Hari Anak Tanpa TV Baik Tapi Tidak Cukup

Momentum Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada Jumat, 23 Juli 2010 diperingati sebagai Hari Anak Tanpa TV (HATV). HATV diselenggarakan oleh sebuah Koalisi Nasional. Tahun ini adalah peringatan yang kelima kalinya. Koalisi ini beranggotakan berbagai LSM di bidang pendidikan dan perlindungan anak; perguruan tinggi; organisasi mahasiswa; sekolah mulai dari TPA hingga SMA, di berbagai kota di Indonesia. ”Saya mendukung terlaksananya Hari Anak Tanpa TV,” ujar anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian MPP. ”Ini merupakan momentum untuk memberikan peringatan akan bahaya dan dampak negataif televisi.” Menurut Koalisi Nasional HATV, sama sekali bukan anti televisi. Konteksnya adalah perlindungan pada anak dari dampak negatif TV. Ini juga merupakan ungkapan keprihatinan terhadap isi tayangan televisi yang tidak berkualitas dan tidak aman untuk anak. Apabila para keluarga dapat bersatu menolak tayangan seperti itu, maka industri penyiaran pasti akan lebih memperhatikan hak kita sebagai konsumen tayangan televisi. Koalisi Nasional sempat melakukan penelitian, bahwa rata-rata anak Indonesia menonton televisi selama 3-5 jam sehari atau 30-35 jam seminggu. Tayangan yang mereka tonton, di antaranya adalah tayangan anak yang tidak aman, sinetron, infotainment, reality show, dan beberapa tayangan lain. Menurut Koalisi, tayangan-tayangan tersebut jelas dapat mengganggu dan bahkan merusak masa kanak-kanak mereka, karena dunia orang dewasa masuk ke dalam pikiran anak-anak. ”Momentum ini seharusnya juga juga menjadi upaya untuk melakukan hal yang mendasar, yakni merumuskan kembali UU yang secara tegas bisa melindungi anak-anak dari pengaruh negatif televisi,” tegas Hetifah. Semestinya, anak-anak lebih banyak bermain, terutama melakukan aktivitas fisik dan mengisi waktu senggangnya dengan kegiatan yang sesuai dengan usia. Namun televisi telah mencekoki anak-anak, sehingga anak-anak sangat tergantung dengan televisi. Itulah mengapa, menurut Hetifah, UU yang ada sekarang ternyata belum efektif. Lembaga-lembaga yang sebetulnya bisa mengadvokasi penonton dari tayangan-tayangan negatif televisi belum berfungsi. ”Tentu kita tidak ingin anak-anak serta generasi muda kalah dengan tayangan-tayangan televisi,” papar Hetifah lagi. Dalam kesempatan yang sama, Hetifah juga sangat sedih dan malu dengan masih merebaknya video porno, termasuk video porno mirip artis. Menurutnya, kasus ini menyadarkan pada kita, pentingnya peran orangtua dalam keluarga. Video porno jelas membuat orangtua ”pusing”. Betapa tidak, mereka harus melakukan komunikasi yang intensif pada anak, seolah mengintrograsi apakah anak-anak melihat bahkan menyimpan video porno di handphone mereka. Maklumlah, teknologi begitu canggih, sehingga memudahkan anak-anak bisa mengakses. Seperti halnya Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yoedoyono, Hetifah mendesak para penegak hukum, seperti kepolisian dan kejaksaan agar menjerat pelaku maupun penyebar video porno tersebut. Sebab, hal tersebut akan semakin memberikan dampak yang buruk pada anak-anak dan generasi mendatang.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi