Tantangan Perempuan Dalam Parlemen

Sepanjang sejarah pemilu di Indonesia, baru pada Pemilu 2009 ini jumlah perempuan yang berhasil duduk di DPR mencapai seratus orang atau 18% dari total anggota DPR yang berjumlah 560 orang. Mereka berasal dari berbagai partai peserta pemilu 2009, termasuk perempuan dari Partai Golkar. Ada 18 perempuan dari Partai Golkar yang masuk ke parlemen. Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP salah satunya. Perempuan kelahiran Bandung, 30 Oktober 1964 ini mampu meraih suara sebanyak 24.413 di Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur (Kaltim), sehingga mengantarkannya duduk di parlemen sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014. web117 Tantangan Perempuan Dalam Parlemen Kemenangan tersebut tentu membanggakan. Sebab, ia membayangkan keinginannya untuk melakukan perubahan lewat jalur formal, bisa segera dilakukan. Maklumlah, aktivis yang sudah malang melintang di dunia LSM selama puluhan tahun ini menilai advokasi dan aktivitas yang saya lakukan bersama rekan-rekan aktivis sebelum menjadi anggota DPR RI, menghasilkan perubahan yang lambat. “Saya cenderung tak terlalu sabar untuk menunggu proses itu. Saya pun berketetapan hati untuk mengubah strategi, dari awalnya tidak mau bekerjasama dengan lembaga pemerintah, berubah mendorong adanya kemitraan,” ujar Hetifah dalam kesempatan wawancara dengan Sara Schonhardt, seorang freelance reporter untuk majalah Global Post dan Voice of America kemarin (31/08). Dunia parlementaria yang baru membuat Hetifah harus banyak beradaptasi dan bersiasat. Itulah yang kemudian banyak menimbulkan beberapa dilema. Budaya patriarki misalnya. Budaya, dimana masyarakat yang kurang menerima perempuan harus ia hadapi dengan lapang dada. Meski memiliki modal kuat, yakni pengalaman berorganisasi selama puluhan tahun, namun hal tersebut tidak menjamin suaranya langsung bisa dihargai. Ada etika tak tertulis yang mengarah pada budaya patriarki. web217 Tantangan Perempuan Dalam Parlemen “Ibaratnya, meski pintar, perempuan tidak boleh terlalu menonjol dari laki-laki,” ungkapnya. “Namun kondisi tersebut tentu tidak membuat saya lantas menjadi patah semangat, karena membuat startegi lain.” Strategi yang dimaksud Hetifah tak lain adalah melakukan aktivitas di luar parlemen. Hampir sebagian aktivitas ini mengarah pada sebuah bentuk advokasi. Misalnya saja, advokasi untuk perempuan, ia jalankan lewat organisasi yang ia masuki dan kini aktif, yakni Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Seperti kita ketahui, Kowani adalah federasi dari organisasi kemasyarakatan wanita Indonesia yang membawahi berbagai organisasi wanita lain. Melalui organisasi yang berdiri sejak tahun 1928 ini, Hetifah leluasa memantapkan kinerjanya sebagai aktivis perempuan yang juga sebagai anggota parlemen. Strategi tersebut jelas menunjukkan kelihaian lulusan planologi ITB ini untuk memainkan perannya yang tidak bisa dianggap remeh. Advokasi-advokasi yang tidak menjadi isu kuat di parlemen, seperti misalnya kesetaraan gender atau pemberdayaan perempuan, dengan mudah bisa dijalankan lewat organisasi Kowani yang kini dipimpin oleh DR. Dewi Motik Pramono, Msi sebagai Ketua Umum (2009-2014). Selain budaya patriarki, Hetifah juga mengakui adanya dilema dalam kehidupan keluarga. Sebagai anggota DPR RI yang ingin fokus dan serius menjadi wakil rakyat, ia harus bersiasat dengan waktu. Agenda rapat di parlemen yang sangat padat, membuat dirinya harus memberi pengertian pada suami dan anak-anak. web44 Tantangan Perempuan Dalam Parlemen “Saya tidak akan mengkin mengangkat handphone pada saat rapat, padahal yang menelepon adalah anak-anak,” aku Hetifah. “Namun setelah rapat, saya pasti akan menghubungi anak-anak saya dan memberi pengertian pada mereka.” Hetifah memang tidak seperti beberapa anggota lain yang bisa dengan mudah menelepon atau menerima telepon saat rapat. Ia sudah berkomitmen untuk menjaga citra sebagai anggota DPR RI yang belakangan kian terpuruk saja. Salah satu bentuk komitmen itu dengan mengikuti serius rapat tanpa adanya gangguan. Yang terpenting juga adalah menghadiri rapat dengan tepat waktu dan tidak membolos. Selain anak-anak, Hetifah juga memberikan pengertian kepada suami. Sebab, menurutnya, tanpa saling percaya, mustahil hubungan suami-istri bakal kekal. Boleh jadi, jika sang suami tidak percaya, isu-isu yang bisa menjurus pada keretakan rumah tangga bisa saja terjadi. Isu peselingkuhan, misalnya. Atau ketika sang istri tidak respek lagi pada suami, mentang-mentang sudah duduk menjadi anggota DPR RI. “Betapa sibuknya, saya berusaha sekuat tenaga menjadi istri dan ibu yang baik,” katanya. Ketika ditanya oleh Sara Schonhardt tentang perubahan yang dirasakan setelah menjadi anggota DPR RI, Hetifah mengatakan, hal tersebut tentu ada. Jika sebelumnya aktif di dunia LSM ia berada pada lingkungan yang sefaham, namun ketika berada di parlemen hal tersebut belum tentu terjadi. Hetifah mencontohkan dalam sebuah permainan basket. Ia adalah satu dari lima pemain basket. Tentu jika ingin memenangkan permainan, kelima pemain tersebut harus memiliki kerjasama yang luar biasa. Namun, ia seringkali merasa pemain lain tidak membagikan bola basket padanya dan itu tentu menjadi sangat sia-sia berada di lapangan. web61 Tantangan Perempuan Dalam Parlemen “Buat apa main kalau tidak diberikan bola?” tanyanya. “Oleh karena itu saya sempat berpikir, barangkali saya harus pindah ke tim lain dan main di lapangan lain atau memang keempat pemain bola basket itu harus diganti. Tentu saja untuk main di lapangan baru butuh mencari pemain lagi, begitu pula mengganti keempat pemain tidaklah mudah.” Menurut Hetifah, jalan satu-satunya menjalankan strategi “tarik-ulur”. Ia mencoba sefleksible mungkin berada dalam lingkungan parlemen, sehingga semua dianggap sebagai sahabat. Namun dalam satu titik, terkadang ia harus menentukan pilihan untuk bersikap. Sebab, ia mengaku dalam dirinya masih tersimpan idealiasme yang tinggi, tetapi di satu sisi harus menyiasati diri dan tetap menjaga etika, karena dirinya tetap mewakili partai politik dan juga sebagai anggota legislatif. “Itulah tantangan seorang perempuan dalam parlemen,” ucapnya.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi