Museum itu tampak sepi. Berbeda dengan jalan raya yang begitu hiruk-pikuk. Di pojok teras depan museum, terlihat seorang
security duduk sibuk membuka-buka koran. Sambil menunggu tamu museum, ia pun sesekali mengepulkan asap rokok.
Hari itu
weekend. Seperti juga hari-hari kerja, museum yang terletak di jalan Kramat Raya ini jarang dikunjungi oleh tamu, baik pelajar maupun wisatawan. Saking sepi, baik meja maupun kursi yang ada di ruang diorama bertumpuk debu. Kaca dioramanya pun terlihat kusam.
Patung W.R. Soepratman yang sedang main biola dihadapan beberapa orang. Lagu Indonesia Raya karya W.R. Soepratmen dinyanyikan pertama kali pada kongres pemuda.
Begitulah kondisi museum Sumpah Pemuda. Mengenaskan. Seperti kata pepatah: hidup segan, mati tak mau. Bayangkan, museum ini sudah dikelilingi oleh pusat bisnis di Jakarta. Tak heran jika jalan raya di depan museum selalu pedat. Namun yang menyedihkan, persis di depa pagar museum, dijadikan sebagai lokasi usaha las ketok duco. Seperti tidak menghargai, bahwa museum tersebut dahulu menjadi tempat strategis berkumpulnya pemuda-pemudi dari seluruh daerah di Indonesia.
Kondisi mengenaskan tersebut dirasakan oleh anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. Menurutnya, seharusnya museum bisa dijadikan destinasi utama para wisatawan, baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).
“Biasanya sebelum keliling kota, para wisman berkunjung ke museum,” ujar Hetifah. “Oleh karena itu, museum harus dibuat menarik dan nyaman.”
Berbeda dari Museum Sumpah Pemuda yang sepi, di beberapa museum justru ramai dikunjungi, bahkan terjadi peningkatan pengunjung. Museum Sejarah (Fatahillah) misalnya. Menurut Kasubag TU Museum Sejarah Irfal, jumlah pengunjung museum ini di tahun 2009 lalu meningkat sekitar 200 persen dibandingkan tahun 2008."Jumlah pengunjung museum Fatahallah selama tahun 2009 mencapai sekitar 280.000. Ini seiring dengan makin meningkatnya promosi dan pembenahan kawasan Kota Tua,” ucap Irfal.

Peningkatan yang sama juga dialami oleh Museum Geologi yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Menurut Kepala Museum Geologi, Yunus Kusumahbrata, terjadi peningkatan pengunjung dari tahun sebelumnya. Sejak Januari hingga Juni 2010, pengunjung Museum Geologi menembus angka 260 ribu.
Data terakhir tentang peningkatan museum terdapat di Museum Cakraningrat, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Sejak dioperasikannya jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) terjadi peningkatan pengunjung museum secara drastis.
"Peningkatannya hampir lima kali lipat dibanding sebelum ada Jembatan Suramadu," kata Kasi Museum dan Purbakala, Dinas Pemuda Olah raga, Kebudayaan dan Pariwisata, Didik Wahyudi di Bangkalan.
Ia menyebutkan, sebelum dibangun Jembatan Suramadu, jumlah pengunjung hanya 200 sampai 250 orang per bulan, tapi kini mencapai 1.000 sampai 1.100 orang. Hebatnya, pengunjung yang datang ke museum itu bukan hanya warga lokal Madura, tetapi juga dari Pulau Jawa dan Bali, bahkan ada yang dari Negeri Belanda.
Peningkatan pagu yang diprogramkan oleh Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, menurut Hetifah, sangat menggembirakan. Seperti diketahui, dalam pagu tahun 2011, terjadi kenaikan alokasi anggaran sebesar 462,32%. Dari angka 462,32% tersebut, angka Rp 103 milyar akan dialokasikan ke 30 museum daerah. Sementara Rp 10 milyar akan dialokasikan untuk melaksanakan Gerakan Nasional Cinta Museum.

Salah satu museum yang akan direvitalisasi adalah Museum Sumpah Pemuda. Museum ini berdasarkan pagu tahun 2011 akan mendapat suntikan dana per tahun sebanyak Rp 3 milyar. Selain Museum Sumpah Pemuda, museum lain yang mendapatkan dana antara lain Museum Kebangkitan Nasional senilai Rp 5 milyar; Museum Naskah Proklamasi (Rp 5 milyar); Museum Basoeki Abdullah (Rp 7 milyar); dan Museum Benteng Vredeburg (Rp 5 milyar). Sementara ada 25 museum daerah yang juga akan mendapatkan dana dengan total dana senilai Rp 78 milyar.
Hetifah mengharapkan revitalisasi museum ini akan semakin meningkatkan jumlah wisatawan, baik wisman maupun wisnus. Seperti diberitakan di
Koran Jakarta (Senin, 27 September 2010), bahwa terjadi lonjakan turis mancanegara ke Indonesia. Data Januari-Juli 2010, wisman mencapai 4.039.020 orang atau meningkat sebanyak 13,49% dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang berjumlah 3.558.887 orang. Alasan kenaikan tersebut, karena makin variatifnya
event wisata yang dikelola pemerintah, dan promosi wisata yang semakin gencar.
“Bayangkan jika museum sudah direvitalisasi, ini akan juga turut meningkatkan jumlah wisatawan,” komentar Hetifah. “Sebab, museum akan menjadi destinasi wisatawan untuk berkunjung ke suatu tempat.”
Beasiswa
Saya tumbuh di lingkungan yang membuat saya sadar, pendidikan bukan hadiah, tapi jalan. Karena itu saya tidak mau berhenti di tengah. Kalau diberi beasiswa, saya akan pakai waktu dan tenaga untuk belajar sungguh-sungguh. Bukan hanya untuk nilai, tapi supaya nanti saya bisa balik dan ngasih manfaat ke orang-orang yang dulu dukung saya. Saya percaya, ilmu yang baik itu ilmu yang dibagikan. Dan saya ingin jadi salah satu orang yang membuktikannya.
*Aspirasi Saya* Saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar dapat meningkatkan ilmu dan keterampilan. Dengan beasiswa ini, saya berharap bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan kendala biaya. Setelah lulus, saya ingin menggunakan ilmu yang saya dapat untuk bekerja dan membantu keluarga serta masyarakat di lingkungan saya. Saya akan berusaha belajar sebaik mungkin dan menjaga nama baik penerima beasiswa. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.