Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP: “ITB Membangkitkan Kepekaan Sosial Saya.”

Boleh jadi, perempuan ini tumbuh agak "terlambat". Harap maklum, latar belakang keluarganya yang pejabat itu menjadikan masa kecil sampai SMA sangat teratur. Belajar, belajar, dan tidur siang. Namun, "keterlambatannya" tidak menjadikan dia lantas jauh tertinggal. Ia justru cepat mengejar ketertinggalan, terutama dalam masalah kepekaan sosial. Begitulah kehidupan yang dialami oleh Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. Begitu menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), kepekaannya tumbuh luar biasa. Ia tidak lagi asing dengan dunia kemiskinan atau masalah yang dialami kaum marjinal, sebagaimana masa kecilnya yang dianggapnya biasa-biasa saja dan tidak istimewa. ITB membuka mata dan hatinya untuk serius bersinggungan dengan masalah yang tidak sempat diperhatikan oleh pemerintah. web39 Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP: “ITB Membangkitkan Kepekaan Sosial Saya.” “Saya tidak habis pikir, penelitian yang dilakukan Universitas-Universitas hasilnya selalu bagus-bagus,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 30 Oktober 1964 ini. “Padahal fakta di lapangan jauh bebeda.” Di hadapan wartawan Mimbar Politik Alfons, Hetifah juga mengungkapkan mengenai cita-cita masa kecilnya yang dituliskan di sebuah buku filateli berwarna merah. Ketika anak-anak seusianya memiliki cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau Presiden, aktivis yang memiliki pengalaman bertahun-tahun di dunia LSM ini justru bercita-cita menjadi Ketua MPR. Dimana cita-cita tersebut ternyata sebuah afirmasi yang belakangan benar-benar terkabul. Meski tidak menjadi Ketua MPR, Hetifah berhasil duduk di parlemen di Senayan, Jakarta. web119 Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP: “ITB Membangkitkan Kepekaan Sosial Saya.” Berikut ini, hasil interview wartawan Mimbar Politik Alfons di ruang kerja di gedung Nusantara I dengan perempuan yang saat ini tercatat sebagai anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar). Hasil interview ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Di bawah ini merupakan bagian pertama. Selamat membaca. Bisa ceritakan masa kecil Ibu? Ketika saya masih duduk di bangku SD (Hetifah adalah murid SD Negeri 02 Pejompongan, Jakarta Barat), saya gemar sekali mengumpulkan perangko. Saya punya album filateli. Biasanya di sampul album ada biodata, mulai dari nama, alamat, dan juga cita-cita. Saya masih ingat sekali, di kolom cita-cita, saya menulis cita-cita saya menjadi anggota MPR. Kalau biasanya anak-anak seusia saya bercita-cita menjadi dokter atau insinyur, saya malah justru bercita-cita menjadi Ketua MPR. Waktu itu apa yang membuat Ibu ingin menjadi Ketua MPR? Ada peristiwa yang membuat Ibu kecil terinspirasi? Barangkali waktu itu saya sudah sedikit mengenal struktur dalam pemilihan Presiden. Maklumlah, saya kira-kira sudah duduk ke kelas 4 atau kelas 5. Saya tidak ingat pasti. Namun ketika ada teman saya yang bercita-cita jadi Presiden, saya lebih memilih jadi Ketua MPR. Sebab, Presiden itu dianggap oleh Ketua MPR. Jadi MPR level-nya lebih tinggi dari Presiden. MPR lebih penting lagi jabatannya. Sebenarnya saya heran, tetapi kesadaran itu sudah tumbuh. Selain mengerti struktur kepemerintahan lewat buku, barangkali momentum saya jadi berpikir MPR jauh lebih penting adalah lewat televisi. Saya melihat (alm.) Soeharto ketika dilantik oleh Ketua MPR di TVRI. Saya tidak tahu persis tahun pelantikannya, mungkin tahun 70-an, tetapi saya masih ingat yang dilantik adalah Presiden Soeharto. Saya melihat seorang pemimpin itu begitu penting, khususnya orang yang berada di dalam penyelenggaraan negara. Nah, saya melihat ada institusi lain yang mencetak leader. Walaupun tidak begitu detail mengetahui job desk Ketua MPR, tetapi saya sudah menduga jabatan tersebutlah yang memiliki fungsi pencetak leader. Ya, memang tidak lazim untuk anak seusia saya berpikir sampai sejauh itu. Buku