Hetifah: “Pastikan 20% Mahasiswa Baru adalah Mereka yang Tak Mampu”

Tepat pada Senin (11/10) lalu, Universitas Mulawarman (Unmul) memiliki rektor baru. Rektor lama periode 2006-2010 Prof. Dr. Ir. H. Ach. Ariffien Bratawinata, M.Agr menyerahkan jabatan ke Prof. H. Zamruddin Hasid, SE, SU sebagai Rektor Unmul Periode 2010-2014. Oleh beberapa pihak, rektor baru ini diharapkan membuat sebuah perubahan yang cukup signifikan. Dalam upacara pelantikan tersebut, hadir Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA, Dirjen Dikti, sejumlah civitas akademika, anggota DPR, dan Muspida di Kalimantan Timur (Kaltim). Di dalam sambutannya Mendiknas mengatakan, perguruan tinggi ibarat seorang ibu yang sedang hamil. Jika sang anak yang dikandung tidak diberi asupan gizi dengan baik, maka anak yang lahir bisa menjadi kurang sempurna atau cacat. Analogi ini dipakai oleh Mendiknas untuk menekankan agar Unmul bisa memperbaiki, mengembangkan dan menambah kapasitas Unmul sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) besar di Kaltim. pelantikan Hetifah: “Pastikan 20% Mahasiswa Baru adalah Mereka yang Tak Mampu” Mendiknas M. Nuh ketika melantik rektor Unmul baru. “Bila sarana dan prasarana tidak baik, budaya kekerasan akan dipakai di perguruan tinggi, proses akademik tidak berjalan dengan baik, maka kampus akan menghasilkan mahasiswa/i yang mengalami kecacatan sosial”, ungkapnya. Mendiknas menyarankan agar Unmul selalu menggunakan pendekatan kasih sayang, pendekatan intelektual sehingga lulusan yang dilahirkan akan cerdas secara sosial ucap mantan Menkominfo tersebut. Anggota DPR RI Komisi X Dr. Hetifah Sjaifudian, MPP yang kebetulan hadir dalam pelantikan Senin lalu juga mengusulkan, agar pembuatan visi dan misi di Unmul harus melibatkan peran serta citivas akademika. Bukan cuma dari para mahasiswa, tetapi juga anggota DPRD, dan jajaran yang terkait dengan pendidikan di Kaltim. “Dengan begitu nanti akan ada sinergi untuk menjadikan Unmul sebagai pusat studi atau keahlian-keahlian lain. Sehingga secara nasional, Unmul juga bias menjadi PTN unggulan dan menjadi pilihan,” ujar Hetifah. Perubahan di Unmul bukan saja diinginkan oleh berbagai kalangan, tetapi juga para mahasiswa. Tak heran, sebagian mahasiswa memaksa rektor baru untuk menjalankan program 100 hari yang sudah dibuat oleh mahasiswa. Mereka ingin rektor baru menandatandatangani. Namun rektor tidak mau, karena tak ingin dipaksa oleh mahasiswa. Sekadar informasi, rektor baru Prof H Zamruddin Hasid SE SU memperoleh suara terbanyak dalam Pemilihan Rektor dalam Rapat Senat Tertutup di Lantai III Rektorat Unmul pada April 2010 lalu. Dalam rapat Senat Tertutup yang dihadiri 78 anggota senat itu, Prof Zamruddin memperoleh 40 suara disusul Prof Dr Ir H Mustofa Agung Sardjono dengan perolehan 35 suara dan Prof Dr Ir H Wawan Kustiawan M Agr Sc memperoleh dua suara dan Prof Dr H Sutadji Drs MM dengan satu suara. Tiga kandidat lainnya yakni Prof Dr Ir H Abubakar M Lahjie M Agr, Drs Bernatal Saragih SP Msi dan Dr Ir Asfie Maidi M Fish MSc tidak memperoleh suara. Pada saat pelantikan, diberitakan terjadi unjuk rasa mahasiswa. Unjuk rasa ini dilakukan sekitar 70-an mahasiswa di depan pintu masuk GOR. Mereka menuntut kepada rektor baru menerapkan transparansi pemanfaatan dana kampus terutama yang bersumber dari mahasiswa. Menurut Presiden BEM Unmul Ismoyo, dana pengembangan fakultas 2008-2010 saat ini sedang diselidiki kejaksaan, ini karena tak transparan. Sebelumnya, lanjut Ismoyo, Unmul mengutip dana pengembangan fakultas yang dipungut dari mahasiswa, dimana jumlahnya berkisar antara Rp 2,5 juta-Rp 8 juta. Tapi sampai saat ini alokasi dana dari mahasiswa itu tak pernah diketahui mahasiswa penggunaannya. VM014572 Hetifah: “Pastikan 20% Mahasiswa Baru adalah Mereka yang Tak Mampu” “Oleh karena itu, rektor harus terbuka dan segala usulan harus terkomunikasikan secara langsung,” papar Hetifah. “Kita sebagai anggota DPR, terutama Komisi X, akan mengawal itu. Menjamin apa yang diharapkan oleh mahasiswa, bisa terakomodir.” Hetifah juga setuju dengan pendapat Mendiknas, Unmul juga harus ramah sosial. Jangan sampai, orang-orang di Unmul itu orang-orang yang mampu secara ekonomi saja. Pastikan 20% dari mahasiswa baru berasal dari mereka yang tak mampu. Di samping ada beasiswa dari Diknas, dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat juga memiliki anggaran untuk para mahasiswa kurang mampu. “Intinya mahasiswa di Unmul harus tetap sasaran lah. Tak cuma mereka yang mampu, prioritaskan juga untuk mereka yang kurang mampu,” tambah Hetifah.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamu'alaikum. Ingin mengusulkan Ada baiknya penerima PIP di data ulang . Krn tiap tahun perekonomian bergerak. Ada yg sdh mampu tapi masih mendpatkn PIP. Sedangkan yg benar benar membutuhkan tdk dapat bantuan.

  2. Assalamualaikum Bu hertifah sy bertanya apakah anak Siswa yg sekolah di Kaltim tapi KK dn KTP ortu ya masih di Jawatengah karena ortu ya kerja di Kaltim setahun sekali pulang ke Jawa kategori penerima PIP kah Bu karena ada anak siswa lain warga Kaltim dapet Bu ???? mohon penjelasanya

Lihat semua aspirasi