Tak terasa tinggal dua hari lagi kita akan memasukki Idul Fitri. Meski pemerintah pusat belum menetapkan tanggal 1 Syahwal 1431 Hijriah, namun mayoritas kaum muslim sudah menetapkan diri, Idul Fitri jatuh pada Juma’t, 10 September 2010. Ini bisa terlihat dari spanduk-spanduk ajakan sholat Ied yang sudah banyak terpasang di beberapa tempat.
Tentu banyak umat muslim yang bergembira menyambut datangnya Idul Fitri. Namun, tak sedikit pula yang menangis, karena akan meninggalkan Ramadhan. Sebab, bulan ke-9 pada kalender Hijriah ini membawa banyak keberkahan dari Allah SWT. Maksud dari penjelasan tersebut bukan berarti di bulan-bulan lain umat muslim tidak mendapat berkah.
Bukan saatnya untuk resisten atau membela diri, tetapi justru menunjukan kinerja, bahwa tak semua anggota DPR RI malas, tukang tidur, tetapi justru giat bekerja.
Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda. Kalau diterjemahkan begini bunyi hadist tersebut, “
dari Abi Hurairoh RA, bahwasanya nabi Muhammad SAW berkata saat Ramadhan telah tiba: telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, pada bulan tersebut engkau diwajibkan berpuasa dan dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan syaithan-syaithan di belenggu, dalam bulan tersebut ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang tidak mampu mendapatkan kebaikan bulan ramadhan tersebut maka haramlah baginya surga (
Riwayat Ahmad, an Nasa'i, dan Baihaqi).
Dari hadits tersebut jelas menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan magfirah, dua sisi yang sangat erat bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan. Di saat Allah SWT menurunkan rahmat-Nya, maka maghfirah-Nya pun turun mengiringi, demikian pula sebaliknya. Ketika rahmat Allah SWT yang diiringi oleh maghfirah-Nya ini mengalir, maka kaum muslim akan mendapatkan jaminan masuk surga dan terhindar dari api neraka. Luar biasa bukan?
Bagi anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, Ramadhan merupakan proses introspeksi diri. Rahmat dan magfirah pasti akan diberikan Allah SWT pada umat muslim, tetapi jika umat muslim tersebut mengakui ada kesalahan sampat dibuat dan tidak resisten terhadap kritik terhadap diri. Juga yang tak kalah penting adalah sabar menghadapi cobaan dan tantangan.
Kritik rakyat bukan ditanggapi dengan marah, justru sebagai introspeksi diri dan berbuat sesuatu untuk rakyat agar wajah DPR tidak semakin terpuruk.
Seperti diketahui, selama Ramadhan ini sejumlah kritik tajam menghantam seluruh anggota DPR RI. Bahwa dikatakan mereka tak beda dengan anggota DPR RI periode sebelum-sebelumnya, yang malas, rajin membolos, dan sering tidur saat sidang. Bahkan periode 2009-2014 ini dianggap lebih parah.
“Situasi yang tidak menggembirakan tersebut jelas memperburuk wajah DPR dan menyurutkan kepercayaan publik pada wakilnya di DPR,” komentar anggota dari Fraksi Golkar dan Daerah Pemilihan Kalimantan Timur ini.
Harus diakui, tambah Hetifah, anggota yang malas, rajin membolos, dan sering tidur memang ada di dalam parlemen. Ia tidak menutup mata terhadap fakta itu. Mayoritas warga menilai, fakta tersebut terjadi pada seluruh anggota DPR RI. Padahal masih ada beberapa anggota yang rajin, idealis, tidak mementingkan diri sendiri, dan selalu dekat dengan masyarakat. Namun, meski masyarakat memberi cap seluruh anggota DPR RI negatif, Hetifah tidak resisten. Ia tetap sabar dan terus menjalankan aktivitasnya di parlemen. Sebab, selama tidak ada satu sistem penilaian dari lembaga DPR dan juga masyarakat terhadap masing-masing anggota, selama itu pula orang akan menilai semua anggota DPR payah.
Dalam kesempatan Ramadhan, Hetifah justru lebih banyak melihat apa yang masih kurang dalam diri dan juga lembaga DPR RI sebagai institusi perjuangannya sekarang ini. Ia bersama teman-teman yang lain, yang berusaha membangun wajah baru DPR RI, terus berjuang tanpa perlu bersikap defensif, tetapi lebih berbuat.
Ramadhan akan membawa rahmat dan magfirah jika kita selalu sabar menghadapi cobaan dan tantangan, tentu juga meningkatkan empati pada rakyat.
“Itulah makna Ramadhan, dimana kami sebagai anggota DPR meninjau ulang kinerja dan prilaku yang selama ini sudah dijalankan,” ujar Hetifah yang dikenal sebagai anggota DPR RI Komisi X ini. “Yang lebih penting, dalam kesempatan Ramadhan ini, sebagai anggota juga harus meredam ambisi pribadi dan terus meningkatkan empati pada kondisi masyarakat yang sedang mengalami tekanan ekonomi.”
Ucapan Hetifah tersebut sebenarnya secara tidak langsung merupakan kritik pada teman-temannya di DPR RI juga, dimana banyak yang memang kurang memiliki empati pada masyarakat. Masalah gedung baru yang akan dibangun misalnya. Tanpa mempolitisir masalah, yakni mengeluarkan statement-statement yang membingungkan dan membuat heboh, seorang anggota DPR seharusnya bisa tidak membuat sakit hati masyarakat. Yang penting sekarang ini, tambah Hetifah, adalah menunjukan kinerja agar citra DPR tidak semakin terpuruk, bukan banyak bicara.
saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna