Politik Lokal Bisa Ganggu Penyaluran Dana BOS (kompas, 12 Oktober 2011)

Jakarta, 12/10 -- Pemerintah khawatir mekanisme penyaluran dana bantuan operasional sekolah tahun 2012 terpengaruh dinamika politik lokal. Kekhawatiran muncul mengingat dana BOS akan masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi lalu ke rekening sekolah. Jika hubungan pemerintah provinsi dan DPRD tidak harmonis, pengesahan APBD diyakini akan terlambat. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengemukakan hal itu, Selasa (11/10), di Jakarta. ”Kami khawatir dinamika politik itu memengaruhi penyaluran bantuan operasional sekolah (BOS),” ujarnya. Pemerintah pusat, kata Nuh, tidak bisa membuat peraturan perundangan yang bisa menjadi acuan dasar penyaluran dana BOS yang harus dipatuhi pemerintah daerah karena alasan otonomi daerah. Oleh karena itu, pemerintah pusat hanya bisa melakukan penguatan di bidang manajemen dan organisasi. Dibandingkan dengan mekanisme penyaluran sebelumnya, mekanisme kali ini lebih mempermudah pengawasan penyaluran. Ini disebabkan pemerintah pusat hanya perlu mengawasi 33 provinsi dan bukan 497 kabupaten/kota seperti pada mekanisme sebelumnya. ”Hubungan eksekutif dan legislatif di daerah harus harmonis dan komitmen mengutamakan penyaluran BOS supaya tidak terlambat lagi tahun depan,” kata Nuh. Jika keterlambatan penyaluran dana BOS masih saja terjadi tahun depan, tidak menutup kemungkinan daerah akan dikenai sanksi finansial berupa pemotongan dana nonpendidikan. Menanggapi kekhawatiran pemerintah, anggota Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, mengingatkan perlunya memperkuat mekanisme pengawasan dana hingga sampai ke sekolah. Mekanisme baru itu diakuinya bisa lebih menjamin penyaluran dana yang lebih cepat dan mengantisipasi penyimpangan. Meski demikian, lanjut Hetifah, pemerintah harus memperbaiki sistem informasi dan sosialisasi yang transparan. Pemerintah telah berjanji akan melakukan sosialisasi ke berbagai daerah segera setelah APBN 2012 disahkan. ”Proses penyaluran dan penggunaan dana BOS itu harus bisa diakses oleh masyarakat sehingga tahu betul uangnya dipakai untuk apa,” ujarnya. (LUK) sumber: kompas cetak edisi 12 oktober 2011

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Saya tumbuh di lingkungan yang membuat saya sadar, pendidikan bukan hadiah, tapi jalan. Karena itu saya tidak mau berhenti di tengah. Kalau diberi beasiswa, saya akan pakai waktu dan tenaga untuk belajar sungguh-sungguh. Bukan hanya untuk nilai, tapi supaya nanti saya bisa balik dan ngasih manfaat ke orang-orang yang dulu dukung saya. Saya percaya, ilmu yang baik itu ilmu yang dibagikan. Dan saya ingin jadi salah satu orang yang membuktikannya.

  2. *Aspirasi Saya* Saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar dapat meningkatkan ilmu dan keterampilan. Dengan beasiswa ini, saya berharap bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan kendala biaya. Setelah lulus, saya ingin menggunakan ilmu yang saya dapat untuk bekerja dan membantu keluarga serta masyarakat di lingkungan saya. Saya akan berusaha belajar sebaik mungkin dan menjaga nama baik penerima beasiswa. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.

Lihat semua aspirasi