Media dan politikus ibarat sepasang kekasih. Malu-malu, tapi mau. Di satu pihak saling membutuhkan, di pihak lain saling menjatuhkan. Hal ini dialami oleh semua politikus. Tanpa media, praktis segala aktivitas maupun pernyataan-pernyataan yang perlu dipublikasikan ke masyarakat, tidak mungkin terjadi. Namun sebaliknya, politikus juga bisa berang ketika media mendeskriditkannya atau menulis sesuatu tanpa fakta dan konfirmasi.

Dalam kesempatan di reses masa persidangan IV tahun sidang 2009-2010, anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, PhD melakukan kunjungan kerja di Kaltim Post pada Kamis (5/7). Hetifah –yang anggota Komisi X ini- disambut oleh beberapa pimpinan di koran yang bermarkas di jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan ini, antara lain Tatang (Vice President Kaltim Post), Yudi (Redaktur Pelaksana), dan juga Sugito (Direktur Balikpapan TV).
“Kunjungan ini dalam rangka untuk menjalin komunikasi anggota DPR RI dengan media,” papar Hetifah. “Kehadiran kami di sini tentu akan bisa menghimpun masukan-masukan dari praktisi media tentang bagaimana seharusnya hubungan DPR RI dan media lokal agar bisa tidak terjadi kebuntuan komunikasi.”

Lanjut Hetifah, kunjungan kerjanya ke Kaltim Pos ini juga untuk menyerap gagasan inovatif yang barangkali bisa ditingkatkan ke dalam bentuk kerjasama dua institusi, yakni institusi di DPR RI dan Kaltim Pos. Nantinya jika terjalin kerjasama, dapat dipastikan komunikasi akan mencair.
“Sudah terlalu banyak statement-stetement yang formal. Sudah saatnya gaya kehumasan seperti itu ditinggalkan,” ucap Tatang. “Keterbukaan anggota DPR pada media jelas akan menguntungan kedua belah pihak. Ya, kita tentu tahu ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan. Tetapi banyak juga informasi yang dibutuhkan untuk masyarakat.”

Hetifah sependapat dengan Tatang. Bahwa pencitraan anggota DPR RI yang saat ini mengalami degradasi, itu salah satunya akibat kurang terbukannya anggota pada media, khususnya pada masyarakat. Selama ini anggota cenderung tidak sepenuhnya menyerap aspirasi dari warga masyarakat dari bawah. Kalau kata pepatah, sudah menjabat, lupa turun ke lapangan lagi.
“Gara-gara tidak terbuka, masyarakat kita jadi skeptis dengan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh anggota,” tambah Tatang.
Untuk terus mencairkan komunikasi antardua instansi, Gito mengusulkan dibuat sebuah rubrik khusus yang content-nya berkisar mengenai isu-isu terhangat yang berkembang di masyarakat dan anggota menanggapinya. Misalnya, lanjut Gito, isu mengenai RSBI atau rumah aspirasi.

“Saya sangat setuju dibuat rubrik semacam parlementaria menjawab isu yang sedang berkembang itu,” komentar Hetifah yang kebetulan anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur (Kaltim) ini.
Sebelum mengakhiri kunjungan kerja ke Kaltim Pos, Hetifah sempat diajak berkeliling ke redaksi. Kebetulan saat itu tak banyak wartawan Kaltim Post yang sedang berada di kantor. Menurut Tatang, saat ini konsep koordinasi di Kaltim Pos, termasuk rapat redaksi, yakni dengan menggunakan Blackbarry. Selain ke Kaltim Post, Hetifah juga diajak melihat studio Balikpapan TV.
saya berharap program Beasiswa Ibu Hetifah dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak pelajar yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan. Program ini bukan hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berusaha menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat
ini sngat membantu bagi siswa untuk mendapatkan fasilitas atau peralatan sklh
pendapat saya ini bisa menjadi bantuan yg sngat berguna