Pramuka Jepang Dulu dan Kini: Hasil Studi Banding Panja Pramuka DPR ke Jepang

Sejarah kepramukaan di Jepang boleh dibilang cukup unik. Sebuah buku tentang kepramukaan yang ditulis oleh seorang warga Negara Inggris masuk ke Jepang pada 1908. Buku yang ditulis tahun 1907 tersebut ternyata dibaca oleh orang Jepang dan sangat menarik. Gerakan kepramukan kemudian berkembang secara sporadis di Jepang. Mereka tidak dikelola dalam satu institusi. Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun. Namun Pangeran Jepang Adide kemudian berinisiatif untuk menyatukan. Tepat pada tanggal 13 April 1922, secara resmi berdiri organisasi kepramukaan di Jepang. Saat ini ada dua organisasi kepramukaan di Jepang. Total anggota Pramuka berjumlah lebih dari 157 ribu orang. Selain itu, yang menarik, ada organisasi kepramukaan wanita atau girl scout, yang sekrang sudah berjumlah 20 ribu orang. Sejak kepramukaan disatukan dalam wadah organisasi, Pramuka maju pesat. Selain di bawah satu komando, Pramuka juga didukung penuh oleh pemerintah dan juga Kaisar Jepang. Kebetulan sekolah tempat anak-anak dan cucu-cucu Kaisar bersekolah terdapat gerakan kepramukaan. Pramuka di sekolah memiliki pembina-pembina yang handal. Ini juga merupakan faktor perkembangan pramuka di Jepang. Para pembina ini tidak hanya difokuskan pada satu daerah atau lokasi, tetapi disebar ke seluruh sekolah Jepang. Kume adalah salah seorang almuni sekolah tempat anak-anak serta cucu-cucu Kaisar menuntut ilmu. Bapak ini dikenal sebagai pembina pramuka handal. Meski sudah berusia 60 tahun lebih, mantan Duta Besar Jepang untuk Jerman ini tetap menjadi pembina gerakan kepramukaan. Saat ini jabatan Kume adalah Ketua Aosiasi Kepanduan Nasional Jepang. Pramuka di Jepang juga didukung oleh parlemen, baik yang duduk di majelis rendah maupun majelis tinggi. Bentuk dukungan ini dibuktikan dengan berdirinya sebuah grup atau komunitas. Para anggota yang berjumlah 150 orang ini dengan sukarela bergabung menjadi anggota Pramuka. Komunitas parlemen ini membentuk wadah yang menampung seluruh anggota parlemen dari seluruh dunia yang berkeinginan untuk memajukan gerakan kepramukaan. Wadah ini diberinama World Scout Parliamentary (WSPU). Sayang, parlemen di Indonesia belum bergabung dalam wadah ini. Mengenai pendanaan, gerakan kepramukaan di Jepang menggunakan dana dari iuran setiap anggota dan hasil usaha. Saat ini iuran anggota per tahun cukup murah, yakni sekitar 1.500 yen atau senilai Rp 150 ribu. Jika saat ini anggota Pramuka Jepang sudah mencapai 157 ribu anggota, maka dana per tahun yang dimiliki adalah 30-50 juta yen per tahun. Selain dari iuran anggota, ada juga dari hasil usaha. Dari unit-unit usaha yang dimiliki oleh organisasi Parmuka di Jepang, omzet yang diterima dan masuk kas sekitar 450 juta yen atau senilai Rp 45 milyar. Itu belum dipotong keuntungan bersih. Jika dipotong, maka organisasi ini berhasil meraih sekitar 180 juta yen (Rp 18 milyar). Luar biasa bukan? Para donatur yang terdiri dari mantan pembina juga memberikan dana. Tahun 2010 ini dana dari donatur berjumlah Rp 45 juta yen. Lalu ada pula dari perusahaan swasta yang kebetulan menaruh perhatian pada gerakan kepramukaan, dimana berhasil menyumbang total 20 juta yen di tahun 2010 ini. Sementara itu, pemerintah juga turut andil dalam pemberian dana. Meski tidak rutin, namun lewat Departemen Pendidikan, pemerintah tetap memberikan dana setiap pelaksanaan Jambore. Untuk mendapatkannya pun tidak langsung diberikan, tetapi organisasi kepramukaan ini harus membuatkan proposal. Tahun ini dana yang diberikan pemerintah untuk Pramuka Jepang senilai 50 juta yen atau Rp 5 milyar. Pada tahun 2015 nanti akan ada jambore di Jepang. Bukan jambore khusus untuk kepramukaan negeri matahari terbit ini, tetapi jambore dunia ke-23. Tempat berlangsungnya di Yamaguchi, Jepang. Sementara itu sebelumnya, di tahun 2013 akan ada jambore Asia-Pacific. Sebagai Ketua Aosiasi Kepanduan Nasional Jepang, Kume mengharapkan partisipasi Pramuka Indonesia berpartisipasi di dua event tersebut. Hal senada juga diucapkan oleh Toshihito Yoshida (Sekretaris Asosiasi Kepanduan Nasional Jepang) dan Motegi Tatsuro (Wakil Sekretaris Asosiasi Kepanduan Jepang).

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi