharmonisan sosial, sehingga menyebabkan iklim demokrasi yang kondusif.” Pesta Budaya Erau ini menurut rencana akan berlangsung sampai dengan tanggal 18 Juli mendatang. Selain kirab, ada beberapa perlombaan olahraga tradisional, yakni lomba perahu naga, lomba dagongan, lomba gasing, dan lomba cerdas-cermas budaya. Di antara perlombaan, juga terdapat Expo Erau dan Pasar Rakyat yang bertempat di parkir Stadion Madya Tenggarong Seberang.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Berikut usulan saya (Muhammad Munadi salah satu Dosen Manajemen Pendidikan di IAIN Surakarta ) berkait dengan Pendidikan: 1. Proporsi Bidik Misi (KIP Kuliah) mestinya lebih banyak diberikan kepada mahasiswa pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri/Swasta (PTKN/PTKS) di bawah koordinasi Kementerian Agama dikarenakan jumlah mahasiswa kurang mampu lebih banyak (pangsa pasar PTKN/PTKS adalah calon mahasiswa dari orang tua berstatus ekonomi ke bawah dibandingkan ekonomi memengah ke atas) dibandingkan mahasiswa pada Perguruan Tinggi Negeri/Swasta (PTN/PTS) di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset dan Teknologi. 2. Masih ada diskriminasi dilakukan pejabat daerah terhadap stakeholder internal Madrasah Pra Sekolah, Dasar dan Menengah (RA, MI, MTs, dan MA) - baik dari sisi prestasi siswa, pendidik, tenaga kependidikan, sarana prasarana serta anggaran. 3. Orientasi perubahan PTN termasuk PTKN dari Satker ke BLU dan PTN-BH perlu dikaji ulang dikarenakan berlawanan secara substansial atas UUD 1945 dan Pancasila. Terutama PTN/PTKN yang memiliki program studi ilmu dasar (sosial, alam, maupun agama). Prodi ilmu dasar ini harus dilindungi dikarenakan ilmu-ilmu inilah yang menyokong pengembangan ilmu terapan. 4. Untuk mengurangi double anggaran, diperlukan penyatuan kegiatan berkait pendidikan antara PTKN di bawah koordinasi Kementerian Agama dan PTN di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset dan Teknologi dari jenjang Pra Sekolah/Madrasah sampai PT: a. Seleksi Mahasiswa Baru secara Nasional b. Kompetisi/Lomba Siswa/Mahasiswa (sain, seni, agama, olah raga, dll) Demikian usulan saya.

  2. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Berikut usulan saya (Muhammad Munadi salah satu Dosen Manajemen Pendidikan di IAIN Surakarta ) berkait dengan Pendidikan: 1. Proporsi Bidik Misi (KIP Kuliah) mestinya lebih banyak diberikan kepada mahasiswa pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri/Swasta (PTKN/PTKS) di bawah koordinasi Kementerian Agama dikarenakan jumlah mahasiswa kurang mampu lebih banyak (pangsa pasar PTKN/PTKS adalah calon mahasiswa dari orang tua berstatus ekonomi ke bawah dibandingkan ekonomi memengah ke atas) dibandingkan mahasiswa pada Perguruan Tinggi Negeri/Swasta (PTN/PTS) di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset dan Teknologi. 2. Masih ada diskriminasi dilakukan pejabat daerah terhadap stakeholder internal Madrasah Pra Sekolah, Dasar dan Menengah (RA, MI, MTs, dan MA) - baik dari sisi prestasi siswa, pendidik, tenaga kependidikan, sarana prasarana serta anggaran. 3. Orientasi perubahan PTN termasuk PTKN dari Satker ke BLU dan PTN perlu dikaji ulang dikarenakan berlawanan secara substansial atas UUD 1945 dan Pancasila. Terutama PTN/PTKN yang memiliki program studi ilmu dasar (sosial, alam, maupun agama). Prodi ilmu dasar ini harus dilindungi dikarenakan ilmu-ilmu inilah yang menyokong pengembangan ilmu terapan. 4. Untuk mengurangi double anggaran, diperlukan penyatuan kegiatan berkait pendidikan antara PTKN di bawah koordinasi Kementerian Agama dan PTN di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset dan Teknologi dari jenjang Pra Sekolah/Madrasah sampai PT: a. Seleksi Mahasiswa Baru secara Nasional b. Kompetisi/Lomba Siswa/Mahasiswa (sain, seni, agama, olah raga, dll) Demikian usulan saya.

  3. assallamualikum ibu hetifah, selamat pagi, semoga sehat selalu . perkenalkan bu saya Rezkita Bagas Prakasih, anak muda yang berasal dari Balikpapan yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Malang, bulan maret kemarin dengan waktu tempuh 3,5 tahun. Saya juga pernah melakukan kunjungan kerja di DPR RI pada tahun 2019 lalu. Saya juga memiliki pengalaman magang di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan selama 2 bulan lamanya. Saya memiliki keinginan untuk bekerja di bidang pemerintahan. Sebelumnya, saya mohon izin ingin bertanya sedikit cara dan tips untuk mendaftar menjadi tenaga ahli di DPR RI bagaimana ya bu? apakah ada persyaratan awal yg harus di lengkapi atau ada kualifikasi tersendiri mas? 🙏 mohon pencerahannya, terimakasih ☺️ Wassallamualaikum warahmatullohi wabarakatuh

Lihat semua aspirasi