Nasional
Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II dengan Ombudsman RI
Senin, (10/10). Komisi II DPR RI menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Ombudsman RI (ORI). Rapat yang dipimpin Al Muzzammil Yusuf, dihadiri oleh delapan komisioner ORI yaitu Amzulian Rifai, Lely Pelitasari Soebekty, Adrianus Eliasta Meliala, Ahmad Alamsyah Saragih, Ahmad Su’adi, Alvin Lie Ling Piao, Laode Ida, dan Ninik Rahayu.
Dalam rapat tersebut membahas tentang Rekomendasi Pengawasan Pelayanan Publik. Ketua ORI Amzulian Rifai, menyampaikan bahwa ada 9 program kerja prioritas seperti reviu terhadap UU nomor 37 tahun 2008, kerjasama strategis dengan DPR atau lembaga lain, perbaikan opini laporan keuangan, sistematika reviu terhadap kebijakan pemerintah, pengembangan sistem nasional pengaduan, penguatan kelembagaan masyarakat, pendampingan terhadap lembaga penyediaan pelayanan publik, penyusunan indeks kepatuhan, dan restrukturisasi organisasi ORI.
ORI juga melakukan 3 hal dalam melakukan pencegahan Maladministrasi yaitu penilaian kepatuhan, investigasi, dan kunjungan langsung.
Pada tahun 2016, dari 8.059 laporan yang masuk dari masyarakat, ORI telah berhasil menyelesaikan 6.941 pengaduan. Substansi laporan paling tinggi berasal dari kepolisian, pertanahan, dan pendidikan.
Terdapat 4 rekomendasi ORI terkait Lexington, perubahan fungsi kawasan hutan di Provinsi Riau, izin frekuensi PT Corbec Communication, dan penataan pemungkiman Kampung Baru Dadap.
Adapun permasalahan yang dihadapi oleh ORI yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang mencukupi dengan jumlah laporan yang masuk, kurangnya insentif terhadap pagawai, dan sarana perkantoran.
ORI juga membutuhkan dukungan terhadap monitoring tindak lanjut rekomendasi, penyelesaian terkait aset lahan dan bangunan milik negara, penguatan lembaga, serta pengadaan gedung milik sendiri.
Terkait permasalahan ORI, Komisi II akan melakukan komunikasi dengan Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian PANRB dan pihak terkait lainnya, untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh ORI.
Selain itu, Hetifah Sjaifudian, Anggota Komisi II DPR RI, menyoroti beberapa hal agar ORI lebih sensitif terhadap isu-isu kekerasan seksual dan anak, hak-hak pedestrian, pelayanan publik yang ramah perempuan dan hak kependudukan berupa KTP untuk masyarakat di kawasan perbatasan.
Bahan pemaparan dan kesimpulan rapat dapat diakses pada link dibawah ini :

Assalamualaikum Salam Sejahtera untuk ibu .... Ibu ......adakah wadah penggiat untuk para wanita2 ataupun ibu2 agar hati rasa mereka bisa terdengarkan?terkadang wanita harus tetap harus stabil menjaga kewarasan mereka demi stabilitas Rumah tangga tanpa mereka harus terdengar pula seperti apa pilu mereka. ...tampak sederhana ibu .....akan tetapi wanita ataupun ibu adalah pondasi kokohnya regenarasi yg maju ..... Ibu......ketika wanita punya wadah untuk bisa hanya didengar maka kelola rasa mereka akan Restart kembali hingga segala perencanaan untuk kestabilan pengelolaan Runah tangga akan lebih Efesiensi lagi Kami berharap Ibu dapat mewujudkan mimpi kami untuk kami ada wadah tsb Wassalamualaikum Salam Sukses Selalu Ibu.....????????
1 . "Saya berharap program beasiswa terus ditingkatkan, informasinya lebih terbuka, dan kuota ditambah agar lebih banyak anak Kaltim bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi." 2."Kehidupan hari ini terasa semakin berat bagi banyak orang: harga kebutuhan naik, kesempatan belum sama bagi semua, dan banyak yang masih berjuang demi masa depan. Saya berharap kehidupan ke depan lebih adil — setiap orang bisa bekerja dengan tenang, kebutuhan terjangkau, dan setiap anak punya kesempatan belajar tanpa terhalang biaya. Semoga kebaikan tumbuh, sesama saling peduli, dan hidup menjadi lebih ringan bagi kita semua. Keluarga saya kurangmampu malah dapa dsil 5 kenapa bisah begini
1 . "Saya berharap program beasiswa terus ditingkatkan, informasinya lebih terbuka, dan kuota ditambah agar lebih banyak anak Kaltim bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi." 2."Kehidupan hari ini terasa semakin berat bagi banyak orang: harga kebutuhan naik, kesempatan belum sama bagi semua, dan banyak yang masih berjuang demi masa depan. Saya berharap kehidupan ke depan lebih adil — setiap orang bisa bekerja dengan tenang, kebutuhan terjangkau, dan setiap anak punya kesempatan belajar tanpa terhalang biaya. Semoga kebaikan tumbuh, sesama saling peduli, dan hidup menjadi lebih ringan bagi kita semua