Politik dan Perempuan
Hetifah Dorong Perempuan Aktif Berpolitik
TENGGARONG – Anggota DPR RI dapil Kaltim Hetifah Sjaifudian mendorong agar peserta Latihan Kepempinan Kohati (LKK) HMI tingkat Nasional aktif berpolitik terutama di parlemen. Harapannya, mereka bisa mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak pada perempuan.
Hal itu dikatakan Hetifah di depan sekitar 30 peserta LKK yang berasal dari Pinrang (Sulawesi Selatan), Barabai (Kalimantan Selatan), Tarakan, Samarinda, Balikpapan dan lainnya di Wisma Atlet Tenggarong, Kamis (29/8).
“Wajah politik itu perlu dihiasi oleh perempuan, sebab 50 persen lebih penduduk Indonesia adalah perempuan. Lalu bagaimana keputusan-keputusan politik itu bisa berpihak kepada perempuan jika mereka yang menyusunnya tidak memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan. Namun bukan berarti semua anggota parlemen yang laki-laki tidak paham soal perempuan,” kata anggota Komisi V DPR RI ini.
Hetifah yang membawakan materi dengan tema “Perempuan dan Politik” menambahkan, dulu sewaktu perempuan mengambil cuti hamil, gaji mereka tak dibayarkan. “Tapi karena suara yang pro-perempuan di parlemen begitu kuat, maka saat ini perempuan yang cuti hamil tetap mendapatkan gaji dan waktu cuti hamil menjadi 6 bulan,” kata Hetifah. Pernyataan ini ia ungkapkan menjawab pertanyaan seorang peserta mengapa perempuan harus aktif berpolitik.
Ia melanjutkan saat ini perempuan mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk aktif di dunia politik sebab partai politik harus memenuhi kuota 30 persen untuk perempuan. Sehingga parpol saat ini giat mencari perempuan yang ingin menjadi caleg.
Menurut Hetifah, untuk menjadi caleg, kemampuan finansial memang penting tapi itu bukan yang utama dan satu-satunya faktor yang menentukan orang untuk memenangkan pemilu. “Kekuatan politik itu bukan hanya uang tapi juga jaringan, kompetensi dan bagaimana kita meraih dukungan dan kepercayaan serta menjaganya. Cara bergaul kita juga penting untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan. Karena itu politik itu adalah seni,” tuturnya.
Ia mengakui dalam konteks politik Indonesia hal itu memang tidak mudah. Sebab, dari survei yang pernah ia dapatkan, masyarakat tidak suka dengan politisi yang pelit. Hal inilah yang mendorong politisi untuk royal dan melakukan politik uang. “Image(wajah, red) politik kita memang identik dengan uang..uang..uang.. dan uang.. Karena itu kita harus kreatif dan melihat kekuatan, kita punya apa. Misalnya jaringan, pengetahuan dan cara bergaul kita,” katanya. Hetifah juga memberikan apresiasi kepada peserta LKK yang begitu aktif saat sesi tanya jawab.

Semoga program PIP dapat terus membantu siswa yang membutuhkan agar tetap semangat belajar, meraih cita-cita, dan memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Terimakasih Bu atas bantuannya melalui PIP
semoga PIP terus berjaya