Hetifah Komentari Kecilnya Diversifikasi Kegiatan Ekonomi Kalimantan

  KLIKSAMARINDA.COM - Pemerintah bersama DPR RI mulai melakukan pembahasan RAPBN Tahun 2017 pada Rabu 13 Juli 2016. Suahasil Nazara, mewakili Kementerian Keuangan RI menyatakan dalam rapat tersebut, perkiraan ekonomi Indonesia akan dipengaruhi situasi global. Misal, adanya moderasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, seperti melemahnya aktivitas ekonomi Tiongkok yang diperkirakan masih terjadi; lemahnya harga-harga komoditas; dan ketidakpastian ekonomi global, seperti membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang berdampak pada normalisasi suku bunga. Adapun, dalam rapat tersebut dipaparkan mengenai diversifikasi sumber ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia. Menurut Suahasil selaku Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan, secara umum pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah menunjukkan kecenderungan membaik, terutama di Jawa karena didorong oleh industri dan konsumsi yang tinggi. Namun, Suahasil juga menyampaikan kemungkinan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan akan mengalami tekanan karena rendahnya harga komoditi. Menanggapi hal tersebut, Hetifah anggota Banggar DPR RI Dapil Kaltim-Kaltara menyampaikan, harga komoditas global sangat berpengaruh bagi ekonomi Kalimantan. "Tadi sudah dipaparkan Pemerintah bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi di Kalimantan pada 2017, hanya 1,1 persen. Ini termasuk Kaltim-Kaltara, yang juga akan menurun. Kita perlu memikirkan agar pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut jangan bergantung pada komoditas primer semata," kata Hetifah. Dalam jangka panjang, tantangan utama bagi wilayah Kalimantan adalah untuk mendiversifikasikan kegiatan dan sumber-sumber ekonomi. Upaya ini untuk mengurangi kebergantungan terhadap sejumlah kecil komoditas. "Di Kaltim dan Kaltara masih banyak menyimpan potensi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, seperti pariwisata, perikanan, dan ekonomi kreatif. Kita jangan terus bergantung pada produk-produk primer semata, karena jika terjadi ketidakpastian ekonomi ini menjadi risiko dan masalah," sambung Hetifah. Dalam rapat tersebut, pemerintah menyampaikan hasil beberapa usulan DPR mengenai mengenai asumsi ekonomi makro seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok sebesar 45-55 USD/barel, lifting minyak bumi sebesar 760-800 ribu barel/hari, dan lifting gas bumi sebesar 1,150-1,500 ribu barel setara minyak/hari. Adapun asumsi ekonomi makro yang lain masih menunggu pembahasan di Komisi XI DPR RI. (*)   Sumber : www.kliksamarinda.com/edisi Kamis, 14 Juli 2016

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Knp waktu saya cek dana pip d google ko dana sudah d kembalikan ke pusat padahal saya blm ambl uangx

Lihat semua aspirasi