Menunggu Tumbuhnya Pahlawan Baru

Selamat hari pahlawan! Menurut anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, sesungguhnya bangsa Indonesia saat ini menunggu tumbuhnya pahlawan-pahlawan baru, khususnya dari generasi muda. Sebab, generasi yang sekarang ini sedang mengelola negara sulit sekali dimasukkan dalam pahlawan. "Merekalah yang mau menanggung risiko untuk menegakkan hukum, menumpas korupsi, memperjuangkan keadilan, dan menunjukkan solidaritas dan toleransi melalui cara-cara yang sederhana dan jujur dalam berkarya, itulah pahlawan". Namun begitu, "pahlawan" muda yang disiggung oleh Hetifah ternyata banyak muncul beberapa daerah tanpa kita pernah tahu. Rupanya mereka lebih suka berkarya daripada memikirkan pencitraan diri. Sebut saja A'ak Abdullah Al-Kudus (35). Selama ini A'ak dikenal sebagai Laskar Lumajang, karena ia mengumpulkan puluhan anak muda untuk menanam pohon dan merawat lingkungan di 6.000 hektare lahan kritis di Gunung Lemongan, Jawa Timur. Empat tahun berselang, penghijauan A'ak dan kawan-kawan berbuah hasil. Sedikitnya 400 hektare hutan di Gunung Lemongan sudah hijau. Ranu Klakah, danau terpenting di kawasan itu, kembali dipenuhi air. Tak cuma A'ak. Ada Amelia Agustine (14) yang dikenal sebagai "Ratu Sampah". Ia membuktikan, bahwa merawat lingkungan bukan monopoli orang dewasa. Ia membuat komunitas yang mengelola sampah berbasis sekolah lewat program Go to Zero Waste School di Bandung. Luar biasa bukan? Kini SMP Negeri 11, Bandung yang dulu kotor, sekarang menjadi ikon sekolah sehat. Hebatnya, ibu-ibu di sekitar sekolah tersebut mendapat uang tambahan, karena hasil penjualan tas limbah kain. "Program Ami benar-benar bermanfaat," ujar Tati Sulastri (55), penghuni dekat sekolah SMP Negeri 11. Ada lagi "pahlawan" dari Timur, yakni Mansetus K. Balawala. Delapan tahun lalu, ia mendirikan Yayasan Kesehatan Semua, dimana bergerak dalam bidang kesehatan di desa-desa di balik lembah dan bukit Larantuka, Flores Timur. Ia mengerahkan teman-temannya mengendarai sepeda motor untuk menembus desa-desa di Flores. Dengan ransel berisi obat-obatan, tim Mansetus mengantarkan ibu Bidan menghampiri desa-desa yang jauh terpencil. "Menyaksikan orang desa tersenyum, itu balasan yang cukup," ujar Mansetus yang tetap semangat membantu penduduk desa terpencil, meski biaya kembang-kempis. Begitu banyak "pahlawan" muda. Merekalah yang menjadi pahlawan generasi sekarang. Di tengah sikap yang individualistik dan matrialistik, masih ada anak-anak muda yang tumbuh menjadi pahlawan bagi bangsa ini.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Mohon maaf ibu, apakah penerima PIP ini untuk seluruh siswa atau siswa yang terpilih saja? Karena anak saya pernah 2x mendapatkan, tapi sudah 2 tahun terakhir ini tidak mendapat lagi, apa alasannya ya Bu?

  2. Assalamu'alaikum Saya izin ingin bertanya bu ???? apakah pip nunggu 3 bukan bu soalnya saya sudah nunggu sebulan lebih bu ????

  3. Assalamualaikum Ibu Hetifah, Bismillah, semoga Allah mudahkan rejeki anak-anak saya melalui Ibu Hetifah yang mana profesi saya hanya sebagai guru mengaji. Mohon bantuannya Ibu, semoga Allah mudahkan aamiin Allahumma aamiin.

Lihat semua aspirasi