Dr. Hetifah : Menajamkan Naluri Aktivis di DPR

Aktifis LSM selalu dipandang sebagai penyeimbang dalam memperjuangkan demokrasi. Mereka kerap melakukan research terhadap berbagai kebijakan pemerintah dan bahkan turun ke jalan  sebagai bukti bahwa mereka  pro rakyat. Bermodalkan idealisme, mereka melakukan perlawanan kepada para pengambil kebijakan publik, baik ditingkat eksekutif maupun legislatif. Tetapi belakangan banyak sekali aktifis yang belok haluan dan bersekutu dengan birokrasi atau bergabung dengan partai politik. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah keberadaan para aktifis di partai politik mampu mempengaruhi berbagai kebijakan publik secara signifikan sebagaimana idealisme mereka sebelum masuk partai politik? Atau mereka justru terkooptasi dengan partai politik sehingga keberadaanya hanya sekadar pemanis di partai politik? Berikut petikan wawancara Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, salah satu aktivis yang bergabung dengan partai Golkar dengan Marcus dari Universitas Nasional Australia (ANU) di DPR RI, Jakarta, Rabu, 23 November 2010. Apa motivasi Anda masuk ke partai politik? Mungkin waktu yang pendek buat saya untuk menjawab pertanyaan ini secara jelas. Karena kalau ditanya apakah merasa dikooptasi oleh partai mungkin tidak tetapi kalau punya peran yang kuat, saya katakan belum. Mungkin karena factor timing atau waktu juga mempengaruhi jawabannya. Saya pribadi, dititik ini masih punya potensi untuk bisa mempengaruhi kebijakan tapi dengan syarat-syarat kalau misalnya posisi saya tetap masih seperti ini. Bicara soal motivasi ketika aktif di LSM, tentu kita sudah melakukan suatu proses perubahan juga. Misalnya aktif di LSM sebagai pure researcher. Saya sudah membuat sebuah riset yang begitu bagus. tapi tidak puas, karena hasil riset bisa dibaca, bisa tidak. Karena di Indonesia budaya decision maker untuk menggunakan hasil riset masih kurang. Kemudian saya membentuk beberapa LSM dan network yang mendorong advokasi lebih ke arah research space. Saya masih  tidak puas juga karena kita selalu berhadapan secara diametral dengan decision maker. Misalnya kita mendorong advokasi tentang  upah tetapi yang memutuskan tetap tergantung kepada apakah dia punya kepedulian. Kadang-kadang berhasil tapi kita perlu energy banyak. Tapi lebih sering kurang berhasil. Beberapa tahun lalu khususnya sesudah reformasi saya mendorong satu kemitraan dengan membangun Indonesian Partnership to Government Initiative. Kita ikut bermitra dengan pemerintah. Dan akhirnya lembaga yang saya dirikan membuat MOU dengan logo government, kerjasama  dengan Depdagri. Misalnya mendorong suatu reform tertentu khususnya apabila kepala daerahnya reform minded. Kita pilih lima kota kabupaten di seluruh Indonesia. Ya cukup berhasil tapi kurang cepat. Tapi tarik menarik ke arah politik sulit dihindarikan oleh sekelompok teman. Ada beberapa kelompok atau grup yang melakukan kontrak politik dengan kepala daerah. Artinya membuat suatu kebijakan untuk masuk dunia politik apakah sebagai tim sukses, atau merekrut orang yang kita anggap mampu. Tentu bukan selalu dari NGO untuk menjadi kepala daerah. Dari mana saja boleh. Apa yang anda maksudkan dengan kita? NGO. Maksudnya teman-teman dari berbagai kelompok. Bukan hanya satu lembaga saja. Membuat semacam kesepakatan. Jadi di beberapa daerah jaringan LSM ini menjadi tim sukses atau merekrut calon pemimpin daerah. Waktu itu saya juga sempat didorong oleh satu kelompok LSM untuk maju sebagai walikota. Karena background saya planner, jadi dirasa cocok secara kompetensi. Kedua kita ingin eksperimen soal gender equality di politik. Ketiga berkolaborasi antara civil socaity dengan partai politik. Kami mengalami kesulitan karena tidak masuk partai politik dan memilih sebagai calon independent. Ternyata ini sulit sekali. Tidak mendapat dukungan. Kami akhirnya berpikir untuk masuk partai politik. Saya akhirnya menawarkan diri ke berbagai partai politik. Kayak jualan gitu. Presentasi ke mana-mana. Waktu itu presentasi ke partai apa saja? Saya presentasi ke  PAN, gabungan partai termasuk Demokrat tapi yang kelihatan agak serius itu di PKS. Saya lobi sampai ke pimpinan pusat PPP di Jakarta. PKS bahkan mengatakan untuk level kabupaten/kota perempuan boleh yang penting jangan ke tingkat Presiden. Jadi kita belajar politik yang riil di situ. Bukan semata-mata kompetensi. Itulah berpolitik. Belajar dari pengalaman, sampai melakukan proses lobi politik dan sebagainya. Ada teman-teman alumni ITB yang aktif di partai yang melihat keseriusan saya untuk masuk politik. Mereka menawarkan saya untuk bergabung di partai. Jadi ada suatu evolusi yang muncul sedikit demi sedikit sampai datang momentum yang mungkin kebetulan. Ketika saya melihat realitas bahwa partai itu penting, terutama pengembangan leadership. Waktu itu sempat terpikir ke PDIP, PAN, jadi bukan hanya satu partai yang membuka diri. Karena waktu itu ada beberapa partai yang kesulitan merekrut perempuan untuk memenuhi kuota 30%. Terus Kenapa Anda Memilih Golkar? Ada dua alasan. Yang pertama,  secara relatif Golkar sangat menghargai kompetensi. Itu saja kekuatan saya. Saya tidak kenal siapa-siapa. Saya pikir ini menjadi kekuatan untuk menyumbangkan sesuatu untuk partai dan Negara ini. Saya percaya kalau Golkar menghargai kompetensi saya. Yang kedua potensi untuk menang Pileg tinggi. Kalau kalah, belum tentu saya kembali ke dunia saya, LSM. Akhirnya Dijanjikan Nomor Urut Berapa? Nomor urut dua. Berdasarkan kalkulasi saya masuk. Karena saya melihat suara di masa lalu. Saya cari data pemilu yang lalu dari tiap-tiap dapil. Kalau Kaltim suara Golkar tinggi, tapi banyak terjadi kasus korupsi yang melibatkan pimpinan partai. Saya melihat peluang saya besar di Kaltim, maka saya pilih di sana. Dan Waktu Itu Point Of Contact Itu Siapa. Apakah JK? Tidak harus JK ya. Kalau dulu ada Bapilu yang melibatkan orang-orang dari daerah yang namanya Korwil dan ketua DPD. Ada restu dari beberapa orang. Itu juga saya baru kenal. Apakah Diwawancara Sebelumnya? Saya tidak diwawancarai, tapi sempat ketemu. Yang beredar pada saat itu hanya CV saya. Memang ada beberapa wanita yang mencalonkan diri seperti Afiliani tetapi akhirnya mundur. Mungkin ada rekomendasi dari beberapa teman alumni di DPP. Misalnya Pak Ical sendiri, meskipun dia tidak banyak mengenal saya. Tapi orang tidak terlalu peduli karena yang penting harus ada perempuan karena harus memenuhi kuota 30%. Sementara wanitanya sedikit sekali. Semuanya berjalan dengan baik, tidak ada banyak kesulitan. Memang secara umum saya sempat ragu juga karena Kaltim itu bukan daerah saya apalagi saya perempuan. Apa Reaksi Teman-Teman di LSM ketika Mereka Tahu Anda Masuk Partai Politik, Apakah Mereka Kecewa? Kalau saya tidak diomeli karena saya masuk politik itu secara evolusi. Orang sudah tahu niat saya sejak lama. Bahkan di Kaltim, NGO local yang bekerja untuk kita. Kita juga membawa NGO nasional ke Kaltim untuk mendukung kita. Teman dari Bandung, Solo. Mereka yang mempunyai pengalaman  mengorganisir grass root. Saya bawa ke Kaltim sebagai tim pemenang. Tapi memang ada juga kelompok radikal yang juga mengambil bagian untuk pemenangan saya. Akhirnya tercipta kolaborasi antara peran partai dan CSO untuk pemenangan itu. Walaupun tidak dalam bentuk kerjasama yang terinstitusi. Ada beberapa tokoh partai yang dari NGO yang juga membantu pemenangan saya. Kalau kecewa justru bermula pada saat saya bekerja sama dengan pemerintah. Sebelumnya lembaga saya AKATIGA yang tidak bekerja sama dengan pemerintah tetapi tiba-tiba saya memutuskan berkolaborasi dengan pemerintah walaupun menggunakan lembaga lain yang menyebut dirinya LSM.. Di Kalangan LSM Partai Golkar Bukan Partai yang Baik. Lalu Bagaimana Pandangan Mereka Tentang Anda? Mereka tidak mencerca tetapi hanya meledek. Misalnya, “Emangnya orang NGO itu next government officer atau menjadi  next Golkar officer?” Belajar dari pengalaman saya di kota Bandung bahwa tidak ada satu partai yang special bagi saya. Kecuali Golkar yang selalu membuka diri terhadap kompetensi. Sementara hal-hal yang lain misalnya praktek transaksi politik itu terjadi pada semua partai. Bukan hanya satu partai. Begitu Menjadi Anggota DPR,  Bagaimana Penerimaan Terhadap Anda Sebagai Anggota Baru? Ada sekitar 106 orang. Jumlah yang cukup banyak sehingga saya bisa bersembunyi diantara kerumunan, walaupun agak sedikit takut, cemas. Apalagi waktu itu ada masalah di daerah dalam hal penghitungan suara. Dimana ada satu proses yang berusaha mencurangi saya. Hal itu justru menjadi kesempatan buat saya untuk berkenalan dengan beberapa orang Golkar yang menjadi saksi di KPU. Saya bisa berkomunikasi dengan Korwil saya. Walaupun akhirnya saya bisa menyelamatkan suara saya. Memang, ada kondisi psikologi yang benar-benar tertantang ketika masuk di politik. Agak berbeda dengan di LSM. Tapi sebelumnya saya sudah sedikit mengetahui situasi di DPR. Karena saya sudah pernah menjadi konsultan membantu BURT untuk menawarkan gagasan rumah aspirasi. Pekerjaan di DPR sudah saya bayangi sebelumnya. Di DPR ini sebenarnya tidak terlalu menakutkan. Tapi begitu masuk, mulai ribet soal positioning, mulai dari komisi, fraksi di DPR dan MPR. Ada beberapa momentum yang buat saya penting untuk membangkitkan rasa percaya diri. Misalnya menjadi anggota panitia suatu kegiatan partai atau di DPR. Saya mencoba berkenalan dengan beberapa orang yang bisa menerima saya, sehingga saya bisa nyaman. Saya juga berkenalan dengan beberapa yang memiliki background sama. Tetapi yang lebih penting membuat pendekatan dengan kelompok perempuan. Disini saya berjuang untuk selalu low profile, tidak menonjolkan diri. Nama saya masuk juga di pimpinan Fraksi atau MPR. Misalnya sekretaris Korwil, atau bendahara dan beberapa posisi lainnya. Ketika Di Singapura Anda Sempat Cerita Soal Resistensi Dari Partai, Bagaimana Itu? Maksud saya soal pemilihan komisi. Waktu itu, setiap anggota diberi kesempatan untuk memilih dua komisi. Tetapi tetap pimpinan yang akan menentukan. Saya sempat menghadap pimpinan karena permintaan saya tidak dipenuhi. Tetapi mereka mengatakan saya ini doctor, dan cocok untuk Komisi X. Tidak dijelaskan mengapa permintaan saya tidak dipenuhi karena saya tidak melobi. Tapi maksudnya harus ada komunikasi yang intensif dengan para pimpinan yang menunjukan kita mampu. Pada saat itu memang saya belum mampu melakukannya, bahkan sampai hari ini saya belum mampu sampai ke taraf itu.  Jadi saya pikir bukan resistensi tetapi kita belum mampu mempengaruhi apa yang kita pikirkan untuk yang terbaik buat kita di sini (DPR). Karena kita belum memahami bagaimana keputusan itu dibuat. Misalnya ada Panja-Panja yang cukup strategi tentu membutuhkan proses seleksi dan itu membutuhkan orang-orang yang mempunyai kemampuan baik. Saya merasa yakin kalau di Golkar masih tetap menjunjung tinggi kemampuan anggota, kalau kita bisa menunjukan kompetensi kita sebagai anggota. Masalahnya mereka masih belum tahu bahwa saya mempunyai kemampuan itu. Pada saat pemilihan DPP saya harus membawa CV saya ke beberapa orang, untuk menunjukan kemampuan saya. Begitu pula dengan penetapan anggota komisi. Jadi susah untuk menjelaskan, untuk menunjukan kalau sebenarnya saya memiliki pengalaman. Jadi memang penting harus ada orang yang mengenal kita dengan sangat baik. Sebagai anggota biasa di komisi, tidak terlalu banyak pengaruh. Karena banyak keputusan yang diambil di level pimpinan. Seperti ketua komisi dan pimpinan Poksi. Anggota hanya memberikan usulan sebatas di rapat-rapat itu. Tetapi lobi-lobi politik yang menyangkut program dan anggaran diputuskan dilevel pimpinan. Saya sih belum terbayangkan, kalau ditingkat pimpinan, kapan saya bisa jadi pimpinan? Anda Mengatakan Motivasi  Masuk Politik Untuk Merubah Kebijakan Yang Salah Dan Sebagainya, Saat Ini Anda Belum Pada Posisi Itu? Memang saat ini belum untuk sampai pada posisi yang berpengaruh untuk sampai pada level yang saya cita-citakan. Tetapi menurut saya prospeknya ada, walaupun saya belum tahu kapan. Yang penting saya selalu siap. Tahun pertama bagi saya sebagai swa sensor terhadap diri saya karena saya ingin menjaga hubungan baik. Kalau tidak prinsipil saya selalu mengalah. Memang sampai saat ini saya belum sampai pada level pengambilan keputusan. Apakah Anda Cukup Dihargai Di Fraksi? Selama setahun ini banyak sekali perubahan. Setidak-tidaknya saya tahu kalau ingin meraih kesempatan memang harus melakukan sesuatu. Misalnya dengan melobi pimpinan. Saya kemudian diajari kalau pintar saja tidak cukup, politik harus gaul, berteman dan tentu lobi. Kalau dulu di LSM sebagai profesional orang yang mendatangi dan meminta bantuan kita. Saya lebih didatangi tetapi di politik tidak demikian. Kita yang harus mendatangi pimpinan, harus pro aktif menjual program atau ide-ide kita. Apakah di Golkar Anda mempunyai posisi? Di DPP Golkar saya sebagai salah satu ketua Departemen untuk pemenangan pemilu di Pulau Kalimantan. Saya membawahi semua Provinsi di Kalimantan. Apakah Ada Kekwatiran Anda Akan Menjadi Politisi Benaran Dan akhirnya Menghilangkan Jiwa Aktivis Anda? Apa bedanya antara politisi dengan aktifis? Saya tidak merasa ada perbedaan yang signifikan. Dulu ketika menjadi aktivis juga melakukan lobi. Misalnya ketika ingin ketemu kepala daerah untuk menawarkan program, kita menunggu berjam-jam untuk membuat MoU bahwa sebagai LSM bisa berkerja sama untuk membangun daerah. Sebenarnya sama cuma bedanya dulu kita merasa tidak ada ikatan. Jika wali kotanya merasa tidak tertarik ya sudah. Kita cari daerah lain.  Kalau di politik selalu menjaga hubungan baik karena ada ikatan secara politis. Bagi saya sama saja, antara politisi dengan aktivis. Sejauh ini, kurang lebih seperti itu.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamualaikum wr. wb Yth. Ibu Hetifah Wakil ketua komisi X DPR RI Saya ingin menyuarakan terkait permasalahan di SMK 12 Samarinda terkait dengan pembangunan sarana & prasana sekolah yang sampai saat ini mandek di tempat sehingga belum bisa secara maksimal untuk sekolah melaksanakan proses praktikum ataupun pembelajaran biasa dikarenakan kondisi saat ini sekolah masih ada sebagian gedung yang menumpang di SMP 28 Samarinda terutama untuk workahop & bangunan laboratorium jurusan. Untuk gedung baru sekolah yang baru sudah terbangun sekitar 40%. Dikarenakan masih adanya permasalahan terkait dokumen kepemilikan tanah yang masih belum jelas sehingga sangat sulit bagi kami untuk mendapatkan bantuan untuk pembangunan gedung baru di lokasi yang sekarang. Sekiranya ibu berkenan berkunjung ke Sekolah kami untuk melihat situasi & kondisi saat ini di SMK Negeri 12 Samarinda. Semoga ibu membaca aspirasi dari saya sekian 🙏🙏. Terimaksih ibu sudah bersedia menampung aspirasi saya.

  2. Ini anak saya dapat pip tahun 2020...karna baru tahu kalau dapat di tahun 2022(pihak sekolah gk memberi tahu kalo dpt)...sdh diurus ternyata dana udah hangus...apa untuk selanjutnya bisa dapat lagi?

  3. thanks for your information, dont forget to visit airlangga university website https://www.unair.ac.id/2022/07/14/summer-program-wuacd-unair-bahas-strategi-pemberdayaan-perempuan-di-indonesia-dan-filipina/

Lihat semua aspirasi