Sebaiknya Cukup Satu Paket

Artikel Dipublikasikan Pada 18 June 2008

Bandung, Kompas – Calon perseorangan dalam pemilihan wali kota Bandung sebaiknya hanya satu paket. Hal itu untuk mencegah perpecahan massa pendukung dan memudahkan calon perseorangan dalam menghadapi calon dari partai politik.

“Seluruh kekuatan pendukung calon perseorangan harus berkumpul dan membicarakan masalah pemilihan wali kota Bandung. Harapannya, hanya muncul sepasang calon wali kota dan wakil wali kota. Kalau banyak calon perseorangan, maka memudahkan calon dari partai politik memenangi pilkada,” kata Promotor Bandung Geunah Bambang Boy Gunawan dalam diskusi tentang permasalahan Kota Bandung dan upaya penanggulangannya yang diadakan Bandung Geunah dan Jaringan Nusantara di Bandung, Sabtu (10/5).

Saat ini setidaknya ada 18 pasangan calon perseorangan yang mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung. Jumlah itu dinilai terlalu banyak dan akan semakin sulit bagi setiap pasangan calon mendapatkan dukungan 63.000 orang atau 3 persen dari jumlah penduduk Kota Bandung.

Menurut anggota Jaringan Nusantara, Zein Wargadibrata, untuk melawan kekuatan partai politik, semua pasangan calon perseorangan yang ada harus rela menanggalkan ego dan ambisi pribadi. “Untuk itu, perlu ada pembicaraan lebih lanjut. Mereka harus bersatu dan dipilih cukup sepasang,” ujar Zein.

Bambang menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan menghubungi pangusung calon perseorangan. Selanjutnya digelar semacam konvensi yang memilih sepasang bakal calon wali kota dan wakil wali kota Bandung. Peserta yang akan dipilih dalam konvensi ini tak lain adalah para bakal calon wali kota dan wakil wali kota yang selama ini sudah muncul.

Ingin maju

Bambang mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah orang yang layak diusulkan sebagai wali kota dan wakil wali kota. Mereka adalah Dewan Pakar Dewan Pimpinan Pusat Jaringan Nusantara sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Bernardus Djonoputro dan Direktur Eksekutif Bandung Trust Advisory Group (B-Trust) Hetifah Sj Sumarto.

“Beberapa teman saya memang mengusulkan agar saya maju menjadi calon wali kota Bandung. Kalau saya diminta masyarakat, saya mau saja menyumbangkan kompetensi saya (menjadi wali kota Bandung),” kata Bernardus.

Hetifah pun tak keberatan dicalonkan menjadi calon wakil wali kota. “Kami semua bisa menjadi calon alternatif,” ujarnya. Sejumlah kendala

Secara terpisah, Ketua Forum Pengusung Calon Independen (FPCI) Deni Jasmara menyambut baik usulan penyatuan kekuatan calon perseorangan. Namun, usulan itu terbentur eberapa kendala.

Pertama, tidak semua pengusung calon perseorangan akan rela memberikan dukungannya kepada calon terpilih. Sebab, banyak juga pengusung calon perseorangan yang berorientasi pada kekuasaan. “FPCI dari dulu sudah menawarkan agar calon perseorangan cukup satu,” ujarnya.

Kedua, saat ini proses pendulangan dukungan bagi calon perseorangan tengah berjalan. Tidak mudah mengalihkan dukungan ke pasangan lain karena terkait dengan ketentuan administratif. Jangan-jangan dukungan nyata tersebut malah hangus karena tidak sesuai aturan administrasi.

Deni mengaku FPCI telah dihubungi beberapa pihak yang menginginkan cukup satu calon perseorangan. Namun, sampai sekarang belum menemukan formulasi yang cocok. “Masalahnya, ya, itu tadi, masih sulit menghilangkan motivasi untuk berkuasa,” kata Deni.

Sementara itu, M Sidarta, Koordinator Jaringan dan Publikasi pasangan Syinar-Arry, mengatakan, pada dasarnya sepakat jika calon perseorangan hanya sepasang.

Sebab, kekuatan partai politik terlalu kuat untuk dilawan. Apalagi bila kekuatan pendukung calon perseorangan tercerai-berai. Namun, sulit untuk menyatukan visi pendukung calon perseorangan. (MHF)

Silahkan Tinggalkan Komentar

Silahkan gunakan kolom komentar di bawah, atau lacak balik. Anda juga bisa mengikuti alur komentar berlangganan umpan balik komentar ini lewat RSS.