
Awal tahun adalah masa reses legislator Senayan, termasuk dari daerah pemilihan Kaltim. Hetifah Sjaifudian, salah satunya. Kaltim Post berkesempatan melihat dari dekat bagaimana politikus perempuan yang dikenal rajin bertemu rakyat itu menyerap aspirasi.
Tepat pukul 11.00, Kamis lalu (9/1), Hetifah bersama 10 staf menuju Desa Perangat Selatan, Marangkayu, Kukar. Perlu dua jam mencapai desa yang didiami tiga ribu penduduk itu.
Perjalanan dari Samarinda tidak buru-buru. Hetifah yang duduk di Komisi V yang membidangi infrastruktur sekaligus memantau kondisi jalan Samarinda menuju Bontang. Dalam perjalanan, politikus Golkar ini melihat banyak berlubang kecil di sisi jalan.
“Saya gemas sekali lihat jalan seperti berlubang. Banyak sekali dan berbahaya bagi pengguna jalan”ucap dia. Hetifah pun langsung mengambil telepon genggam. Sepintas, dirinya berbincang serius dengan lawan bicara. Dia kemudian menyebut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim, M. Taufik Fauzi. Ibu empat anak ini menyampaikan kondisi jalan yang dilewati. “Pak Taufik,
waduh jalan ke Bontang yang melintasi Kukar ini
gemasin deh. Diperbaiki, yak an ada alokasi APBN” tuturnya.
Kepada Kaltim Post, dia menjelaskan agak aneh bahwa Kadis PU Kaltim Taufik Fauzi yang merupakan warga Bontang tetapi kondisi jalan nasional seperti itu.
Setelah melewati jalan yang tak nyaman itu, rombongan Hetifah tiba di Desa Perangat Selatan. Eriyadi seorang warga, telah menunggu lama kedatangan politikus yang selama lima tahun ini begitu aktif memperjuangkan Kaltim dalam buku anggaran pusat.
“Silakan masuk ke rumah saya” ajak pria setengah baya itu. Tak lama perangkat desa pun datang yaitu Kepala Desa Mardiyanto bersama sekretaris desa. Hadir pula beberapa warga dan tokoh masyarakat setempat. Disuguhi jamuan sederhana seperti jagung dan rambutan, forum terbuka mengalir cepat.
Warga Desa Perangat Selatan mengeluhkan kondisi jalan produksi dari kebun karet yang rusak parah. Menunggu Eriyadi, kondisi itu mengganggu panen. Keluhan Eriyadi diamini mayoritas warga yang petani warga yang petani kebun sawit di sebuah perusahaan. Jika jalan rusak, masyarakat harus bersusah payah.
Lagi pula, kata dia, sangat jarang anggota DPRD Kaltim Dapil Kukar-Kubar mengunjungi warga Desa Perangat Selatan. Kepala Desa Mardiyanto pun mengeluhkan jalan desa yang rusak parah.
“Perbaikan jalan seringkali hanya pada tahun politik seperti menjelang pemilihan gubernur. Itu pun tidak semua diperbaiki”, sindir dia. “Kami tidak perlu nilainya yang penting kepeduliannya” sambung Eriyadi setelah kepala desa berkeluh kesah.
Hetifah dengan telaten mencatat keluhar warga desa. Dia berjanji memperjuangkan perbaikan jalan. Hetifah menjelaskan, melalui APBN telah dialokasikan anggaran pembangunan bagi 400 desa di Kaltim melalui Program Percepatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP). Desa Perangat Selatan masuk program itu.
Setelah mendengar keluhan warga Hetifah “digiring” bertemu ratusan warga di balai desa. Keluhan serupa pun bermunculan. Perempuan lulusan Teknik Planologi, Institut Teknologi Bandung (ITB), itu memutuskan melihat langsung jalan yang rusak. Dia terkejut kondisi jalan di desa ini tergolong parah. Pembangunan di Kaltim ternyata tidak berbarengan dengan kondisi infrastruktur desa.
“Mungkin daripada membangun Pelabuhan Maloy (di Kutim), lebih baik mengalokasikan dana untuk jalan desa yang non status” tutupnya.
Dwi Farisa Putra Wibowo, Marangkayu.
Dimuat di Kaltim Post 14 Januari 2014
Kapan dapat besiswa
Beasiswa
Ingin mengajukan beasiswa untuk anak SMP