Satu Pramuka untuk Satu Indonesia

Itulah tema acara peringatan Hari Pramuka ke-49 yang jatuh pada Sabtu, 14 Agustus 2010 lalu. Tema “Satu Pramuka untuk Satu Indonesia” tersebut sebenarnya diangkat dari ucapan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Mallarangeng, ketika membuka Rapat Kerja Nasional Gerakan Pramuka, pertengahan April 2010. "Jadi, kami dukung satu Pramuka untuk satu Indonesia!," tegas Menpora saat itu, dimana ia berharap kiprah organisasi pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan remaja ini dapat semakin berkembang. Pramuka Satu Pramuka untuk Satu Indonesia Sebenarnya tema yang diusung dalam peringatan Hari Pramuka itu merupakan refleksi dari kerisauan Menpora, yakni dengan ada kecenderungan muncul kembalinya organisasi-organisasi kepanduan selain Gerakan Pramuka. Padahal, Gerakan Pramuka justru dibentuk untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang ada. Kerisauan Menpora beralasan. Menurut anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, sekarang ini Pramuka harus diakui sudah kehilangan daya tariknya. Dianggap jadul dan tidak modern. “Seharusnya Pramuka mengikuti perkembangan zaman, misalnya dengan memanfaatkan IT dan teknologi lain dalam melakukan aktivitasnya,” gagas Hetifah. web113 Satu Pramuka untuk Satu Indonesia Hetifah masih ingat, saat dulu masih duduk di bangku SD Negeri Pejompongan 2 Pagi, betapa bangganya ia masuk sebagai anggota Pramuka. Ia sempat mengikuti segala aktivitas kepramukaan, termasuk mengikuti lomba-lomba tingkat Kelurahan dan Kecamatan. Ia pun sempat mejadi Kepala Regu. Tapi sayang, dari dulu hingga sekarang Pramuka tidak berkembang. “Ya, begitu-begitu saja,” komentar perempuan yang sampai dengan duduk di SMP 40 masih terus aktif di dalam kepramukaan ini. Sekadar flashback, gerakan Pramuka yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI no. 238 tahun 1961, lahir setelah Presiden Soekarno yang juga didukung tokoh kepanduan nasional saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, melihat kecenderungan kurang sehat dengan banyaknya organisasi kepanduan di Indonesia pada akhir 1950-an. Saat itu, tercatat sekitar 60 organisasi kepanduan dan sebagian di antara berafiliasi pada partai-partai politik. Akhirnya, timbul persaingan yang tidak positif, saling menonjolkan diri sebagai yang terbaik dengan menjelekkan yang lain. Salah satu tujuan kepanduan sebagai organisasi pendidikan bagi anak-anak dan remaja untuk menjadi wadah persaudaraan bagi siapa pun tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan, akhirnya tidak tercapai. 24 a8 Ekstra Pramuka.preview Satu Pramuka untuk Satu Indonesia Gerakan Pramuka sendiri mengakui bahwa masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Tetapi, kalau memang dirasakan kurang, marilah kita perbaiki bersama-sama organisasi yang sudah ada. Tidak perlu membentuk organisasi yang baru, dan tidak perlu membebani lagi anak-anak dan remaja untuk perlu mengenal lagi dan bahkan untuk perlu membeli seragam dan perlengkapan baru. Apalagi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Prof.Dr.dr. Azrul Azwar MPH yang akrab dipanggil Kak Azrul sudah mengatakan, Gerakan Pramuka terbuka untuk kritik, masukan, dan saran. Gerakan Pramuka juga terbuka untuk semua, siapa pun warganegara Indonesia. Jadi, memang betul, satu Pramuka untuk satu Indonesia. “Saya bangga bisa ikut Pramuka, karena di Pramuka kita diajarakan melatih keberanian, bersikap tegas, responsif, dan kreatif,” ungkap Hetifah yang mengaku sempat kalah saat seleksi tingkat II untuk mengikuti Jambore Nasional ini. sby hut pramuka ke 47 Satu Pramuka untuk Satu Indonesia Selain itu, lanjut Hetifah, dalam Pramuka, ia juga sempat diajarkan membangun solidaritas dan kejasama dalam memecahkan masalah, menghormati pada kakak-kakak, dan turut menghargai seni budaya bangsa. Jiwa patriot dan kepemimpinan pun terbangun. “Namun hal tersebut tidaklah cukup jika Pramuka ingin diminati oleh anak-anak muda sekarang. Sekali lagi Pramuka harus bisa mengikuti zaman agar tidak dianggap organisasi jadul,” kritik Hetifah. Dalam rangka peringatan Hari Pramuka ke-49 kemarin, pemerintah menyelenggarakan acara puncak yang digelar di Kompleks Gerakan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, tepat pada 14 Agustus. Dalam upacara tersebut, Presiden RI selaku Pramuka Utama dan Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka akan bertindak selaku Pembina Upacara. Upacara itu juga ditandai dengan pemberian penghargaan lencana Gerakan Pramuka kepada sejumlah tokoh Gerakan Pramuka, termasuk para pejabat pemerintah dan tokoh agama, dan dua Pramuka Teladan dari golongan Pramuka Penggalang (11-15 tahun) serta Penegak (16-20 tahun).

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

Lihat semua aspirasi