Tiba di Bandara Langsung Ditodong

Reses ala DPR/DPD Dapil Kaltim; Hetifah (1) HIDUP itu pilihan. Termasuk dalam hal menentukan karir. Mau jadi pengusaha, abdi negara, ataupun wakil rakyat adalah pilihan hidup. Begitu pula jalan hidup Hetifah Sjaifudian, wakil rakyat asal Fraksi Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Kaltim yang kini duduk sebagai anggota Komisi X DPR RI. GAYA bicaranya ramah dan santun. Wanita itu memiliki kharisma tersendiri. Bisa dengan nyaman berbincang dengan siapa saja. Tak heran bila mudah akrab dengan siapa saja, baik rekan kerja, staf di gedung DPR/MPR Senayan, maupun awak media. Berikut perbincangan Sapos dengannya terkait hasil reses Masa Persidangan (MP) I tahun sidang 2011 - 2012, saat ditemui di ruangannya, lantai 13 Gedung Nusantara 1, Senayan Jakarta. Ia mengaku terkesan saat reses tahun ini yang diselenggarakan awal November lalu. Apalagi,  lebih menyasar ke wilayah perbatasan, tepatnya di Kabupaten Nunukan. Belum sampai 5 menit saat menginjakkan kaki di Bandara Nunukan setelah menempuh 2 jam perjalanan udara dari Balikpapan, Hetifah langsung diadang 4 orang. Dengan logat khas dan tanpa basa-basi, mereka yang mengaku sebagai wakil guru-guru di wilayah perbatasan itu memberondong politisi perempuan yang cukup vokal itu dengan sejumlah pertanyaan. Berikut disusul menyerahkan sejumlah berkas. "Ini bu, daftar teman-teman kami yang belum mendapat tunjangan untuk guru yang bekerja di wilayah perbatasan," kata Hetifah menirukan ucapan para perwakilan guru itu. Diakui Hetifah, persoalan tunjangan bagi guru di wilayah perbatasan menjadi salah satu permasalahan penting dari sekian banyak problematika pendidikan di Nunukan. Bahkan, ia mengaku sudah hampir sering mendengar aspirasi masyarakat dari media aspirasi yang mereka sediakan. "Sebelumnya kami hanya mendengar, belum menengok langsung. Masa reses ini kami bisa maksimalkan waktu melihat kondisi sebenarnya," terangnya. Ia bahkan hampir mengunjungi empat kabupaten di Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Yakni Krayan, Sebuku, Sebatik, serta Nunukan. Bahkan sempat mengajar di salah satu SD di Krayan. Tak hanya itu. Hetifah menyempatkan diri menengok beberapa sekolah bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKi) di Tawau, Sabah Malaysia. Dari pengamatannya, ia mengakui, masih kental gap antara warga Indonesia dan Malaysia di wilayah perbatasan. Warga Indonesia cenderung dilihat sebagai warga terbelakang. "Kami menyadari, masih banyak hal yang seyogyanya mendapat perhatian serius pemerintah pusat. Mulai persoalan kesejahteraan guru, sarana dan prasarana pendidikan, anggaran bagi masyarakat perbatasan, perhatian untuk pendidikan anak-anak TKI, hingga masalah link-match pendidikan dan lapangan kerja," jabarnya. Ia mencontohkan seperti pengelolaan Dana Alokasi Khusus (DAK). Realisasinya sebagian besar tidak sesuai kebutuhan. Misalkan dengan menambah Ruang Kegiatan Belajar (RKB). Padahal, kenyataannya masyarakat lebih memerlukan asrama akibat jarak tempuh yang terlalu jauh. Karena itu, ia merekomendasikan beberapa solusi. Di antaranya, mengoptimalkan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPB) untuk berkoordinasi dan bekerjasama dengan pemangku kepentingan pendidikan di daerah perbatasan. Juga mendorong pembentukan kaukus DPR RI untuk perbatasan sebagai bagian dari pengawasan dan pengawalan program khusus di wilayah perbatasan. Selain itu data base tentang perbatasan juga harus dirapikan kembali. Berikut mengaeavluasi juklak dan juknis DAK. Kemudian, pemberian tunjangan bagi guru di perbatasan juga perlu dievaluasi kembali agar bisa tepat sasaran. "Program peningkatan kompetensi dan mutu tenaga pendidik juga harus diintensifkan. Begitupun pemenuhan hak-hak anak TKI, agar tidak sampai ada anak bangsa yang kehilangan hak belajarnya," tandasnya. (yes/kpnn/waz) sumber: http://www.sapos.co.id/index.php/berita/detail/Rubrik/9/26883

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat

  2. ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh

Lihat semua aspirasi