Selamatkan Remaja Kita

Jakarta, (1/3). Kondisi kehidupan di era revolusi informasi saat ini sangat sulit diprediksi. Peran orang tua pun jadi makin sulit dan kompleks. Anak-anak dan remaja mendapat informasi dari berbagai sumber yang sering bersifat sensasional dan misleading. Masa remaja merupakan fase-fase perkembangan yang terlalu pesat baik secara fisik maupun secara moral. Apabila masa ini tidak dikembangkan dengan baik maka akan muncul masalah seperti pelanggaran dan pengabaian nilai-nilai (Sudarsono,1991:7). Bentuk pelanggaran dan pengabaian nilai dan norma oleh remaja tersebut diantaranya penggunaan narkoba serta perilaku seks bebas. Pengguna narkoba tercatat di tahun 2010 sebanyak 3,2 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 75 persen (2,5 juta jiwa) adalah remaja. Untuk perilaku seks bebas, menurut data BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), sejak tahun 2010 51 persen (atau kira-kira 1 diantara 2 remaja) perempuan di wilayah jabodetabek sudah tidak perawan karena melakukan hubungan seks di luar nikah. Hal serupa juga ditunjukkan oleh hasil studi di beberapa daerah lainnya, seperti Surabaya (54%), Medan (52%), dan Bandung (47%). Fakta-fakta di atas memunculkan keprihatinan sekaligus pertanyaan serius bagi tantangan dan peran orangtua di masa kini. "Kompetensi orang tua untuk membesarkan dan mendidik anaknya mulai dipertanyakan. Kita tidak bisa lagi mengontrol dan memproteksi anak-anak hanya dengan seperangkat aturan. Mereka harus well-informed tentang narkoba, seks bebas, sebabnya dan bagaimana mencegah serta mengatasinya," ujar Hetifah, Anggota Komisi X DPR RI yang salah satunya membidangi masalah pendidikan dan kebudayaan. Menurut Hetifah, anak-anak dan remaja mudah terjerumus karena mereka merasa hidup mereka tidak berarti (under achiever), tidak melihat makna dari hidup dan cemas menghadapi tantangan hidup, merasa tidak dicintai dan tidak didengar, ingin melawan dengan caranya, ingin mendapat sesuatu dengan cara cepat, dan pada saat itu ada orang-orang yang menjebak, menekan, atau menawarkan pelarian dari masalah mereka. Lalu, bagaimana cara mengasuh anak-anak untuk menjadi dewasa dalam lingkungan yang aman? Hetifah, yang juga Ibu dari 4 (empat) orang putri yang sudah dan sedang beranjak remaja ini, berbagi pandangan sebagai sesama orangtua. Dalam penuturannya, Hetifah menekankan perlunya orangtua membangun komunikasi verbal maupun non-verbal seperti sentuhan. "Keluarga harus jadi model demokrasi dimana kesetaraan dan keadilan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Hetifah. Anak-anak harus diberi kesempatan bicara dan mengemukakan aspirasi dan pendapat mereka. Mereka juga harus dilatih bagaimana berlaku sosial, juga hanya dibombardir dengan hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan. Selanjutnya, orangtua juga sebaiknya membantu anak untuk membangun friendship (pertemanan) di sekolah maupun kegiatan luar sekolah (klub olah raga, kegiatan keagamaan) dengan guru dan kawan. "Dorong mereka untuk banyak berdiskusi dengan guru atau teman-temannya," sarannya. Hetifah juga mengungkapkan agar orangtua memahami potensi anak-anak, dan apa kesulitan yang mereka hadapi, termasuk kesulitan emosional. Serta tidak lalai memberikan simpati dan pertolongan praktis jika diperlukan. Berkaitan dengan fenomena perilaku seks bebas di kalangan remaja bahkan hingga munculnya PSK (pekerja seks komersial) remaja, Hetifah menegaskan perlunya diberikan pendidikan sex dan penjelasan tentang narkoba, rokok, minuman keras yang benar sejak usia dini sehingga anak-anak dan remaja memahami tubuh mereka dan bisa melakukan self-control (pengendalian diri) dan menghindari abuse (pelecehan). Terakhir tapi tidak kalah pentingnya yang herus dilakukan orangtua menurut Anggota DPR asal daerah pemilihan Kaltim ini, "beri contoh di rumah." Namun, disadari juga Hetifah, orang tua tidak sepenuhnya berpengaruh. Perlu kampanye melalui sekolah, media mainstream, dan media alternatif. Perlu aturan pemerintah yang tegas. Termasuk penegakkan hukum terhadap mereka yang merusak generasi muda kita melalui pengedaran narkoba dan praktik seks komersial, terutama di kalangan remaja. Bentuk upaya keluarga dan pemerintah tersebut diperlukan untuk mencegah meluasnya kerusakan moral dan fisik remaja kita. Dengan demikian remaja sebagai penerus bangsa dapat menjadi generasi yang diharapkan untuk meneruskan pembangunan di negeri ini.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi