Luka bakar itu belum bener-benar mengering. Di depan istana kepresidenan, Susi Heriyani (29) dan anaknya Rido Januar (4) menunggu dengan sabar. Warga Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini ingin meminta bantuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pengobatan. Sekujur tubuhnya terdapat luka bakar akibat terkena ledakan gas.
Susi hanyalah satu dari beberapa korban ledakan gas. Masih banyak kasus serupa dialami warga masyarakat. Namun menurut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, terjadinya berbagai kecelakaan akibat ledakan gas tidak mencerminkan kegagalan konvensi minyak tanah ke elpiji 3 kg. Konvensi ini justru bermanfaat. Pertama, pemerintah bisa menghemat hingga Rp 40 triliun. Kedua, mengurangi subsidi dan dampaknya positif terhadap lingkungan.
“Presiden sebagai pengambil keputusan nampaknya kurang tanggap terhadap masalah ini,” komentar anggota DPR RI dari Fraksi Golongan Karya (FKG) Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. “Karena urusan domestik, kecelakaan yang terjadi akibat ledakan gas dianggap tidak penting. Padahal sudah banyak korban, di antara mereka ada anak-anak.”
Nampaknya pemerintah setengah hati mengurus masalah konvensi ini. Barangkali hal tersebut bisa dimaklumi. Konvensi ini kabarnya merupakan gagasan dari Jusuf Kalla yang sudah tidak berada di pemerintahan lagi. Kata Jusuf, pemerintah diharapkan untuk terus berkomitmen melanjutkan program ini.
“Kita tidak mungkin berhenti,” kata Jusuf di salah satu acara talk show yang membahas masalah kebijakan pemerintah yang setengah hati dalam konvensi Elpiji ini. “Saat ini sudah hampir 90% paket didistribusikan. Dari 54 juta paket, tinggal 7 paket tahun ini yang harus dituntaskan.”
Di tengah-tengah kontroversi soal gagal atau tidaknya konvensi minyak tanah ke elpiji 3 kg, Hetifah menggulirkan gagasan yang dianggap banyak orang patut ditindaklanjuti. Gagasan ini sebenarya lebih kepada solusi agar tidak terjadi lagi kecelakaan yang diakibatkan ledakan gas.
“Sudah saatnya kota-kota besar seperti membuat infrastruktur gas yang disalurkan ke rumah-rumah, sehingga tidak menggunakan tabung lagi,” gagas Hetifah. “Toh, kita punya sumber gas alam yang saat ini diekspor ke berbagai negara.”
Gagasan segar yang dikemukaan anggota Komisi X DPR RI tersebut rasanya memang perlu ditindaklanjuti. Kalau memang bisa dilakukan, pasti manfaatnya semakin besar lagi. Bukan cuma menghemat anggaran subsidi, tetapi juga menyelamatkan perempuan dan anak-anak yang belakangan menjadi korban ledakan gas.

saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna