Dukungan Hetifah, Stamina Ningsih

Nampak terpancar rasa kagum dan bangga di wajah Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP begitu membaca harian Kompas edisi Kamis, 19 Agustus 2010 kemarin. Di rubrik Sosok halaman 16 di harian ini, anggota DPR RI Komisi X ini melihat perempuan yang aktif di organisasi Perintis Sarikat Hijau dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Perempuan itu bernama Prapti Wahyuningsih atau akrab disapa Ningsih. Tulis Kompas, Ningsih adalah perempuan yang sejak berusia 11 tahun menjadi buruh. Pada tahun 1999, ia memilih berhenti menjadi buruh dan berkonsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Lalu ia merintis Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan membaca anak di sekitar tempat tinggalnya. Buat Hetifah, Ningsih bukan orang baru. Mereka saling mengagumi dengan aktivitas masing-masing. Hetifah mengagumi Ningsih, karena begitu semangat dengan komitmennya mengadvokasi kaum marjinal lewat serangkaian aktivitasnya. Sebaliknya Ningsih begitu kagum dengan Hetifah yang puluhan tahun berkecimpung di dunia LSM yang juga banyak membantu kaum marjinal. web114 Dukungan Hetifah, Stamina Ningsih Foto: Cornelius Helmy Herlambang/ Kompas Kekaguman Ningsih pada Hetifah dibuktikan dengan SMS yang selalu ia simpan sejak tahun 2009. SMS yang dikirim Hetifah pada tanggal 29 September 2009 –menjelang pelantikannya sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014- itu memberi motivasi perempuan kelahiran Solo ini. “Untuk sahabat dan rekan-rekan yang selama ini mendampingi dan terus memberi semangat dalam tiga hari mendatang saya akan mengikuti kegiatan orientasi dan dilanjutkan dengan upacara pengucapan sumpah dan janji anggota DPR RI pada 1 Oktober 2009. Terima kasih banyak atas segala dukungannya selama ini. Saya berharap ke depan, kita bersama-sama bisa ciptakan terobosan agar kesalahan kebijakan tidak terulang, kepentingan rakyat (Kaltim) bisa didahulukan dan reputasi wakil rakyat bisa diperbaiki. Hetifah”. Membaca Ningsih di Kompas seraya mendekatkan diri diri Hetifah pada tantangan-tantangan yang dihadapi Ningsih. Selain ditertawakan oleh warga sekitar, karena ingin mendirikan sekolah untuk kaum marjinal, putri pasangan Sastro Mulyamto dan Suknem ini mengaku tidak di-support oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jawa Barat dalam menjalankan aktivitasnya. Ia tidak mendapatkan block grant atau bantuan sebagai dana pengelolaan organisasinya. “Masa hanya gara-gara tidak punya Yayasan Ningsih tidak di-support pemerintah?” komentar Hetifah agak kesal. “Padahal aktivitasnya sudah lama dilakukan dan hasilnya pun nyata. Artinya, kegiatan Ningsih bukan bohong-bohongan. Harusnya organisasi seperti yang dibuat Ningsih inilah yang perlu di-support, diberikan bantuan, bukan mereka yang cuma punya Yayasan, tetapi aktivitasnya tidak jelas.” Menurut Hetifah, selama ini memang banyak bantuan yang salah tempat. Bukan diberikan kepada organisasi atau LSM yang sudah lama mengadvokasi kaum marjinal. Tetapi seharunya Pemkot, Pemerintah Kabupaten (Pemkab), maupun pemerintah pusat memfasilitasi dalam pendanaan organisasi seperti yang Ningsih lakukan. “Saya tidak akan pernah berhenti untuk membantu orang-orang seperti Ningsih,” janji Hetifah. “Saya akan mendesak Pemerintah agar segera mengucurkan dana kepada Ningsih.” Meski block grant belum juga dinikmati Ningsih, tetapi perempuan kelahiran 26 Januari 1978 ini tetap menjalankan aktivitasnya. Pada tahun 2007, ia pergi ke Bandung dan bergabung dengan Walhi. Berbekal ketrampilan menganyam daun kelapa sawit, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan pedang-pedangan hingga dompet. Sampai kemudian ia menyewa rumah di daerah Cigending, Ujungberung, Bandung dan mengajarkan ibu rumah tangga membuat ketrampilan dari bahan baku plastik. Sejak itulah konsep sekolah berbasis pelestarian lingkungan diterakapkan olehnya. Sejak Maret 2010, bersama masyarakat ia berhasil mendirikan taman kanak-kanak di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Perempuan yang menolak beasiswa pendidikan tinggi negeri dari salah satu perusahaan karena perbedaan prinsip ini diminta beberapa kali untuk berbagi ilmu di beberapa tempat. Hebatnya, ia pernah didaulat menjadi Guru Tamu untuk mengajarkan kewirausahaan dan lingkungan. Kelar membaca Kompas, Hetifah mengirimkan SMS pada perempuan yang pada 21 April lalu menerima penghargaan A Tribute to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall dan Lembaga Kantor Berita Antara ini. Isi SMSnya tidak lain memberi semangat plus motivasi pada Ningsih. SMS Hetifah pun kemudian dibalas oleh Ningsih. “Haturnuhun ibu. Saran-kritik-dukungan dari ibu sekeluarga adalah stamina ningsih. Ayo ibu kita buktikan bahwa cinta dan berbagi untuk sebuah karya itu masih murni nyata ada. Jaga ksehatan ya ibu”.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

Lihat semua aspirasi