Pemuda dan Perubahan Sosial

  Tanggal 28 Oktober 1928 menjadi titik penting bagi pergerakan para pemuda Indonesia pra kemerdekaan. Saat itu puluhan pemuda dari berbagai daerah mengadakan Kongres Pemuda di Jakarta dan menegaskan komitmennya terhadap kemerdekaan Indonesia. Tak hanya pemuda Indonesia, pemuda dari kelompok Timur Asia (Tionghoa) juga terlibat dalam kongres tersebut. Detik-detik menjelang kemerdekaan, komitmen para pemuda juga terlihat ketika mereka “menculik” Sukarno dan mendesak untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Usahanya kemudian berhasil, Sukarno dan Muhammad Hatta akhirnya memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tidak heran jika dikemudian hari Sukarno menilai pentingnya pemuda bagi sebuah bangsa. Ia bahkan menyatakan bahwa dengan sepuluh orang pemuda, ia akan mampu taklukkan dunia. Setelah berhasil mengantarkan bangsa ini mewujudkan kemerdekaan, pemuda hari ini bukan tanpa tantangan. Tantangan cukup berat justru kini dihadapi pemuda. Perubahan sosial yang begitu cepat menjadi salah satu tantangan terbesar pemuda saat ini. Perubahan sosial secara nyata telah membawa perubahan yang begitu cepat dalam kehidupann bermasyarakat. Pola perilaku dan tindakan, struktur masyarakat dan hubungan sosial kini dapat dengan cepat berubah (Indradin: 2016). Perubahan yang begitu cepat ini tidak lepas dari maju pesatnya teknologi informasi. Berbagai temuan baru di bidang teknologi yang membawa cepatnya perubahan sosial harus direspon serius oleh pemuda. Undang-undang No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan pasal 16 menyebutkan peran aktif pemuda dalam masyarakat: “Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional”. Peran aktif pemuda yang diamanatkan dalam UU Kepemudaan dalam merespon perubahan dapat dilakukan dengan pendidikan politik dan demokratisasi; sumberdaya ekonomi; kepedulian terhadap masyarakat; ilmu pengetahuan dan teknologi; olahraga, seni, dan budaya; kepedulian terhadap lingkungan hidup; pendidikan kewirausahaan; dan/atau kepemimpinan dan kepeloporan pemuda. Peran aktif dalam pendidikan politik sangat penting bagi pemuda. Pendidikan politik yang dilakukan diharapkan mampu menyehatkan kehidupan politik bangsa yang saat ini mulai tergerus dengan maraknya politik uang serta liberalisasi politik dalam setiap pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Umum. Peran aktif dalam pendidikan politik oleh para pemuda juga diharapkan mampu mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan bangsa. Dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, peran aktif pemuda juga sangat dinanti-nanti. Pemuda mendapat tuntutan untuk mengembangkan inovasi baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada saat yang sama, kemajuan teknologi ini harus sejalan dengan etika dalam memanfaatkannya. Asas kemanfaatan teknologi informatika misalnya, masih sulit diwujudkan, akibat maraknya informasi hoax di media sosial. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana informasi kini menjelma menjadi sarana saling bermusuhan sesama anak bangsa. Tentu saja kondisi ini sangat memprihatinkan karena hal itu dapat mengarah pada disintegrasi. Oleh sebab itu, penting bagi pemuda untuk menangkal hoax di tengah maraknya arus media. Uraian di atas menunjukkan bahwa peran pemuda di Indonesia tak bisa dikesampingkan. Narasi sejarah telah mencatat bahwa peran pemuda cukup besar dan memberi kontribusi memerdekakan Indonesia. Kini setelah 72 tahun Indonesia merdeka dan setelah 89 tahun setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, pemuda mendapat tuntutan untuk mengisi kemerdekaan, merawat kebangsaan dan menjaga Indonesia.  

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Asalamualaikum bu Atifah, saya pak Anwar guru Sman 1 Pulo Aceh termasuk sekolah terpencil. membaca pertemuan perdana dgn Mendikbud, saya apresiasi yaitu poin 3 dan 5 : investasi dan inovasi serta penciptaan lapangan kerja dan saya memiliki program tsb. bagai mana bu saya di pertemukan dengan Bapak Mentri dan sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

  2. Bunda Hetifah yang saya hormat. Saya Suhendar adalah lulusan pendidikan Kejuruan sejak STM, S1, dan sampai dengan saat ini sedang S3 di UNY Yogayakarta (S3) Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Selain sebagai Dosen di Jurusan Pendidikan dan Teknik Elektro Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Saya sebagai Asesor Akreditasi BAN S/M dan juga Asesor LSP-P3 AINAKI (Asosiasi Industri Animasi dan Kerasi Indonesia). Terutama sejak menjadi Asesor SMK sejak tahun 2016, sedikit banyakanya saya mengetahui dan mengerti problematkika pendidikan Kejuruan di Indonesia yang tidak mengalami perubahan siginifikan, terutama meningkatktnya keterserapan lulusannya oleh Industri. Saya telah membaca Talking Points Pak Mendikbud dalam Rapat Kerja Perdana DPR dengan Kemendikbud di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Rabu, 6 November 2019. Beberapa hal penting dan saya sangat setuju daiantaranya adalah "Peran kami sebagai kementerian adalah untuk mengempower industri untuk berpartisipasi dalam pendidikan yang pada akhirnya dampaknya untuk mereka juga, terutama SMK dan Politeknik." Hal itulah yang belum tampak dan ditindaklanjuti sebagaimana yang diinginkan Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Keimginan Industri untuk mendrong secara Riil Pengembangan Pendidikan Kejuruan di Indonesia masih bersifat setengah-setengah. Riset saya saat ini terkait dengan Skills Passport untuk Pendidikan Kejuruan di Indonesia. Semoga masa depan pendidikan Kejuruan di Indonesia semakin baik dan terus berkesinambungan. Salam Ta'jim untuk Ibu dari Suhendar suhendar@untirta.ac.id

  3. Selamat atas pelatikan sebagai anggota MPR/DPR RI periode 2019-2024. Tetap perjuangkan aspirasi dari Kaltim.

Lihat semua aspirasi