Balada Logistik dalam Harga Buah

Harga buah masih terus merangkak naik. Bulan Mei ini, kenaikan harga mencapai 25 persen. Semenjak pemerintah memperketat persyaratan masuk komoditas hortikultura, harga buah memang melambung di atas kewajaran lantaran pasokannya yang berkurang di pasaran. Bersandar pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 60 Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor Hortikultura, dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 60 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura, pembatasannya meliputi penetapan kuota, penambahan tarif, pembatasan pelabuhan tujuan, dan pelarangan enam jenis buah: pepaya, melon, durian, nanas, pisang, dan mangga. Peraturan ini berlaku untuk masa Januari hingga Juni 2013. Kebijakan itu dimaksudkan untuk melindungi petani lokal dari banjir buah impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor produk hortikultura, termasuk buah, melonjak naik. Tahun 2008, nilai impor produk hortikultura baru mencapai 881,6 juta dolar AS. Tahun 2011, angka itu sudah merangsek hingga 1,7 miliar dolar AS. Terhambat di Infrastruktur Meski bajik, peraturan itu tak serta-merta membuat buah lokal jadi lebih unggul di pasaran. Sebaliknya, buah justru jadi komoditas langka. Khususnya di Jakarta dan sekitarnya, Jawa Barat, serta Lampung, yang biasanya mengandalkan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk produk hortikultura impor. Harga yang naik, omzet pedagang pun ikut berkurang. "Kami mengalami penurunan omzet lebih dari 50 persen karena sepi pembeli," kata I Putu Mas, pedagang Kramat Jati, seperti dilansir TEMPO (23/4). Produk buah lokal yang semestinya mengisi kekosongan dari pembatasan buah impor, rupanya tak terjadi seperti yang diharapkan. Pasalnya, buah lokal menemui beberapa kendala. Preferensi pasar yang lebih menggemari buah impor adalah salah satu perkara. Perkara lainnya, buah lokal terhambat di logistik. Kenaikan harga yang banyak terjadi di daerah Jakarta dan Jawa Barat bukan tanpa alasan. Mendistribusikan buah lokal dari perkebunan yang terletak di luar Jawa Barat justru memakan biaya yang lebih besar. Dalam Forum Bisnis MetroTV (9/5), Khafid Sirotuddin, Pengusaha Eksportir Impotir Buah dan Sayuran Segar (ASEIBSSINDO), menyebutkan lebih murah mendatangkan buah dari Cina ke Jakarta ketimbang dari Pontianak ke Jakarta. Buah dari Pontianak butuh ongkos Rp.1200-1600/kg. Sementara dari Cina hanya butuh Rp.900-1000/kg. Infrastruktur yang buruk adalah kendala utamanya. Sarana jalan yang buruk menghambat pengangkutan buah dari perkebunan ke pelabuhan dan kota besar. Belum lagi adanya pungutan liar, terutama di Jalan Pantura yang melintasi lima provinsi di Jawa. Dibandingkan dengan di Bali, yang punya akses jalan memadai, distribusi di daerah lain lebih sulit. Masalah ini ditambah dengan daya tahan buah yang tidak lama. Dalam empat hari, buah sudah tak layak dikonsumsi. Karena itulah setelah dipanen harus cepat dipasarkan atau terpaksa disingkirkan. Sementara, peralatan pendingin yang mestinya bisa memperpanjang durasi konsumsi buah malah kurang banyak tersedia dalam pengangkutan.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Saya tumbuh di lingkungan yang membuat saya sadar, pendidikan bukan hadiah, tapi jalan. Karena itu saya tidak mau berhenti di tengah. Kalau diberi beasiswa, saya akan pakai waktu dan tenaga untuk belajar sungguh-sungguh. Bukan hanya untuk nilai, tapi supaya nanti saya bisa balik dan ngasih manfaat ke orang-orang yang dulu dukung saya. Saya percaya, ilmu yang baik itu ilmu yang dibagikan. Dan saya ingin jadi salah satu orang yang membuktikannya.

  2. *Aspirasi Saya* Saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar dapat meningkatkan ilmu dan keterampilan. Dengan beasiswa ini, saya berharap bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan kendala biaya. Setelah lulus, saya ingin menggunakan ilmu yang saya dapat untuk bekerja dan membantu keluarga serta masyarakat di lingkungan saya. Saya akan berusaha belajar sebaik mungkin dan menjaga nama baik penerima beasiswa. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.

Lihat semua aspirasi