Bangsa Indonesia Salah Didik Sejak TK

Pernyataan tersebut diungkapkan Wismi, seorang pendiri Sekolah Al-Falah di Ciracas, Jakarta Timur, ketika ditanya mengenai penggunaan bahasa Indonesia pada generasi sekarang ini. Menurut perempuan ini, seharusnya menggajarkan bahasa Indonesia itu sudah dilakukan sejak TK. Ungkapan Wismi tersebut diamini oleh Yudhistira Massardi, sastrawan yang kini dikenal sebagai pemilik Media TK Sentra. “Itu antara lain karena anak-anak tidak diajari bahasa yang baik dan terstruktur sejak dini. Akibatnya? Ya, berantakan seperti sekarang ini,” ujar Yudhistira. “Bangsa kita tidak bisa memaknai ungkapan moyangnya yang indah dan sangat benar: ‘bahasa menunjukan bangsa’.” Kondisi itulah yang kemudian membuat Wismi membawa Metode Sentra ke Indonesia. Metode ini memungkinkan mengajarkan bahasa Indonesia yang baku (penggunaan Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan-pen), digunakan secara berdisiplin oleh guru dan murid. Bukan cuma Wismi dan Yudistira yang concern terhadap perkembangan bahasa Indonesia, tetapi juga Ketua Program Studi Indonesia Universitas Indonesia, Maria Josephine Mantik. Menurut Maria, perkembangan zaman dan teknologi informasi telah menggiring kaum muda untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri, hingga bisa mengancam bahasa Indonesia. "Bahasa Indonesia yang baik dan benar pun jadi korbannya dan kalau mau menggunakan bahasa Indonesia total saja. Jangan dicampur dengan bahasa rekaan sendiri atas nama bahasa gaul," kata Maria seperti dikutip dari situs www.gatra.com. Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa, lanjut Maria. Oleh karena itu, tidak pantas perkembangan zaman dan perubahan teknologi komunikasi, menggerusnya. Pergeseran tersebut bisa terlihat dari SMA via telepon selular maupun cara berkomunikasi via dunia maya yang terjadi di jejaring sosial semacam Facebook. Maria tidak serta merta menolak keras bahasa gaul atau yang kerap disebut bahasa "alay" tersebut dalam perkembangan bahasa di Indonesia. Namun menurutnya, asal dikendalikan, jangan kebablasan seperti sekarang ini, setiap saat mempergunakan bahasa gaul, tidak lagi melihat tempat dan momennya. Apa pengaruhnya? Pengaruhnya, pengetahuan kaum muda, termasuk mahasiswa dalam penggunaan bahasa Indonesia menjadi sangat minim. Ini diketahui saat mereka membuat makalah atau presentasi. Banyak mahasiswa yang tidak mengerti penggunaan tata bahasa Indonesia karena kerap menggunakan bahasa "alay" dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu pengamat komunikasi Dian Budiargo menuturkan, penggunaan bahasa "alay" bisa menyebabkan pembentukkan pemahaman yang mengkristal di kaum muda. Hal ini dikhawatirkan akan merusak tatanan bahasa Indonesia. "Seperti kata lu dan gue, jika dua kata itu digunakan antar teman tidak akan menjadi masalah. Namun jika digunakan pada acara formal, maka akan muncul anggapan rendahnya tingkat profesionalisme seseorang dalam suatu hubungan kerja," ujar Dian. Untuk menghindari makin hilangnya pemahaman kaum muda dan masyarakat tentang bahasa Indonesia adalah perlunya ditanamkan kesadaran dan pemahaman membedakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai konteks," tutur Dian. Salah satu orangtua murid, Naratama Rukmananda, berpendapat, seharusnya kita justru bersyukur, bahasa Indonesia terus beradaptasi dan mampu menyerap berbagai bahasa sesuai dengan era digital masa kini. “Kalau yang dipersoalkan mahasiswa yang kurang mampu menulis paper atau tesis, itu bukan soal bahasa gaul, tetapi persoalan sistem pendidikan dasar kita yang kurang mampu meningkatkan minat baca anak-anak dari SD hingga SMU,” papar pria yang akrab disapa Nara ini. “Jadi bukan soal bahasa ‘gaul’-nya. Biarkan saja bahasa ini berkembang dan terus bersoasialisasi dengan dunia digital saat ini”. Nara membandingkan, anaknya yang kebetulan sekolah SMP di Washinton DC, Amerika Serikat, setiap hari harus membaca chapter book atau buku cerita tanpa gambar minimal 20 menit. Biasanya, karena asyik membaca, sang anak akan terbiasa membaca rata-rata 1 jam setiap hari. Belum lagi, anak-anak SMP sudah diminta untuk membaca koran, minimal headline news. “Dengan begitu, mereka mengikuti perkembangan berita dan ditelaah di kelas atau menjadi percakapan di rumah. Guru dan orang tua kemudian memberikan penjelasan langsung sesuai dengan logika anak-anak seumur itu,” ujar Nara. Meskipun sedikit berbeda pendapat soal bahasa Indonesia pada anak-anak muda atau mahasiswa, Nara tetap sejalan dengan pendapat Maria dan Dian, bahwa kita tetap harus bisa menempatkan penggunaan bahasa sesuai dengan situasinya. "Di era global, penguasaan bahasa asing tetap diperlukan. Namun yang lebih penting adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sehingga kekhawtairan kita akan buramnya penggunaan bahasa Indonesia di media digital yang dianggap tidak baik dan tidak benar tidak akan terjadi," terang Dian.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

Lihat semua aspirasi