Alternatif Supaya Tidak Ada Kekerasan di MOS

Memasuki tahun ajaran baru 2010/011 yang baru saja dimulai seperti sekarang ini, seringkali rentan sekali dengan munculnya tindak kekerasan di sekolah (bullying). Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh bahkan mengingatkan pada pihak sekolah agar melarang adanya tindak kekerasan saat masa orientasi siswa (MOS). “Orientasi kesiswaan itu penting untuk menanamkan kepribadian kepada siswa dan memberikan pengenalan kepada siswa baru tentang sekolahnya dan teman-temannya,” kata Mendiknas, Minggu (11/07). “Namun kalau ada kepala sekolah yang melaksanakan orientasi kesiswaan dengan kekerasan, maka akan dikenakan sanksi. Sanksinya berupa teguran atau sanksi lainnya.” Selama ini MOS menjadi tradisi di banyak sekolah. Namun seringkali tradisi ini menjadi kurang baik dan memberikan dampak psikologis pada siswa-siswanya. Bayangkan, senior “memusuhi” junior. Senior berhak melakukan tindak kekerasan (bullying) pada junior, sehingga junior menjadi sakit hati. Begitu junior “naik pangkat” menjadi “senior”, ia pun turut “memusuhi” murid baru lagi yang menjadi juniornya. Begitu seterusnya menjadi seperti tradisi turun temurun yang kurang baik. Menurut anggota DPR Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, kekerasan selama MOS di sekolah sudah menjadi hal yang tabu untuk dilakukan. Sebab, hal tersebut memberikan ruang yang kondusif bagi siswa. Ia mencontohkan, ada satu sekolah, meski sudah lulus, tetap memiliki “permusuhan” yang sudah ditanam sejak mereka tercatat sebagai pelajar. Senior yang lebih dulu lulus tetap merasa masih berhak melakukan tindak kekerasan terhadap junior yang sebenarnya juga sudah lulus. “Seharusnya bukan sekadar melarang, tetapi harus dicarikan alternatif lain selaian MOS yang justru berdampak pada tindak kekerasan senior pada junior,” ujar anggota DPR dari Fraksi Golkar untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur (Kaltim) ini serius. Hetifah mengusulkan alternatif kreatif adalah metode semacam relasi sosial, yakni membuang segala perbedaan-perbedaan yang terjadi di sekolah. Ia mencontohkan seperti sekolah di luar negeri yang menggunakan metode mentoring. Senior menjadi mentor junior. Tiap siswa baru memiliki mentor, yakni kakak senior yang akan membimbing serta memberikan berbagai pengetahuan mengenai hal-hal di sekolahnya dari A sampai Z. “Dengan metode mentoring, jurang pemisah antara senior dan junior dapat dikikis,” kata Hetifah. “Namun hal tersebut tidak akan efektif kalau pihak sekolah juga tidak memberikan contoh metode yang cukup baik ini. Kepala Sekolah atau guru tetap kurang baik komunikasinya dengan murid.”

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi