Keluarga merupakan agen pendidikan karakter. Tanpa dorongan dari keluarga, mustahil anak-anak bisa memiliki karakter sesuai harapan. Pendapat tersebut dikemukaan Imam Budidarmawan Prasodjo di depan seluruh anggota DPR RI Komisi X pada Selasa (31/8) kemarin di gedung Nusantara I gedung MPR/ DPR RI, Jakarta.
Tambah Imam, keluarga merupakan unit yang paling signifikan untuk membentuk anak agar memiliki karakter. Oleh karena itu, dalam hal ini orangtua memiliki peran yang sangat penting. Sebab, anak akan mencontoh apa yang biasa dilakukan oleh orangtua. Anak-anak yang dibesarkan oleh keluarga yang tidak disiplin, akan menghasilkan anak-anak yang di masa dewasanya akan mengalami ketidakdisiplinan dalam hidupnya. Begitu pula jika orangtua korup, anak akan mengikuti jejak orangtuanya untuk menjadi koruptor. Ibarat pepatah, buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya.
Banyak pejabat yang memiliki gelar kesarjanaan palsu. Mereka seolah tidak bisa hidup tanpa gelar.
“Saya sempat dimarahi anak saya, karena mengendarai kendaraan dengan menggunakan SIM yang sudah
expired,” ujar pria yang dikenal sebagai Ketua
Center for Research on Inter group Relations and Conflict Resolution (CERIC) ini. “Bayangkan kalau kita sudah membiasakan mendidik anak kita tanpa disiplin, kita tidak peduli mengendarai mobil dengan SIM
expired itu, bahkan mungkin nekad berkendaraan tanpa SIM”.
Itulah karakter disiplin, tembah Imam. Bahwa pendidikan karakter bukan sekadar slogan, tetapi memang benar-benar harus diberikan contoh. Iman bahkan sempat mengutip ucapan Bung Hatta pada tahun 1957 yang mengatakan, bangsa Indonesia tidak akan berkembang tanpa memiliki karakter.
Dalam kesempatan dengar pendapat dengan anggota Komisi X DPR RI, Imam juga mengkritisi tentang ajaran yang “sesat” yang terjadi dalam pendidikan di tanah air. Bahwa sekolah di Indonesia lebih banyak mengajarkan grammar dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Tak heran lulusan sekolah banyak yang jago grammer. Tetapi giliran diajak berbicara atau berpidato dalam bahasa Inggris, orang Indonesia tidak fasih, bahkan cenderung pasif.
“Kesesatan” lain adalah kita terbiasa mengumpulkan gelar kesarjanaan sebanyak-banyaknya. Seolah, kata lulusan FISIP UI (S1), Kansas State University, Manhattan (S2) dan Brown University, Rhode Island (S3) ini, tak bisa hidup tanpa gelar. Tak heran jika banyak pejabat, termasuk anggota DPR RI, yang gelar kesarjanaannya dipajang sedemikian panjang. Padahal menurut Imam, yang menjadi patokan secara akademis adalah bagaimana cara mengutarakan buat pikiran, pendapat, atau pada saat pidato.
Komisi X DPR RI ketika berlangsung acara dengar pendapat dengan Imam Prasodjo soal pendidikan karakter.
“Kalau sudah pidato, kita bisa melihat gelar yang dimiliki politikus itu asli atau palsu,” kritik Imam. “Itulah jangan heran kalau sekarang ini banyak pejabat yang memiliki gelar kesarjanaan palsu. Ya, karena seolah tanpa gelar tidak bisa hidup”.
Kesalahan-kesalahan itulah yang membuat bangsa Indonesia kelihalangan karakternya. Tambah Imam, saat ini pendidikan nasional justru malah memompa pendidikan sains. Anak-anak dicetak memiliki intelegent yang luar biasa. Orangtua seolah menjadi bangga jika anaknya berhasil mendapat nilai terbaik untuk sains, apalagi sampai memenangkan kejuaraan sains internasional. Namun pemerintah lupa, bahwa pendidikan karakter malah ditinggalkan, dianaktirikan. Sebab, beda sekali antara intelengensia dan karakter.
“Jika intelegensia itu mengolah otak, sebaliknya karakter adalah sebuah prilaku yang sangat dibutuhkan lebih dari sekadar kepintaran,” ujar Iman. “Seseorang yang pintar, tetapi tidak punya kepekaan sosial yang tinggi, itu sangat merugikan.
Humanity adalah karakter. Begitu pula integritas. Tanpa integritas, orang yang pandai tidak akan berarti apa-apa.”
Anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian MPP, Phd sepakat jika pendidikan tidak melulu akademis, tetapi dalam kurikulum juga memasukkan unsur pendidikan budaya dan karakter bangsa, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional.
“Mereka (generasi muda-
pen) tersebut perlu dijabarkan apa itu tujuan penguatan karakter bangsa,” kata Hetifah.
Piramida pembangunan karakter. Keluarga merupakan unit terbesar dalam pengembangan karakter.
Hetifah tidak mempermasalahkan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini masuk atau tidak dimasukkan ke dalam mata pelajaran tersendiri. Yang terpenting, generasi muda harus mengerti, bahwa pendidikan karakter itu penting.
“Hendaknya upaya ini terintegrasi dengan pendidikan di luar sekolah maupun keluarga,” tambah perempuan bersuamikan Ir. Siswanda Harso Sumarto, MPM dan memiliki empat putri ini: Amirah Kaca, Amanda Kistilensa, Asanilta Fahda, dan Nahla Tetrimulya.
Apa yang dikatakan Hetifah sesuai dengan Imam Prasodjo. Bahwa keluarga memang menjadi unit terbesar dalam pembangunan karakter (lihat: piramida pembangunan karakter). Di dalam keluarga, kata Imam, akan diperkenalkan “
learning to do” atau melakukan sesuatu yang positif, agar ketika praktek di lapangan anak memiliki karakter yang baik, baik itu respek pada diri sendiri, respek pada orang lain, bertanggungjawab, maupun jujur.
Namun, lanjut Imam, yang terjadi antara sekolah, komunitas, dan ajaran yang sudah dilakukan dalam keluarga tidak match. Di rumah diajarkan tentang kedisiplinan, tetapi begitu berada di jalan, anak yang sudah diajarkan disiplin menjadi asing, karena mayoritas pengendara kendaraan umum dan pribadi sanga tidak disiplin. Mobil dan motor seenaknya menyerobot
traffic light, meski warna lampu masih merah. Kendaraan bermotor merampas hak pejalan kaki, karena pengendara tanpa rasa bersalah menggunakan pedestarian. Aparat pemerintah yang seharusnya bisa menjadi agen perubahan karakter juga memberi contoh tidak benar dengan masuk ke jalur busway, padahal jalur itu harusnya steril dari kendaraan pribadi.
“Semua kesalahan itu sudah dilakukan secara berjamaah,” komentar pria kelahiran Purwokerto, 15 Pebruari 1960 ini.
Hetifah,"Pendidikan karakter harus diajarkan sejak dini. Mulai dari keluarga".
Menurut Imam, sesungguhnya karater itu sesuatu yang bisa dipelajari. Karakter bukanlah lebel yang melekat sepanjang hidup. Namun masalahnya, siapa pejabat, politisi, atau
public figure yang dijadikan contoh saat ini? Sebab, selama ini mereka yang berbicara soal kejujuran, biasanya adalah pembohong. Pejabat atau politisi yang berbicara tentang pemberantasan korupsi, juga melakukan tindak korupsi.
“Indonesia mengalami apa yang disebut
public distrust. Masyarakat sudah banyak yang tidak mempercayai lagi dengan ucapan pejabat, terasuk anggota DPR RI,” ujar Imam. “Saya tahu, tidak semua anggota DPR yang tidak disiplin atau sering membolos. Banyak teman-teman saya secara individu berkualitas. Namun, karena mayoritas membuat contoh yang kurang baik, maka melahirkan ketidakpercayaan publik pada mereka.”
saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna