Banjir masih melanda Samarinda. Bukan kali pertama Samarinda dilanda banjir di musim penghujan seperti ini--kenyataannya, justru Samarinda terhitung sebagai salah satu kota yang paling sering berlangganan banjir di Indonesia. Dibandingkan kota-kota lain di Kalimantan Timur, Samarinda sebagai ibukota provinsi justru lebih memperihatinkan.
Meski Samarinda memiliki pemerintahan kota, pemerintahan provinsi Kaltim bukannya tinggal diam. Saat ini, APBD Kaltim telah mengalokasikan lebih dari Rp 1 triliun untuk Samarinda melalui kontrak tahun jamak: sebesar Rp 600 miliar untuk penanganan banjir dan ditambah lagi Rp 200-an miliar untuk pembangunan Jembatan Kembar. Pelebaran jalan menuju Terminal Peti Kemas Palaran sepanjang 18 kilometer juga dibantu provinsi dengan nilai Rp 300 miliar lebih. Jalur pendekat dan outer ring road juga sedang dibangun. Belum ditambah pembangunan convention hall di dekat GOR Madya Sempaja yang juga dari APBD provinsi.
Hal ini dimungkinkan karena produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim yang terus meningkat. Pada 2009, PDRB-nya Rp 285 triliun. Tahun lalu meningkat menjadi Rp 350 triliun.
Adanya sejumlah yang diberikan dari APBD Kaltim ini memungkinkan pemkot Samarinda untuk bekerjasama dengan pemprov Kaltim. "Kami harus bersinergi dengan Pemprov, untuk mengefisienkan anggaran, karena anggaran Pemkot saat ini terbatas,” ujar Wakil Wali Kota (Wawali) Nusyirwan Ismail, seperti dilaporkan Kaltim Post Online.
Program Prioritas Pengendalian Banjir Samarinda
Dari situasi tersebut, dicetuskan rancangan pengendalian banjir untuk kota Samarinda. Bebarapa program prioritas dirancang berdasarkan hasil studi dan perkembangan permasalahan di lapangan terkait dengan pengendalian banjir Kota Samarinda, yang antara lain adalah:
1. Kelanjutan perkuatan tebing dan Normalisasi sungai Karangmumus
Kegiatan ini merupakan kelanjutan pekerjaan pengendalian banjir sungai Karangmumus secara menyeluruh sepanjang 15 Km. Hal ini penting dilakukan karena sebagian besar permasalahan rawan banjir Kota Samarinda karena luapan sungai Karangmumus dan adanya hambatan air masuk ke Sungai Karangmumus. Selain sasaran di atas dengan normalisasi sungai Karangmumus secara tidak langsung juga melakukan penataan bantaran sungai, sehingga batas daerah penguasaan sungai akan menjadi jelas.
2. Pembangunan Bendali Banjir Sempaja
Kegiatan ini bertujuan untuk pengendalian banjir di kawasan Sempaja, dimana sasaran yang ingin dicapai adalah mengurangi luas genangan banjir dari 10 Ha menjadi kurang dari 4 Ha. Pengendalian banjir ini dapat dilakukan dengan mereduksi debit banjir dari daerah hulu (kapasitas alur sungai hilir ± 9 m3/dt). Dengan bendali nantinya debit banjir dapat diatur dengan pembuatan waduk sehingga kapsitas alur sungai di daerah hilir mampu mengalirkan air tanpa melimpas.
3. Normalisasi dan relokasi sebagian alur sungai Simpang Pasir
Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan normalisasi alur sungai (3,5 Km) dan merelokasi sebagian alur yang berada di kaki lereng bukit. Sasaran yang ingin dicapai adalah membebaskan daerah rawan genangan banjir Desa Simpang Pasir (resiko banjir 10 tahunan) dan pengamanan Stadion Utama. Saat ini kegiatan hampir selesai secara keseluruhan.
4. Pembangunan Bendali Banjir Suryanata
Tujuan kegiatan ini adalah membuat sebuah bangunan pengendali banjir di daerah Suryanata dengan sasaran kegiatan untuk mengendalikan banjir di Kawasan Air Putih, Jl. Suryanata, Jl. Antasari dan mengurangi beban banjir di sungai Karangasam Kecil. Dengan pengembangan bendali Suryanata ini diharapkan genangan di lokasi tersebut dapat dikendalikan sampai tingkat terendah untuk resiko banjir 10 tahunan.
5. Pembenahan dan Peningkatan Fungsi Sistem Drainase
Maksud dari kegiatan ini adalah penataan/pembenahan sistem drainase yang ada dan peningkatan fungsi drainase dalam mengurangi daerah rawan banjir. Sasaran kegiatan ini adalah terciptanya sistem drainase kota Samarinda yang benar dan memperlancar aliran di saluran drainase, sehingga luas genangan akibat hujan lokal dapat dipersempit.
6. Pengembangan Beberapa Kolam Retensi Banjir
Sesuai dengan Masterplan Pengendalian Banjir Kota Samarinda, terdapat beberapa potensi kolam pengendali banjir seperti Kolam Retensi Damanhuri, Gunung Lingai, Bengkuring yang mana masing-masing mempunyai fungsi mereduksi banjir sebelum masuk ke daerah rawan banjir.
7. Konservasi DAS Kota Samarinda
Untuk mengurangi laju erosi yang berdampak pada tingginya tingkat sedimentasi di sungai dan saluran drainase dan pengembalian fungsi daerah resapan air di DAS yang ada di Kota Samarinda program konservasi DAS merupakan program prioritas. Untuk menyelaraskan dan lebih terkoordinasinya program ini diharapkan terjalinnya kerja sama antara Pemerintah dan organisasi-organisasi peduli lingkungan seperti GERHAN, GNKPA dan lainnya
.
Sumber pelengkap:
Kaltim Post Online. Wajah Samarinda Bikin Prihatin. Diakses dari: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/6826/wajah-samarinda-bikin-prihatin-.html
Kaltim Post Online. Pemkot Keteteran Hadapi Kemacetan. Diakses dari: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/6938/pemkot-keteteran-hadapi-kemacetan.html

saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna