5 Juni 2011 - Sebagaimana berbagai kebijakan pendidikan nasional dan internasional yang bertujuan untuk membangun "Knowledge Societies", universitas dihadapkan dengan tantangan untuk mendefinisikan kembali peran, misi dan tanggung jawab mereka. Lebih dari sebelumnya, perguruan tinggi perlu bergerak menuju artikulasi baru dan lebih jelas seputar strategi dan fungsi mereka. Universitas kini dituntut untuk berusaha menyeimbangkan antara akses dan kualitas pendidikan, dan antara output pendidikan dan lingkungan, sosial dan ekonomis. Kecenderungan ini telah menjadi lebih kompleks sejalan dengan pendidikan tinggi dan penelitian saat ini telah lebih meng-internasional dan meng-global.
The Asia-Europe Foundation (ASEF) dan University of Innsbruck bekerjasama menyelenggarakan lokakarya pada tanggal 6 dan 7 Juni ini. Tema yang diusung adalah "Masyarakat Pengetahuan (Knowledge Societies): Universitas dan Tanggung Jawab Sosial." Program ini bertujuan untuk merangsang adanya refleksi pada orientasi-ulang strategi pendidikan tinggi dan juga mengenai peran universitas. Lokakarya akan menampilkan studi kasus dan praktik terbaik yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk kerja sama lebih lanjut dalam komunitas pendidikan tinggi ASEM (Asia-Europe Meeting).
Duta Besar Nguyen Quoc Khanh, Wakil Direktur Eksekutif ASEF, akan menyambut para peserta untuk Lokakarya. Mag. Elmar Pichl, Kepala Kabinet kepada Menteri Ilmu Pengetahuan dan Penelitian dan Wakil Direktur Jenderal Departemen Penelitian dan Ilmu Pengetahuan Federal Austria, akan menyampaikan Keynote Speech.
Sejumlah peserta terpilih dari berbagai sektor - universitas pemimpin dan staf, peneliti dan mahasiswa, pembuat kebijakan, praktisi bisnis dan media - akan mendiskusikan tanggung jawab sosial universitas '(USR) dalam banyak wajahnya.
Satu-satunya peserta dari Indonesia, Zainal Muttaqin, mengatakan bahwa Indonesia bisa belajar banyak dari Lokakarya ASEF kali ini.
"Temanya University Social Responsibility (USR), mirip dengan CSR (corporate social responsibility) yang sudah lebih dikenal di Indonesia. Apa dan bagaimana perbedaannya? Kemudian apa yang bisa dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi di negara kita yang masih lekat dengan imej "menara gading'? Pada prinsipnya, hasil dari kegiatan ini bisa menambah ilham untuk pengembangan pendidikan tinggi, termasuk dalam penyusunan RUU Pendidikan Tinggi yang sekarang sedang digodok DPR bersama pemerintah," ujar salah satu Tenaga Ahli Anggota DPR RI Komisi X, Hetifah, ini.
Lokakarya Innsbruck adalah yang kedua dalam rangkaian Lokakarya Pendidikan Asia-Eropa. Asia-Europe Foundation (ASEF) menawarkan platform untuk mendiskusikan isu-isu pendidikan di jantung kedua benua. Hasilnya akan menjadi masukan pembahasan Konferensi ASEM ke-3 Rektor '(2012) 2 serta Asia-Europe Meeting 4 Menteri untuk Pendidikan (2013).
Press Release

saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna