Kunjungan Staf Ahli Parlemen Timor Leste

PA311697 Kunjungan Staf Ahli Parlemen Timor Leste
Hetifah Menerima Kunjungan Staf Ahli Parlemen Nasional Timor Leste
Jakarta (31/10) -- Pagi ini Anggota Komisi X DPRI RI, Hetifah menerima kunjungan rombongan dari Timor Leste yang bermaksud melakukan studi banding di DPR RI. Rombongan terdiri dari Leoneto Mantilo, Fulgencio Aquino Vierra, Fulgencio Aquino Vierra, dan Helio Frentos yang merupakan Staf Ahli (Researcher) Parlemen Nasional Timor Leste. Menurut Leoneto, mereka ingin mengetahui lebih jauh bagaimana peran supporting system di DPR RI, seperti Tenaga Ahli atau tim peneliti yang ada. Dalam diskusi terungkap, dari segi jumlah, tenaga ahli di parlemen Indonesia lebih banyak dari pada tenaga ahli yang ada di Timor Leste.  Tidak seperti TA (Tenaga Ahli) pada parlemen Indonesia yang terdiri dari tenaga ahli Sekjend dan Baleg, Komisi, Fraksi, serta Pribadi anggota dewan, tenaga ahli pada parlemen nasional Timor Leste hanya terdiri dari tenaga ahli fraksi dan komisi . Terdapat 11 tenaga ahli untuk 9 Fraksi dan 9 komisi di parlemen nasional Timor leste.  Hal ini dikarenakan jumlah anggota parlemen hanya ada 65 orang. Tenaga Ahli di Timor leste bertugas untuk membuat tulisan-tulisan analisis yang dibutuhkan oleh anggota parlemen, selain itu tenaga ahli tersebut juga bertugas sebagai peneiti dan pengolah data-data yang dihasilkan melalui riset-riset yang dilakukan pada direksi penelitian dan informasi teknik. "Di Indonesia lembaga riset tersebut dikenal dengan P3DI (Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi) yang diisi oleh  80 peneliti," ungkap anggota DPR RI dari fraksi Partai Golkar. Analisis data yang mereka tuliskan menjadi bahan-bahan pertimbangan anggota parlemen. Laporan analisa itu ditulis dengan sangat sederhana dalam bentuk paper yang terdiri dari analisa masalah dan rekomendasi solusi kebijakan yang sesuai dengan permasalahan tersebut. Selepas pertemuan dengan Hetifah, Leoneto dan kawan-kawan juga berdiskusi dengan beberapa staf peneliti di P3DI dan Baleg. Humphrey Wangke dan Poltak Partogi dari P3DI yang menyambut rombongan mengungkapkan beberapa prinsip kerja P3DI. Diantaranya berkaitan dengan penyusunan agenda riset yang berbasis pada prolegnas dan bagaimana peneliti P3DI menyokong keperluan anggota maupun pimpinan DPR RI dalam menjalankan tugas di badan kelengkapan maupun komisi. Secara historis, P3DI bermula sejak tahun 1989-1990 dari asistensi yang diberikan oleh The Asia Foundation, salah satu NGO internasional, dan hanya terdiri dari 16 orang staf. Latar belakang ini ternyata tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Timor Leste. Staf yang ada saat ini juga eks konsultan yang semula bekerja untuk NGO yang memberikan asistensi kepada Parlemen Nasional Timor Leste. Poltak Partogi menekankan pentingnya perencanaan dalam penelitian. Selain itu, sebaiknya lembaga pendukung semacam P3DI  di Indonesia maupun negara lainnya memiliki rencana pengembangan dan penguatan lembaga agar dapat meningatkan dukungan terhadap kinerja anggota parlemen dalam menjalankan fungsinya maupun dalam konteks mekanisme check and balances terhadap ekskutif. Yang tidak kalah pentingnya, menurut Poltak, profesionalitas dan objektifitas peneliti dalam menunaikan pekerjaannya. Meskipun bekerja pada lembaga politik, tidak berarti P3DI harus turut dalam pertarungan kepentingan.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi