Dewi Ratih Ayu Daning (berjilbab) ketika menerima penghargaan.
Pada kompetisi Alltech Young Scientist Award, yang digelar bersamaan dengan Alltech’s 26th International Animal Health and Nutrition Symposium pada 16-19 Mei 2010 di Kentucky, Daning meraih gelar juara kedua.
Gadis 22 tahun itu bersaing dengan 4 peserta yang mewakili Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Dalam kompetisi itu, Lee-Anne Huber dari University of Guelph, Kanada, yang mewakili Amerika Utara, meraih gelar juara pertama.
“Dalam penelitian ini saya mencoba mengembangkan pemanfaatan limbah teh hitam dari Gambung Jawa Barat di pusat penelitian teh dan kina yang digunakan untuk menurunkan produksi gas metan hasil fermentasi ternak sapi perah atau sapi potong. Hasilnya adalah bisa meningkatkan produksi ternak,” terangnya seperti dikutip dalam website Indonesia Proud.
Ampas teh hitam yang biasanya dibuang begitu saja, di tangan mahasiswi kelahiran Malang, 11 Desember 1988 ini, menjadi barang berguna. Ampas teh ternyata dapat mengurangi gas metana, polutan yang menyumbang 30 persen rusaknya lapisan ozon. Gas yang menyebabkan pemanasan global itu terkandung dalam kotoran sapi, kambing, dan kerbau.
Limbah teh hitam tersebut, tambahnya, digunakan sebagai campuran dari makanan sapi yakni rumput raja dan dedak halus. Selain dapat meningkatkan produktivitas ternak, makanan sapi tersebut juga menjadi ramah terhadap lingkungan.
Daning mengemas ampas teh sebagai campuran pakan ternak. Menggunakan proses fermentasi, mahasiswi Jurusan Nutrisi dan Makanan UGM, ini menguji formulanya di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan untuk menekan kadar metana yang diproduksi ternak.
Proses itu meniru fermentasi yang ada dalam perut hewan ternak. Dengan bantuan jasad renik, protozoa, fermentasi menghasilkan metana. Daning menilai senyawa di dalam ampas teh hitam, tanin, mampu menghambat metabolisme protozoa.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan teh hitam dalam pakan ternak dapat menurunkan jumlah protozoa diikuti penurunan produksi gas metan namun tidak berpengaruh pada pada kadar protein mikrobia. Secara sederhana ini dapat meningkatkan produktivitas peternakan,” jelasnya.
Berita
Gara-Gara Ampas Teh, Dewi Menang di Alltech Young Scientist
Lagi, mahasiswi Indonesia mengukir prestasi di tingkat internasional. Kali ini prestasi yang membanggakan itu diraih oleh Dewi Ratih Ayu Daning. Mahasiswi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berhasil menjadi juara dalam Alltech Young Scientist yang diselenggarakan oleh Alltech.
Prestasinya tersebut diraihnya berkat penelitian mengenai pemanfaatan limbah teh hitam sebagai agen defaunasi terhadap reduksi gas metan pada fermentasi rumen dalam mendukung peternakan ramah lingkungan.
Dia terpilih sebagai The 1st Place Undergraduate Country Winner for Indonesia dengan menyisihkan 80 kandidat. Selanjutnya pada bulan Februari lalu ia bersaing di tingkat Asia Pasifik sukses menyabet The 1st Place Undergraduate Regional Winner for Asia Pasific mengalahkan 1.000 kandidat se-Asia Pasifik. Berkat keberhasilan tersebut, Daning melaju di tingkat dunia.
Dewi Ratih Ayu Daning (berjilbab) ketika menerima penghargaan.
Pada kompetisi Alltech Young Scientist Award, yang digelar bersamaan dengan Alltech’s 26th International Animal Health and Nutrition Symposium pada 16-19 Mei 2010 di Kentucky, Daning meraih gelar juara kedua.
Gadis 22 tahun itu bersaing dengan 4 peserta yang mewakili Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Dalam kompetisi itu, Lee-Anne Huber dari University of Guelph, Kanada, yang mewakili Amerika Utara, meraih gelar juara pertama.
“Dalam penelitian ini saya mencoba mengembangkan pemanfaatan limbah teh hitam dari Gambung Jawa Barat di pusat penelitian teh dan kina yang digunakan untuk menurunkan produksi gas metan hasil fermentasi ternak sapi perah atau sapi potong. Hasilnya adalah bisa meningkatkan produksi ternak,” terangnya seperti dikutip dalam website Indonesia Proud.
Ampas teh hitam yang biasanya dibuang begitu saja, di tangan mahasiswi kelahiran Malang, 11 Desember 1988 ini, menjadi barang berguna. Ampas teh ternyata dapat mengurangi gas metana, polutan yang menyumbang 30 persen rusaknya lapisan ozon. Gas yang menyebabkan pemanasan global itu terkandung dalam kotoran sapi, kambing, dan kerbau.
Limbah teh hitam tersebut, tambahnya, digunakan sebagai campuran dari makanan sapi yakni rumput raja dan dedak halus. Selain dapat meningkatkan produktivitas ternak, makanan sapi tersebut juga menjadi ramah terhadap lingkungan.
Daning mengemas ampas teh sebagai campuran pakan ternak. Menggunakan proses fermentasi, mahasiswi Jurusan Nutrisi dan Makanan UGM, ini menguji formulanya di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan untuk menekan kadar metana yang diproduksi ternak.
Proses itu meniru fermentasi yang ada dalam perut hewan ternak. Dengan bantuan jasad renik, protozoa, fermentasi menghasilkan metana. Daning menilai senyawa di dalam ampas teh hitam, tanin, mampu menghambat metabolisme protozoa.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan teh hitam dalam pakan ternak dapat menurunkan jumlah protozoa diikuti penurunan produksi gas metan namun tidak berpengaruh pada pada kadar protein mikrobia. Secara sederhana ini dapat meningkatkan produktivitas peternakan,” jelasnya.
Dewi ketika sedang melakukan percobaan.
Tanin membuat jumlah protozoa menurun sebesar 34,9 persen. Dampaknya, konsentrasi metana dalam kotoran berkurang hingga 62,4 persen. “Bau tak sedap kotoran yang menyengat juga akan hilang,” ujar putri dari Sutedjo dan Nurhayati ini.
Daning tak menyangka penelitian skala laboratoriumnya itu mendapat apresiasi dari Alltech, perusahaan bidang nutrisi hewan ternak yang bermarkas di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat.
Selamat kepada Dewi Ratih Ayu Daning!
Dewi Ratih Ayu Daning (berjilbab) ketika menerima penghargaan.
Pada kompetisi Alltech Young Scientist Award, yang digelar bersamaan dengan Alltech’s 26th International Animal Health and Nutrition Symposium pada 16-19 Mei 2010 di Kentucky, Daning meraih gelar juara kedua.
Gadis 22 tahun itu bersaing dengan 4 peserta yang mewakili Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Dalam kompetisi itu, Lee-Anne Huber dari University of Guelph, Kanada, yang mewakili Amerika Utara, meraih gelar juara pertama.
“Dalam penelitian ini saya mencoba mengembangkan pemanfaatan limbah teh hitam dari Gambung Jawa Barat di pusat penelitian teh dan kina yang digunakan untuk menurunkan produksi gas metan hasil fermentasi ternak sapi perah atau sapi potong. Hasilnya adalah bisa meningkatkan produksi ternak,” terangnya seperti dikutip dalam website Indonesia Proud.
Ampas teh hitam yang biasanya dibuang begitu saja, di tangan mahasiswi kelahiran Malang, 11 Desember 1988 ini, menjadi barang berguna. Ampas teh ternyata dapat mengurangi gas metana, polutan yang menyumbang 30 persen rusaknya lapisan ozon. Gas yang menyebabkan pemanasan global itu terkandung dalam kotoran sapi, kambing, dan kerbau.
Limbah teh hitam tersebut, tambahnya, digunakan sebagai campuran dari makanan sapi yakni rumput raja dan dedak halus. Selain dapat meningkatkan produktivitas ternak, makanan sapi tersebut juga menjadi ramah terhadap lingkungan.
Daning mengemas ampas teh sebagai campuran pakan ternak. Menggunakan proses fermentasi, mahasiswi Jurusan Nutrisi dan Makanan UGM, ini menguji formulanya di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan untuk menekan kadar metana yang diproduksi ternak.
Proses itu meniru fermentasi yang ada dalam perut hewan ternak. Dengan bantuan jasad renik, protozoa, fermentasi menghasilkan metana. Daning menilai senyawa di dalam ampas teh hitam, tanin, mampu menghambat metabolisme protozoa.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan teh hitam dalam pakan ternak dapat menurunkan jumlah protozoa diikuti penurunan produksi gas metan namun tidak berpengaruh pada pada kadar protein mikrobia. Secara sederhana ini dapat meningkatkan produktivitas peternakan,” jelasnya.

saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna