Usut Tuntas Kematian Wartawan Kompas di Kaltim

Sekitar pukul 09.00 WIB, Wahyu Hidayat dan Tri Widodo kaget ketika mendapati Muhammad Syaifullah (43) berada dalam posisi terlentang di atas karpet dalam kondisi tak bernyawa lagi. Mantan wartawan TransTV dan wartawan SCTV di Balikpapan melihat tangan kanan almarhum masih memegang remote televisi dan di ruang keluarga itu televisi masih dalam keadaan menyala. Wajahnya membiru, serta keluar busa dari mulut, dan sedikit darah dari lubang hidung. Begitu tulis Kompas hari ini (27/07) mengenai kematian wartawan Muhammad Syaifullah di halaman pertama. Tulis Kompas, almarhum yang terakhir selain wartawan juga menjabat sebagai Kepala Biro Kompas Kalimantan dikenal sebagai wartawan yang santun. Di Kaltim, almarhum tinggal sendiri di rumah dinasnya di Perumahaan Balikpapan Baru Blok S II Nomor 7, Balikpapan, Kaltim. Beliau meninggalkan istri Isnainijah Sri Rohmani (41) serta dua putri mereka, Nadila Amajida (12) dan Najmi Izza Sabrina (6) yang tinggal di Banjarmasin. tribunkaltim Usut Tuntas Kematian Wartawan Kompas di Kaltim “Saya mengucapkan turut bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya wartawan Kompas biro Kaltim,” papar anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, PhD. “Almarhum selama ini konsisten menulis mengenai masalah yang terjadi di Kalimantan, termasuk di Kaltim. Selama ini, Syaifullah memang sangat peduli pada masalah lingkungan. Sejak bergabung dengan Kompas tahun 1999, almarhum banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin. Sebagai bentuk kepeduliannya pada lingkungan, pria kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalsel dan lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo ini banyak menulis tentang keprihatinannya tentang kerusakan alam di Kalimantan. Menurut Kompas, Syaifullah terakhir kali mengirimkan berita tentang tanah longsor di Tarakan, Sabtu lalu pukul 19.15. Terkait dengan kematian Syaifullah, Hetifah mendesak agar kepolisan segera melakukan penyelidikan secara serius dan mengusut tuntas penyebab kematian almarhum. Sampai saat ini, pihak Kompas memang masih menunggu hasil penyelidikan polisi. Bahkan pihak Kompas sendiri sudah mengutus Wakil Pemimpin Redaksi (Wapimred) Trias Kuncahyono untuk terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). tribun kaltim2 Usut Tuntas Kematian Wartawan Kompas di Kaltim Isnainijah, istri M Syaiful di samping jenazah suaminya sebelum diberangkatkan ke Kandangan (foto kanan). Pemimpin Redaksi (Pimred) harian Kompas, Rikard Bangun belum mengetahui secara jelas apakah ini terkait pemberitaan mengenai bisnis tambang batubara di Kalimantan yang ditulis almarhum. “Almarhum telah berupaya merintis segala sesuatu agar lebih baik dengan mengungkap berbagai persoalan mendasar di Bumi Etam lewat tulisan-tulisannya,” ujar Hetifah. “Jadi, sekali lagi saya mendesak polisi mengusut tuntas agar masyarakat tahu penyebab kematian almarhum,” tegas Hetifah. all photos copyright by Tribun Kaltim/ Amalia Husnul Arofiati

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi