Memberdayakan Pemuda Indonesia

Tanpa sadar, sejak kurun waktu 1998 hingga Februari 2007, jumlah pengangguran kaum terdidik mengalami peningkatan yang signifikan, dari 400.000 orang menjadi 700.000 orang atau terjadi lonjakan sebanyak 75%. Jumlah tersebut di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi (PT), dimana mereka adalah para pemuda. Angka itu belum termasuk lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mengganggur, karena tidak bisa melanjutkan ke PT. Strategi pendidikan nasional adalah salah satu penyebab tumbuhnya pengangguran dari kalangan pemuda. Kosepsi kurikulum yang lebih banyak menekankan pada hafalan daripada penggalian skill dari masing-masing murid. Padahal dengan adanya konsep penggalian skill, maka pemuda akan diberdayakan. Dengan begitu, ketika lulus di SMA atau PT, mereka sudah siap terjun ke dunia kerja. Pemerintah harusnya bisa melihat potensi para pemuda dengan memberdayakan mereka sesuai dengan skill. Bayangkan, menurut proyeksi data single years Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009, potensi pemuda Indonesia sangat besar jika dilihat dari jumlah pemuda, yakni 62.985.401 jiwa atau 29,5% dari total penduduk Indonesia yang tercatat lebih dari  230 juta jiwa. Jika di-breakdown, pemuda yang menganggur di usia produktif (16-30 tahun) sebanyak 7,4 juta jiwa. Mereka berlatarbelakang pendidikan SD ke bawah sebanyak 27,09%, SLTP (22,62%), SMA (25,29%), dan SMK (15,37%). Dari sudut geografis, 5,24 juta orang (53%) pemuda yang menganggur berada di perkotaan dan 4,2 juta orang berada di pedesaan. Padahal pemuda di masa depan adalah agen perubahan, baik secara moral maupun sosial. Dalam sejarah bangsa ini, pemuda Indonesia telah berupaya mengangkat harkat bangsa ini dari penjajahan bangsa lain. Dalam salah satu diskusi dengan Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) di Kafe Daun beberapa waktu lalu, Anggota Komisi X DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP sempat menyatakan, Indonesia sebetulnya bisa jauh lebih baik dari sekarang jika segala elemen terkoordinir dengan baik. Ibarat tubuh, antara satu organ dengan organ lain tidak berkoordinasi satu sama lain. Jadi alih-alih bergerak ke arah yang sama, kita justru tersungkur. Oleh karena itu, dibutuhkan pemimpin muda yang bisa menjadi koordinator perubahan Indonesia. “Kebangkitan nasional lebih banyak diinisiasi oleh elit, sementara pemimpin kita sendiri kini seperti kehilangan arah,” komentar Hetifah. Inilah, lanjut Hetifah, saatnya menelorkan pemimpin-pemimpin muda, sehingga mampu menjadi nahkoda untuk menentukan arah kebangsaan yang jauh lebih baik dari sekarang.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Asalamualaikum bu Atifah, saya pak Anwar guru Sman 1 Pulo Aceh termasuk sekolah terpencil. membaca pertemuan perdana dgn Mendikbud, saya apresiasi yaitu poin 3 dan 5 : investasi dan inovasi serta penciptaan lapangan kerja dan saya memiliki program tsb. bagai mana bu saya di pertemukan dengan Bapak Mentri dan sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

  2. Bunda Hetifah yang saya hormat. Saya Suhendar adalah lulusan pendidikan Kejuruan sejak STM, S1, dan sampai dengan saat ini sedang S3 di UNY Yogayakarta (S3) Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Selain sebagai Dosen di Jurusan Pendidikan dan Teknik Elektro Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Saya sebagai Asesor Akreditasi BAN S/M dan juga Asesor LSP-P3 AINAKI (Asosiasi Industri Animasi dan Kerasi Indonesia). Terutama sejak menjadi Asesor SMK sejak tahun 2016, sedikit banyakanya saya mengetahui dan mengerti problematkika pendidikan Kejuruan di Indonesia yang tidak mengalami perubahan siginifikan, terutama meningkatktnya keterserapan lulusannya oleh Industri. Saya telah membaca Talking Points Pak Mendikbud dalam Rapat Kerja Perdana DPR dengan Kemendikbud di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Rabu, 6 November 2019. Beberapa hal penting dan saya sangat setuju daiantaranya adalah "Peran kami sebagai kementerian adalah untuk mengempower industri untuk berpartisipasi dalam pendidikan yang pada akhirnya dampaknya untuk mereka juga, terutama SMK dan Politeknik." Hal itulah yang belum tampak dan ditindaklanjuti sebagaimana yang diinginkan Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Keimginan Industri untuk mendrong secara Riil Pengembangan Pendidikan Kejuruan di Indonesia masih bersifat setengah-setengah. Riset saya saat ini terkait dengan Skills Passport untuk Pendidikan Kejuruan di Indonesia. Semoga masa depan pendidikan Kejuruan di Indonesia semakin baik dan terus berkesinambungan. Salam Ta'jim untuk Ibu dari Suhendar suhendar@untirta.ac.id

  3. Selamat atas pelatikan sebagai anggota MPR/DPR RI periode 2019-2024. Tetap perjuangkan aspirasi dari Kaltim.

Lihat semua aspirasi