Usianya sudah melewati setengah abad. Namun ketika berbicara mengenai perjalanan Partai Golkar di Kalimantan Timur (Kaltim), ia sangat bersemangat dan bergelora. Pria berkulit hitam ini bernama Sias Lansai. Saat ini ia adalah Pimpinan Partai Golkar di tingkat Kelurahan (PTK) di Kelurahan Sempinggan, Kecamatan Balikpapan Selatan.
Sias tahu betul perjalanan Partai Golkar di Kaltim. Menurut pria kelahiran Alor, 3 Februari 1946 ini, Partai Golkar adalah partai luar biasa. Betapa tidak, sempat menjadi partai besar, kemudian anjlok karena krisis kepercayaan, tetapi bisa bangkit lagi dan tetap masuk ke dalam lima partai terbesar.
Seperti kita ketahui, di masa Orde Baru (Orba), Golkar selalu menjadi partai terbesar. Bukan karena pemerintahan dikuasai pemimpin yang berasal dari Golkar, tetapi pengkaderan Golkar yang sangat baik. Itu sebabnya, sejak tahun 1972, Sias sudah bergabung dengan partai berlambang pohon beringin ini.

Pada tahun 1998 ketika terjadi krisis politik yang menyebabkan krisis kepercayaan, Golkar menjadi partai “bulan-bulanan”. Segala sindiran, caci-maki, maupun olok-olok dialamatkan ke partai ini. Banyak orang menilai, penyebab krisis adalah para pemimpin yang berasal dari Golkar. Bukan cuma pemimpin Golkar tingkat nasional, tetapi juga pemimpin di Kaltim mendapat tantangan.
Krisis politik dan juga krisis kepercayaan masyarakat pada Golkar ternyata tidak membuat Sias berpaling ke lain hati. Kondisi tersebut menurut Sias justru menjadi cambuk buat para anggota, termasuk dirinya. Masa seperti itu justru masa yang baik untuk introspeksi. Jika mendapat tantangan kita lari, itu namanya pengecut.
“Saya merasakan berat sekali menyakinkan orang-orang tentang Golkar tahun-tahun itu (maksudnya tahun 1998-pen),” papar pria yang rambutnya kini sudah banyak ditumbuhi oleh rambut putih. “Namun semua saya hadapi dengan lapang dada.”

Seperti beberapa tamu sebelumnya, Hetifah menerima Sias di ruang kerjanya, meski pria yang tinggal di Kaltim ini belum membuat janji dengannya. Buat wakil rakyat sepertinya, seharusnya rakyat manapun boleh masuk ke kompleks parlemen, bahkan sampai ke ruang kerjanya, agar rakyat tahu apa yang dikerjakan wakil rakyat. Apalagi saat ini kinerja DPR RI sedang disorot oleh rakyat dan dinilai kurang baik.
“Saya katakan pada ibu (Hetifah-pen) lewat
handphone, saya sedang berada di Jakarta dan sudah 10 hari,” papar Sias menceritakan awal kedatangannya sampai ke ruang kerja Hetifah. “Saya tahu ibu sibuk, tetapi ibu malah menyuruh saya datang ke DPR. Bahkan kalo perlu dijemput pakai mobil pribadinya.”
Terus terang, lanjut Sias, perlakuan ibu terhadap dirinya luar biasa. “Saya seperti diberi jalan oleh Tuhan,” komentarnya. Betapa tidak, buatnya memasuki gedung MPR DPR seperti sesuatu yang mustahil, apalagi sampai masuk ke ruang kerja dan bertemu empat mata dengan anggota.

Sias menceritakan, ketika memasuki gerbang kompleks MPR DPR, hatinya berdetak kencang. Selama ini ia melihat di televisi dan koran-koran, banyak orang demonstrasi di depan pagar. Ia merasa sebagai orang kecil, tidak ingin dianggap seperti mereka yang berdemo itu. Bahkan, ia merasa was-was jika nantinya dianggap sebagai seorang teroris yang mencoba masuk ke dalam kompleks.
“Saya berdoa pada Tuhan agar bisa memuntun saya,” papar Sais yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki ke gedung MPR DPR ini. “Sehaingga begitu masuk, semuanya lancar. Saya diberikan kemudahan oleh Tuhan lewat orang-orang yang ada di sini. Termasuk pelayanan yang diberikan pada ibu. Ini sangat luar biasa!”
Sebenarnya menurut Sais, ia cukup berada di lobi dan bertemu dengan Hetifah. Maklum, siang itu, ibu tengah mengadakan rapat di Komisi X. Namun, Hetifah mengantarkan Sais pada saat jeda istirahat ke berbagai ruang. Sais diperlihatkan ruang rapat satu ke ruang rapat lain, sampai kemudian diajak ke ruang kerja Hetifah.

“Tidak semua anggota DPR sebaik ibu,” puji pria berusia 64 tahun ini. “Saya berdoa, mudah-mudahan ibu bisa terpilih lagi menjadi anggota dewan dan mengadvokasi rakyat Kaltim.”
Kedatangan Sais juga juga sekaligus melaporkan tentang Musyawarah Kelurahan (Muskel) Partai Golkar yang dilakukan pada beberapa waktu lalu. Agenda Muskel adalah proses regenerasi serta menceritakan eksistensi Partai Golkar dari masa ke masa. Hal tersebut bertujuan agar generasi muda tahu, bahwa mereka harus bekerja keras untuk Partai Golkar.
“Saya mengharapkan kepada pengurus baru, jangan duduk di belakang meja. Jangan percaya pada bawahan. Tetapi harus turun ke bawah. Sebab yang punya masa bukan dari atas tetapi yang punya masa berada di bawah,” kata Sais.

Dalam kesempatan ini, Sais kembali mengingat masa-masa pertama kali bertemu dengan Hetifah. Ketika pertama kali berada di sana pada tahun 2009, baik Hetifah maupun Sais tidak saling mengenal. Namun anehnya, mereka kemudian cocok dan menjadi tim dalam melakukan kampanye. “Saya jadwal kampanye ibu. Padahal saya tahu, ibu baru turun dari bandara dan baru sampai ke rumah saya. Tetapi saya langsung bilang, bu apakah hari ini ibu bisa mengadakan pertemuan? Itulah langkah-langkah awal ibu di Kaltim.”
Menurut Sais, selama masa kampanye, masyarakat Kaltim nampak antusias dan memandang positif pada Hetifah. Sebab, ketika di sana, Hetifah punya banyak program pada semua pengurus. Padahal waktu itu, banyak sekali calon dari dan luar Kaltim yang “bertarung” menjadi calon anggota legislatif. Namun banyak masyarakat menilai, mereka lebih banyak janji-janji.
“Mereka selalu umbar kata ‘kalau-kalau saja, yakni kalau saya terpilih’. Tetapi ibu membuktikan dengan beberapa program yang langsung dijalankan,” puji Sais. “Kalo cuma teriak-teriak aja, pasti ibu tidak akan mungkin terpilih.”
Sais di depan pintu ruang kerja Hetifah. "Saya berdoa mudah-mudahan ibu bisa dipilih lagi menjadi wakil rakyat Kaltim".
Tambah Sais, bahwa ketika nanti menjadi anggota DPR, seseorang tidak cuma memikirkan satu orang, tetapi ia harus memikirkan seluruh masyarakat Indonesia. Pada saat itu, nampak calon anggota legislatif tidak berpikir sejauh itu. Puji Sais, berbeda dengan Hetifah, yang kebetulan sebelumnya memang sudah berperan aktif sebagai aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dimana selalu mengadvokasi rakyat kecil.
“Kalo ibu sudah menanam, ia tinggal menuai hasilnya,” kata Sais yang mencoba membuat pribahasa untuk seorang Hetifah.
Sais yang mewakili warga Kaltim mengungkapkan rasa syukur dan bangga, karena sudah ada dua orang dari Partai Golkar yang duduk di DPR. Namun begitu, ia berharap, di tahun-tahun mendatang bukan cuma dua anggota Partai Golkar yang mewakili Kaltim di parlemen, tetapi lebih dari itu, sehingga terjadi peningkatan.
“Memang tiap orang yang sudah naik menjadi anggota, banyak sekali tantangan, baik orang dari luar maupun orang dari dalam,” komentar Sais. “Di dalam partai itu sendiri seringkali saling mencari kelemahan-kelemahan seseorang. Itulah ciri khas partai politik. Kalo bukan begitu, ya bukan partai politik.”
saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna