Hetifah dan Ani SoetjiptoBalikpapan, 20 April -- Hari Kartini adalah momen baik untuk melakukan refleksi sampai dimanakah kemajuan yang telah dicapai kaum perempuan. Salah satu bidang dimana peran perempuan sangat diharapkan adalah di dunia politik. Arena politik yang lebih terbuka memotivasi banyak perempuan untuk berkiprah di dunia politik dengan menominasikan diri dalam pemilihan anggota legislatif dan juga pemilihan kepala daerah. Sebagian perempuan mengalami kegagalan dalam proses kontestasi, namun sebagian lain mampu menembus rintangan yang ada, sehingga keterwakilan perempuan terbukti mengalami kenaikan.
Demikian diantaranya yang terungkap dalam peluncuran buku “Politik Harapan: Perjalanan Politik Perempuan Indonesia Pasca Reformasi” karya Ani Soetjipto di kampus UI, hari ini (20/4). Ani mengatakan bahwa terbukanya akses dan peluang perempuan di arena publik di era reformasi sekarang ini sudah meningkatkan keterwakilan perempuan dalam dunia politik. Namun banyaknya perempuan yang berkiprah di politik ternyata belum mampu menawarkan kultur politik yang berbeda dan menunjukkan diri sebagai agen perubahan.
Hasil Pemilu 2009 menunjukkan adanya peningkatan jumlah perempuan terpilih di DPRD maupun DPR RI. Di DPRD tingkat kabupaten kota, representasi perempuan mencapai 12%, di DPRD provinsi mencapai 16%, dan DPR RI bahkan mencapai 18%.
Ani menambahkan, kebanyakan perempuan yang terpilih dan berkiprah di dunia politik formal saat ini berlatar belakang dari dinasti politik atau figur populer seperti artis. Mekanisme perekrutan diwarnai oleh aroma nepotisme ditambah dengan proses kaderisasi yang tidak berjalan selayaknya menyebabkan banyak perempuan yang terpilih bukan mereka yang betul-betul matang ketika memasuki dunia politik.
Kondisi di Kaltim
Di Provinsi Kalimantan Timur sendiri, jumlah perempuan di DPRD pada Pemilu 2009 mencapai 21%, atau mengalami kenaikan yang cukup berarti jika dibandingkan periode 2004 yaitu 15%.
Menurut Hetifah, anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur mengatakan, realitas tersebut tentu dapat diabnggakan. “Namun, kita pun selayaknya bertanya, bagaimanakah kiprah politisi perempuan dalam dunia politik saat ini?” ujar Hetifah berefleksi.
Hetifah menyatakan sebetulnya kapasitas bukanlah masalah utama, karena kebanyakan perempuan yang masuk ke DPR RI memiliki gelar sarjana dan pasca sarjana. Namun demikian, mayoritas anggota DPR RI perempuan adalah orang baru dalam dunia legislatif. Hanya kurang dari 30% yang sebelumnya berpengalaman di dunia legislatif, sementara 70% sisanya sama sekali belum berpengalaman. “Oleh sebab itu, tantangan utama bagi perempuan adalah kemauannya untuk belajar dan secara cepat meningkatkan kapasitas diri dan kematangan dalam dunia politik”.
Lebih jauh, Hetifah mengatakan bahwa perempuan di dunia politik telah mencoba memberikan gagasan baru dan perspektif yang berbeda di tengah-tengah oligarki politik yang mewarnai praktik politik di Indonesia. Dirinya memang mengakui ada situasi yang kurang sehat dalam proses politik seperti maraknya budaya pragmatisme, politik uang, dan politik dinasti. “Situasi ini adalah tantangan bagi perempuan. Kami harus berupaya menjadi kekuatan pembaharu yang bisa dipercaya. Jangan sampai perempuan ikut-ikutan melanggengkan politik transaksional dan oligarki politik” tuturnya.
Sementara itu para perempuan miskin, tenaga kerja wanita yang menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri , buruh-buruh pabrik, pekerja sektor informal, dan perempuan marjinal lainnya tetap berharap jeritan mereka bisa disalurkan melalui wakil-wakilnya sesama perempuan. “Para perempuan politisi harus membantu mewujudkan mimpi mereka akan adanya keadilan dan kesetaraan dalam kebijakan, kesempatan dan perlakukan,” tegas Hetifah.
Mampukah perempuan menembus batas-batas oligarki politik yang berlapis-lapis? Selamat Hari Kartini.
sumber: http://kaltim.tribunnews.com/2011/04/20/hetifah-perempuan-di-tengah-oligarki-politik
Assalamu'alaikum. Ingin mengusulkan Ada baiknya penerima PIP di data ulang . Krn tiap tahun perekonomian bergerak. Ada yg sdh mampu tapi masih mendpatkn PIP. Sedangkan yg benar benar membutuhkan tdk dapat bantuan.
Assalamualaikum Bu hertifah sy bertanya apakah anak Siswa yg sekolah di Kaltim tapi KK dn KTP ortu ya masih di Jawatengah karena ortu ya kerja di Kaltim setahun sekali pulang ke Jawa kategori penerima PIP kah Bu karena ada anak siswa lain warga Kaltim dapet Bu ???? mohon penjelasanya
Semoga bisa bermanfaat bagi warga yg penerima manfaat????
Assalamu'alaikum. Ingin mengusulkan Ada baiknya penerima PIP di data ulang . Krn tiap tahun perekonomian bergerak. Ada yg sdh mampu tapi masih mendpatkn PIP. Sedangkan yg benar benar membutuhkan tdk dapat bantuan.
Assalamualaikum Bu hertifah sy bertanya apakah anak Siswa yg sekolah di Kaltim tapi KK dn KTP ortu ya masih di Jawatengah karena ortu ya kerja di Kaltim setahun sekali pulang ke Jawa kategori penerima PIP kah Bu karena ada anak siswa lain warga Kaltim dapet Bu ???? mohon penjelasanya
Semoga bisa bermanfaat bagi warga yg penerima manfaat????