filateli Ibu seperti afirmasi Ya, barangkali begitu. Saya kalau melihat buku yang berwarna merah itu jadi tertawa sendiri. Kebetulan buku filateli saya ini masih ada di rumah saya. Mudah-mudahan tidak lapuk ya, karena tersimpan di rumah saya di Bandung. Bagaimana aktivitas Ibu saat di sekolah dulu? Apakah memang sudah gemar berorganisasi? Sebenarnya sejak SD, SMP, maupun SMA, saya sebenarnya lebih aktif ke pelajaran. Ranking 1 di SMP sampai ketika duduk di SMA 3 Teladan, Jakarta Selatan. Bisa diistilahkan, saya ini kutu butu. Walaupun saya juga aktif di organisasi seperti OSIS, tetapi berorganisasi bukan menjadi hal yang utama. Belajar menjadi utama. Ya, cukup menyesal juga sih. Namun, saya juga sempat menyeimbangkan diri dengan menjalankan hobi. Menari, misalnya. Persaingan yang sudah cukup ketat juga salah satu yang mendorong saya menjadi kutu buku. Sebab, saya merasa kalau tidak belajar dan memiliki nilai yang baik, maka tidak mungkin akan bisa masuk ke sekolah yang baik. Saya sudah berpikir, dengan belajar, kita bisa naik ke level berikutnya. Apalagi saya memang ingin bercita-cita masuk ke perguruan tinggi negeri yang bagus. Jalan satu-satunya ya dengan belajar. Lalu bagaimana Ibu melewati masa kanak? Saya ini adalah anak pegawai negeri. Ayah saya bekerja di PU. Sedang ibu saya ibu rumah tangga. Sebagai anak pegawai negeri, hari-hari saya dilewati tanpa tantangan. Boleh jadi saya ini anak kota banget. Saya tidak pernah mengenal soal kemiskinan. Makumlah, kami tinggal di kompleks PU di Pejompongan. Saya hidup dengan keteraturan. Pergi sekolah di dekat rumah dan pulang sekolah tidur siang. Begitu teratur. Jangan heran kalau saya selalu belajar dan belajar. Namun tentu ada saat-saat saya juga nakal. Ya, nakal anak kecil lah. Saya pernah tidak ingin tidur siang. Saya kabur dari rumah dengan cara memanjat tembok. Ibu saya mencari saya. Mungkin karena dosa pada ibu, gara-gara manjat tembok, tangan saya pernah patah. Selain manjat tembok, saya juga berlari-lari di rawa dekat rumah saya bersama teman-teman. Ya, seperti kebanyakan anak-anak. Kejar-kejaran. Main di lapangan. Pokoknya berpetualangan. Namun sekali lagi, semua itu serba terbatas saya lakukan. Kalau dipikir menyesal juga tidak banyak bermain di masa kecil. Tapi ya seperti itu kehidupan kecil saya. Makanya ayah mengharapkan saya mengikuti jejaknya menjadi pegawai negeri, tetapi saya lebih memilih bekerja di luar pemerintah. web218 Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP: “ITB Membangkitkan Kepekaan Sosial Saya.” Kapan Ibu benar-benar aktif berorganisasi? Barangkali ketika saya masih ke ITB pada tahun 1982. Kampus inilah yang merubah paradigma saya. Kalau sebelumnya saya hanya belajar dan belajar, di ITB saya pergi pagi dan pulang malam lebih banyak berorganisasi. Saya masih ke banyak unit-unit kemahasiswaan yang ada di ITB. Kalau di sekolah seperti ektra kulrikuler lah. Mulai dari unit kebudayaan, maupun forum diskusi. Di ITB ini pula kepekaan sosial saya mulai tumbuh. Saya mulai bergaul dengan masyarakat miskin maupun kaum marjinal. Saya jadi mengenal ‘kehidupan lain’ yang sewaktu kecil jarang saya temui. Kepekaan semakin tumbuh ketika saya sering berdiskusi dan tahu bahwa ternyata ada masalah. Bahwa pemerintah tidak bertanggung jawab. Ada rakyat miskin yang butuh bantuan. Saya juga sempat mempertanyakan, mengapa penelitian yang dilakukan Universitas-Universitas hasilnya selalu bagus-bagus. Padahal fakta yang terjadi di lapangan justru malah sebaliknya. Berdasarkan itulah saya tergerak untuk menjadi peneliti setelah lulus dari ITB. Saya ingin menjadi peneliti yang independen, dimana hasil penelitian saya harus objektif. Tidak selalu mengungkapkan yang bagus-bagus. (bersambung)

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Ibu ini Keukeh sekali memperjuangkan beasiswa PIP anak sekolah ???????????? salut ???????? pokoknya pemilu 2029 ibu harus datang ya ke kampung kami, biar orang tua anaknya tau ini Lo yg memperjuangkan beasiswa PIP...

Lihat semua aspirasi