Kaltim
Hetifah Mengecam Keras Aksi Premanisme Terhadap Aktivis Lingkungan
SAMARINDA - Sembilan orang dengan tiga mobil datang menyerang kantor aktivis lingkungan, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, di Jalan Suwandi 5, Kelurahan Gunung Kelua, Samarinda Ulu. Penyerangan pada Senin (25/1) sekitar pukul 21.30 Wita berlangsung ketika tujuh aktivis sedang bekerja di sekretariat.
Kepada Kaltim Post, seorang aktivis mengatakan para gerombolan tak dikenal menutup jalan masuk ke sekretariat sebelum beraksi. Dia menduga, penyerangan sudah terencana. Hampir semua penyerang membawa senjata tajam. “Satu atau dua orang membawa senjata api,” terang aktivis yang meminta namanya dirahasiakan atas alasan keamanan.
Dari pantauan media ini, aktivitas di Kantor Jatam Kaltim tak begitu banyak, kemarin (27/1). Pintu kantor tertutup sementara beberapa motor terparkir di depan rumah. Sejumlah warga mengaku telah mendengar peristiwa penyerangan. Amrul (31), yang tinggal tak jauh dari sekretariat Jatam, mengaku bahwa dirinya melintas di Jalan Suwandi 5 pada saat penyerangan.
“Saya lihat ramai. Tidak tahu jelas apa yang terjadi,” jelasnya. Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini juga tak melihat orang yang membawa senjata.
Selain Amrul, seorang pria paruh baya yang enggan menyebutkan nama mengaku mendengar suara teriakan saat kejadian. Pria itu mengatakan dirinya tak berani keluar rumah. Lagi pula, di kawasan itu, tak banyak aktivitas warga pada malam hari. Pukul 20.00 Wita saja sudah sepi.
Koordinator Nasional Jatam Hendrik Siregar mengatakan, penyerangan Sekretariat Jatam Kaltim ditengarai berhubungan erat dengan kasus lubang tambang. Dia tak membantah Jatam sibuk mengadvokasi kasus yang menyebabkan 19 nyawa melayang di kolam bekas tambang di Samarinda dan Kutai Kartanegara.
Menurutnya, sanksi penghentian operasi sementara kepada 11 perusahaan turut membuka kemungkinan motif penyerangan. Kemarin, elemen aktivis nasional telah melaporkan peristiwa itu kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Selain itu, para aktivis juga tengah menyiapkan laporan kepada kepolisian setempat. “Keamanan para aktivis semakin rawan dan mudah dikriminalisasi,” bebernya.
Sebagai organisasi lingkungan nirlaba, Jatam selama ini fokus mengadvokasi korban tragedi lubang tambang. Di Samarinda, 13 nyawa telah melayang dalam empat tahun. Sementara di Kutai Kartanegara tercatat enam nyawa.
Dalam peristiwa terakhir di Kukar, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menerbitkan sanksi kepada 11 perusahaan pertambangan batu bara. Dua di antara satu perusahaan memegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B). Sanksi penghentian sementara operasi diberikan kepada perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan kolam maut.
Sementara itu dari Jakarta, anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kaltim Hetifah Sjaifudian mengecam keras aksi kekerasan tersebut. Menurutnya, penyerbuan dan intimidasi terhadap aktivis lingkungan hidup merupakan tindakan premanisme. Bahkan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah membenarkan serangan tersebut.
Politikus Partai Golkar ini menegaskan, penyerbuan kepada aktivis lingkungan hidup merupakan tindakan melawan hukum. Akibat kejadian ini, Hetifah mendesak aparat kepolisian menindak pelaku premanisme. “Penegak hukum harus turun tangan dan jangan membiarkan masalah ini berlarut-larut,” pintanya melalui surat elektronik ke media ini, kemarin. (fel/*/dra/rom2/k15)
Sumber : kaltim.prokal.co

saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna