Pengumuman hasil SNMPTN 2011 jalur ujian tertulis sudah dikeluarkan secara online oleh panitia melalui situs resmi SNMPTN, www.snmptn.ac.id, akhir Juni lalu. Pengumuman SNMPTN juga disebarluaskan melalui media cetaknasional dan daerah secara serentak.
Dalam kesempatan ini, saya ingin turut mengucapkan selamat bagi para pelajar yang mendapat kesempatan masuk perguruan tinggi negeri. Sekedar mengingatkan, kelak mahasiswa baru harus siap menghadapi kegiatan belajar yang menuntut kemandirian serta kematangan jiwa.
Bagi yang belum berhasil, buang jauh rasa putus asa. Masih terbuka kesempatan dan pilihan-pilihan hidup lain yang bisa dijajaki. Seperti masuk perguruan tinggi swasta, bekerja di perusahaan-perusahaan, atau mencari peluang usaha.
Hasil SNMPTN 2011 berhasil menjaring sebanyak 118.233 orang calon mahasiswa dari total 540.953 jumlah peserta SNMPTN jalur ujian tertulis/keterampilan. Dari alokasi 119.041 kursi SNMPTN tahun ini, hanya 118.233 peserta yang lolos seleksi. Dengan demikian, terdapat 808 kursi yang kosong. Pemerintah harus terus meningkatkan informasi bagi calon mahasiswa terkait dengan program-program studi yang mendukung rencana pembangunan pemerintah. Bahkan, pemerintah harus berani menyediakan insentif bagi jurusan dan calon mahasiswa yang memilih bidang studi strategis bagi Indonesia, misalnya sains dan pertanian.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 53B yang memuat ketentuan tentang penerimaan calon mahasiswa baru, PTN wajib menerima 60 persen calon mahasiswa dari seleksi nasional dan sisanya dari seleksi mandiri. Selanjutnya, Kemdiknas mengeluarkan Permendiknas 34 Tahun 2010 yang menyatakan bahwa ketentuan penjaringan mahasiswa baru melalui jalur mandiri (40 persen) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.
Menjamin Pemerataan
Secara keseluruhan, mencermati sistem penerimaan mahasiswa baru tahun 2011 ini, saya mempunyai pandangan-pandangan khusus.
Pertama, jalur mandiri bertendensi menciptakan kelas sosial di kampus serta mengurangi kualitas lulusan. Fenomena ini sudah banyak dirasakan semenjak seleksi mandiri yang berbasis kapasitas finansial diperkenalkan secara massif dengan berbagai dalih; kelas eksekutif, kelas sore, kelas ekstensi, kelas kerjasama, dan berbagai istilah lainnya pada masa PTN BHMN mulai diberlakukan.
Kriteria penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi seharusnya didasarkan pada kapasitas akademik, bukan didasarkan pada kemampuan menyumbang sejumlah dana kepada perguruan tinggi yang bersangkutan.
Kedua, Kemendiknas harus segera melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap penyelenggaraan seleksi masuk jalur mandiri yang diatur oleh Permendiknas 34 Tahun 2010 tersebut. Dimana ketentuan penjaringan mahasiswa baru melalui jalur mandiri (40 persen) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.
Pertanyaannya, apakah standar penerimaan apa yang dipakai oleh tiap perguruan tinggi? Apakah telah terjadi praktek sapi perah terhadap mahasiswa atau orangtua mahasiswa dari kalangan mampu yang ingin anaknya dapat kuliah di PTN bersangkutan dengan dalih biaya pendidikan, subsidi silang, dsb? Apakah sudah ada pemihakan yang jelas juga bagi kuota 20 persen bagi calon mahasiswa dari kalangan berpenghasilan rendah pada proses seleksi mandiri PTN?
Selama ini belum ada kajian secara menyeluruh dan mendalam bagaimana praktek seleksi masuk jalur mandiri yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi negeri menjamin keadilan dan pemerataan kesempatan. Demikian pula dengan pelaksanaan jalur undangan yang seharusnya berdasarkan penjaringan prestasi akademik.
Pemerintah harus membuat regulasi yang jelas dan tegas apabila terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Sementara komisi X DPR RI akan terus membantu pemerintah dengan melakukan evaluasi dan pengawalan program untuk menjamin pemerataan tersebut.
Ketiga, masih banyak calon mahasiswa maupun orangtua calon mahasiswa yang masih membutuhkan informasi mengenai perguruan tinggi swasta (PTS), program dan fasilitas yang diberikan. Sehingga, seringkali orangtua kesulitan mendapatkan alternatif yang bagus manakala anaknya tidak berhasil menembus seleksi masuk PTN.
Oleh karena itu, saya mendorong pemerintah dapat menyediakan informasi yang lebih jelas dan mudah diakses mengenai berbagai pilihan yang ditawarkan oleh perguruan tinggi swasta.

Assalamualaikum Salam Sejahtera untuk ibu .... Ibu ......adakah wadah penggiat untuk para wanita2 ataupun ibu2 agar hati rasa mereka bisa terdengarkan?terkadang wanita harus tetap harus stabil menjaga kewarasan mereka demi stabilitas Rumah tangga tanpa mereka harus terdengar pula seperti apa pilu mereka. ...tampak sederhana ibu .....akan tetapi wanita ataupun ibu adalah pondasi kokohnya regenarasi yg maju ..... Ibu......ketika wanita punya wadah untuk bisa hanya didengar maka kelola rasa mereka akan Restart kembali hingga segala perencanaan untuk kestabilan pengelolaan Runah tangga akan lebih Efesiensi lagi Kami berharap Ibu dapat mewujudkan mimpi kami untuk kami ada wadah tsb Wassalamualaikum Salam Sukses Selalu Ibu.....????????
1 . "Saya berharap program beasiswa terus ditingkatkan, informasinya lebih terbuka, dan kuota ditambah agar lebih banyak anak Kaltim bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi." 2."Kehidupan hari ini terasa semakin berat bagi banyak orang: harga kebutuhan naik, kesempatan belum sama bagi semua, dan banyak yang masih berjuang demi masa depan. Saya berharap kehidupan ke depan lebih adil — setiap orang bisa bekerja dengan tenang, kebutuhan terjangkau, dan setiap anak punya kesempatan belajar tanpa terhalang biaya. Semoga kebaikan tumbuh, sesama saling peduli, dan hidup menjadi lebih ringan bagi kita semua. Keluarga saya kurangmampu malah dapa dsil 5 kenapa bisah begini
1 . "Saya berharap program beasiswa terus ditingkatkan, informasinya lebih terbuka, dan kuota ditambah agar lebih banyak anak Kaltim bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi." 2."Kehidupan hari ini terasa semakin berat bagi banyak orang: harga kebutuhan naik, kesempatan belum sama bagi semua, dan banyak yang masih berjuang demi masa depan. Saya berharap kehidupan ke depan lebih adil — setiap orang bisa bekerja dengan tenang, kebutuhan terjangkau, dan setiap anak punya kesempatan belajar tanpa terhalang biaya. Semoga kebaikan tumbuh, sesama saling peduli, dan hidup menjadi lebih ringan bagi kita semua