Benteng Orange dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Witlentt pada tahun 1609 di Kota Ternate, Malut. Pernah pula menjadi pusat pemerintahan VOC dibawah Gubernur Jendral Jan Pieter Both, Herald Reyist, Laurens Real dan J. C. Coum. Benteng Oranye ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang dibangun oleh Bangsa Portugis dan dihuni oleh orang Melayu, sehingga diberi nama benteng Melayu. Saat ini benteng ini ditempati oleh kesatuan POLRI sebagai asrama dan klinik, serta menjadi barak Angkatan Darat.
Kabarnya, Benteng yang luasnya 2,7 hektar ini akan dipugar oleh Pemda dan dijadikan taman kota, taman budaya, dan taman bacaan masyarakat. Sebelumnya Budayawan memprotes keinginan Pemda tersebut, namun Budayawan tak berdaya. Biaya relokasi 236 KK sangat besar. Butuh Rp 30 milyar.
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Malut, saat ini setidaknya ada 41 benteng di Maluku Utara, di luar benteng Tolukko yang terkenal itu. Salah satunya yang sudah terpugar adalah Benteng Kalamata. Kepala Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Laode Aksa terus berupaya mengadvokasi upaya pemugaran benteng-benteng ini. Walau di tengah keterbatasan anggaran, hal tersebut bukan tugas mudah.
Selain wisata benteng, di Kepulauan Maluku mempunyai banyak sekali obyek wisata, antara lain obyek Wisata Alam (Gunung Gamalama, Danau Tolire, dll), Wisata Sejarah (Istana Kesultanan Ternate, Museum Sonyine Malige), Wisata Budaya (upacara adat Kololie Kie), Wisata Kuliner, Wisata Olah Raga, dan Wisata Belanja.
Berita
Niat Melestarikan Namun Terbentur Biaya
Begitulah realitas yang terjadi di Maluku Utara (Malut). Persoalan klasik ini muncul di Provinsi dengan ibu kotanya Ternate ini. Masalah pelestarian cagar budaya misalnya. Pemeritah Provinsi (Pemprov) merasa terbentur biaya. Padahal selain harus dilestarikan sebagai warisan budaya, selama ini cagar-cagar budaya bisa menjadi objek wisata penghasil devisa. Setidaknya ada 41 cagar budaya yakni benteng peninggalan sejarah sejak zaman Portugis dan Belanda, tapi tidak terawat.
“Saya menyaksikan sendiri benteng Oranye dalam keadaan kumuh dan tidak terpelihara,” ujar anggota DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian dalam kunjungan kerja di Malut pada Senin (20/12) kemarin.
Benteng Orange dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Witlentt pada tahun 1609 di Kota Ternate, Malut. Pernah pula menjadi pusat pemerintahan VOC dibawah Gubernur Jendral Jan Pieter Both, Herald Reyist, Laurens Real dan J. C. Coum. Benteng Oranye ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang dibangun oleh Bangsa Portugis dan dihuni oleh orang Melayu, sehingga diberi nama benteng Melayu. Saat ini benteng ini ditempati oleh kesatuan POLRI sebagai asrama dan klinik, serta menjadi barak Angkatan Darat.
Kabarnya, Benteng yang luasnya 2,7 hektar ini akan dipugar oleh Pemda dan dijadikan taman kota, taman budaya, dan taman bacaan masyarakat. Sebelumnya Budayawan memprotes keinginan Pemda tersebut, namun Budayawan tak berdaya. Biaya relokasi 236 KK sangat besar. Butuh Rp 30 milyar.
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Malut, saat ini setidaknya ada 41 benteng di Maluku Utara, di luar benteng Tolukko yang terkenal itu. Salah satunya yang sudah terpugar adalah Benteng Kalamata. Kepala Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Laode Aksa terus berupaya mengadvokasi upaya pemugaran benteng-benteng ini. Walau di tengah keterbatasan anggaran, hal tersebut bukan tugas mudah.
Selain wisata benteng, di Kepulauan Maluku mempunyai banyak sekali obyek wisata, antara lain obyek Wisata Alam (Gunung Gamalama, Danau Tolire, dll), Wisata Sejarah (Istana Kesultanan Ternate, Museum Sonyine Malige), Wisata Budaya (upacara adat Kololie Kie), Wisata Kuliner, Wisata Olah Raga, dan Wisata Belanja.
Benteng Orange dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Witlentt pada tahun 1609 di Kota Ternate, Malut. Pernah pula menjadi pusat pemerintahan VOC dibawah Gubernur Jendral Jan Pieter Both, Herald Reyist, Laurens Real dan J. C. Coum. Benteng Oranye ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang dibangun oleh Bangsa Portugis dan dihuni oleh orang Melayu, sehingga diberi nama benteng Melayu. Saat ini benteng ini ditempati oleh kesatuan POLRI sebagai asrama dan klinik, serta menjadi barak Angkatan Darat.
Kabarnya, Benteng yang luasnya 2,7 hektar ini akan dipugar oleh Pemda dan dijadikan taman kota, taman budaya, dan taman bacaan masyarakat. Sebelumnya Budayawan memprotes keinginan Pemda tersebut, namun Budayawan tak berdaya. Biaya relokasi 236 KK sangat besar. Butuh Rp 30 milyar.
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Malut, saat ini setidaknya ada 41 benteng di Maluku Utara, di luar benteng Tolukko yang terkenal itu. Salah satunya yang sudah terpugar adalah Benteng Kalamata. Kepala Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Laode Aksa terus berupaya mengadvokasi upaya pemugaran benteng-benteng ini. Walau di tengah keterbatasan anggaran, hal tersebut bukan tugas mudah.
Selain wisata benteng, di Kepulauan Maluku mempunyai banyak sekali obyek wisata, antara lain obyek Wisata Alam (Gunung Gamalama, Danau Tolire, dll), Wisata Sejarah (Istana Kesultanan Ternate, Museum Sonyine Malige), Wisata Budaya (upacara adat Kololie Kie), Wisata Kuliner, Wisata Olah Raga, dan Wisata Belanja.

Assalamu'alaikum Ijin bertanya, apakah pip SMP yg 750 rb sdh cair, kita sdh buat aktivitasi rekening, tetapi dana nya belum cair.
Mohon maaf ibu, apakah penerima PIP ini untuk seluruh siswa atau siswa yang terpilih saja? Karena anak saya pernah 2x mendapatkan, tapi sudah 2 tahun terakhir ini tidak mendapat lagi, apa alasannya ya Bu?
Assalamu'alaikum Saya izin ingin bertanya bu ???? apakah pip nunggu 3 bukan bu soalnya saya sudah nunggu sebulan lebih bu ????