Pada 15 Juni 2007, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional memutuskan untuk membatalkan kemenangan film
Ekskul dalam kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Piala Citra yang direbut film itu di Festival Film Indonesia (FFI) 2006 ditarik. Pembatalan tersebut akibat dari protes keras sejumlah pemenang Piala Citra. Para pemenang ini mengembalikan piala yang telah dimenangi mereka. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah mengenai masalah hak cipta musik yang digunakan dalam film ini.
Ekskul dinilai melakukan pelanggaran hak cipta dalam penggunaan ilustrasi masuk film.
Berkaca pada peristiwa FFI tahun 2006, FFI 2009 untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Komite Festival Film Indonesia. Selain “membongkar” juri FFI, juga terdapat perubahan lain adalah tidak adanya lagi pembatasan format film untuk kategori film bioskop. Namun, FFI 2009 masih tetap diwarnai pemboikotan oleh Masyarakat Film Indonesia (MFI), yakni gabungan sutradara dan artis, antara lain Riri Reza, Mira Lesmana, Rudi Soedjarwo, dan Hanung Bramantyo.
Film "Eskul" yang diprotes dan membuat FFI diboikot sampai kini.
Pada 2010 ini, FFI akan kembali digelar. Meski begitu, pemboikotan terhadap FFI 2010 masih akan berlangsung. Menurut Ketua FFI Ninik L. Karim, pemboikotan tersebut tidak mematahkan semangat untuk menggelar FFI 2010 ini.
"Berantem itu sebagai bunga-bunga interaksi, itu proses menuju satu kesepahaman. Lagian kalau kooperatif terus itu bertentangan dengan kreativitas," kata Ninik dalam konferensi pers di Blitzmegaplex, Pacific Place, Jakarta, beberapa waktu lalu
"Pada 3 Desember untuk pengumuman nominasi. 17 Desember penganugerahan Piala Citra FFI 2010," kata peraih Piala Citra untuk film 'Ibunda' tersebut.
Panitia optimistis FFI akan tetap sukses meski mendapatkan kendala. Niniek merujuk pada FFI Agustus 2009 yang tetap berlangsung meski ditolak. Panitia terus berusaha mengakomodasi kepentingan semua.
"Tugas komite itu memastikan acara ini berlangsung. Jadi kemudian jika ada yang tidak terakomodasi filmnya itu lepas dari komite dan di luar dari kami, karena semua diputuskan juri," jelas perempuan kelahiran 14 Januari 1949 itu.
Sampai saat ini, sejumlah produser dari beberapa rumah produksi seperti Chand Parvez Servia dari Star Vision, Ody Mulya dari Maxima, Gope Samtany dari RAPI Film, dan Raam Punjabi dari Multi Vision sudah mendaftarkan film mereka untuk diikutkan FFI 2010. Meski hingga saat ini, juri tetap FFI 2010 masih digodok namanya.
Sebagain Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Perfilman saat protes ke anggota DPR RI periode 2009-2014 dan Presiden RI prihal UU tentang Perfilman yang telanjur disahkan pada 8 September 2009.
Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) Deddy Mizwar menyambut baik terselenggaranya FFI. Karena, menurut dia, diboikot atau tidak, FFI harus tetap jalan. ”FFI harus jalan terus,” ujarnya.
Hal senada dikemukakan pemerhati film Indonesia Yan Widjaja, yang menyatakan ada atau tidak dukungan dari sebagian kecil insan film yang merasa memiliki kebenaran secara sepihak, FFI harus tetap diselenggarakan.
FFI 2010 ini sudah dipastikan akan digelar di Batam. Kepastian itu disampaikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar). Pemilihan Batam sebagai tuan rumah FFI 2010, menurut Menbudpar, berdasarkan kesiapan Batam menjadi tuan rumah, sekaligus menyukseskan festival film tertua dan terbesar di Indonesia ini. Wacik melanjutkan, dalam FFI 2010 nanti, lebih dari 50 film Indonesia dipastikan diikutsertakan.
”FFI diharapkan juga dapat menjadi bagian untuk menggalakkan promosi pariwisata di wilayah Indonesia.”
Masih berhubungan dengan film nasional, ada berita menggembirakan, film pendek berjudul
Namesis, karya mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) berhasil menyabet
best cinema work (
best cinematography) dalam Festival Film The Open St Petersburg Student Kesembilan di St Petersburg, Rusia. Mahasiswa yang dimaksud bernama William Chandra.
Sebenarnya, keterkejutan William bukan malam itu saja. Sebelumnya, ketika masuk 400 besar nomintor, ia juga merasa berdebar-debar. Karena tidak punya ongkos, ia akhirnya meminta Ford Foundation membelikannya tiket PP ke Rusia. "Saya baru keluar negeri pertama kali dan kami bisa menang," ujarnya seperti dikutip
Media Indonesia Online (Jumat/08/10).
William Chandra mengaku bahwa untuk membuat film ini ia merogok koceknya sampai Rp 7 juta. Sebagian pemainnya diambil dari Teater Koma dengan bayaran ucapan terima kasih. Sama dengan
crew film yang lainnya. Selain itu ia mengaku mendapatkan kendala teknis seperti kurangnya SDM dan peralatan yang memadai.
Dengan mengikuti film festival ini, William merasa makin percaya diri bahwa orang film Indonesia bisa bersaing di kancah global. Hal itu, katanya, akan makin baik lagi apabila universitas dan pihak-pihak terkait terus memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk melakukan aneka eksperimen dalam bentuk peralatan, dana dan pengetahuan sesuai kemajuan ilmu dan teknologi.
Poster Festival Film The Open St Petersburg Student.
Secara keseluruhan, perhelatan festival yang kesembilan itu banyak diwarnai oleh kemenangan para mahasiswa calon sineas dari Jerman sedangkan negara-negara lain tergolong minim. Indonesia kebagian best cinematography atas nama Chamelia sedangkan Argentina menyabet best script. "Urusan kamera sangat rumit. Kalo di film ini bisa menang berarti kita tidak kalah dengan yang lain (negara lain-
pen)," katanya.
Film
Namesis yang berarti dewi keadilan itu mampu menyisihkan lebih dari 6.000 film yang dibuat mahasiswa yang berasal seluruh dunia. Film yang berdurasi 15 menit ini bertutur tentang perjuangan meraih keadilan. Joan yang diperkosa oleh Reno yang anak seorang pengacara kondang ternyata tidak bisa mendapatkan keadilan di meja hijau.
Kakak Joan akhirnya menempuh jalan lain dengan cara balas dendam (membunuh) seluruh anggota keluarga Reno. Ini menggambarkan bahwa manakala keadilan tidak bisa ditegakkan maka pencarian keadilan dengan cara salah berakibat ketidakadilan yang lain.
saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna