Program Wajib Belajar 12 Tahun Tercapai

Kaltim Post, Senin, 22 November 2010 PROGRAM Wajib Belajar (Wajar)  merujuk konsep pendidikan dasar untuk semua, yang  hakikatnya  menyediakan akses pendidikan yang sama untuk semua anak usia sekolah. Umumnya,  ditetapkan usia SD dan SMP (9 Tahun),  sesuai Inpres No 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar. Namun, Kota Bontang menetapkan  program Wajar lebih tinggi, yaitu, 12 tahun (SD, SMP, dan SMA). Kondisi  Wajar 12 Tahun Kota Bontang, dapat dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK), salah satu indikator yang dijadikan tolok ukur utama untuk penuntasan wajib belajar pendidikan dasar dan pendidikan menengah. APK  membagi jumlah siswa SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK dengan jumlah anak usia tertentu (7-12, 13-15 dan 16-18 tahun) di kota Bontang. Angka APK Kota Bontang relatif sangat ideal jika dilihat dari komposisi angka APK pada setiap jenjang pendidikan. Jenjang SD dan SMP menyebutkan angka di atas 100, sementara APK SMA berkisar pada angka 99. Komposisi ini mencerminkan bahwa PAUD relatif berhasil, dan wajib belajar Dikdasmen 12 Tahun juga tercapai. Kondisi  anak  usia sekolah yang tidak bersekolah. Lima tahun terakhir (2005-2009),   kondisi Anak Usia Sekolah yang Tidak Bersekolah Kota Bontang (2005-2009) relatif sedikit. Pada akhir Tahun 2009, anak yang putus sekolah hanya  5 orang (7-12 Tahun), 3 orang (13-15 Tahun), dan 2 orang  (16-19 Tahun). Ini bukti,   Bontang Cerdas pada indikator ini relatif tercapai. Ketersediaan alternatif layanan pendidikan di Kota Bontang tercermin dari KB PAUD, Kursus Diklusemas, PKBM, Paket dan Wajar Paket A, B, dan C.  Kurun waktu 2006-2009 alternatif layanan pendidikan ini terus meningkat progresnya. Tiga sasaran pendidikan adalah Intellegence Questions (IQ), Emosional Questions (EQ), dan Spiritual Question (SQ). Gambaran kondisi Intellegence Questions (IQ) siswa di Kota Bontang  menunjukkan bahwa kondisi kecerdasan intelektual siswa relatif terus meningkat dari tahun 2006-2009. Data tersebut menjelaskan bahwa Kota Bontang menyandang predikat sebagai salah satu daerah dengan nilai tertinggi UAN di  Kaltim. Maknanya,  bahwa untuk sasaran pertama dari pendidikan yaitu kecerdasan intelektual, relatif cukup berhasil mencapainya. Untuk ketercapaian dua sasaran pendidikan lainnya, yaitu kecerdasan emosional dan spiritual akan terungkap pada survei publik yang juga dilaksanakan dalam penelitian ini. Jumlah tiga buta di Kota Bontang 2005-2009, turun dengan cepat.  Tahun 2005 buta aksara  4.018 orang, buta Bahasa Indonesia  68 orang, dan buta pengetahuan dasar 15 orang, maka Tahun 2009 menurun  fantastis. Tahun 2009, buta aksara 94 orang, buta Bahasa Indonesia  27 orang, dan buta Pengetahuan Dasar 3 orang. Ini mencerminkan bahwa Bontang Cerdas 2010 berhasil mencapai target penurunan jumah tiga buta. Mengenai Pencapaian akreditasi lembaga pendidikan formal dan non formal sesuai dengan tuntutan Standar Pelanayanan Minimal (SPM). Data menunjukkan bahwa seluruh lembaga pendidikan formal telah memperoleh akreditasi. Sedangkan lembaga pendidikan non formal belum seluruhnya terakreditasi, dalam kisaran 10-15% setiap tahunnya. Kondisi daya serap lulusan sekolah Kota Bontang relatif baik dan memiliki progress yang terus meningkat, baik pada Perguruan Tinggi, dunia usaha dan industri. Umumnya lulusan SMK Kota Bontang langsung bekerja di dunia industri atau usaha, sedangkan lulusan SMU sebagian besar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Layanan pendidikan yang berbasis IT telah dapat diakses di Kota Bontang.  Meski belum seluruh sekolah memiliki Jardiknas, namun persentase sekolah dengan Jardiknas untuk setiap jenjang rata-rata adalah 66,83%. Jumlah sekolah dengan Jardiknas untuk jenjang SD mencapai 49,09%, untuk jenjang SMP 88,24%, dan untuk jenjang SMA/SMK 63,16%. Hal ini dapat diartikan bahwa layanan sekolah berbasis IT relatif memadai, bahkan bisa dikatakan baik jika melihat kondisi 66,83% sekolah dengan jardiknas, kondisinya baik. Ketercapaian standar nasional untuk  SD, SMP dan SMA memberikan gambaran bahwa target jumlah sekolah berstandar nasional telah tercapai.  Untuk SD,  target 5 sekolah,  tercapai  5 sekolah berstandar nasional, di samping terdapat 2 sekolah yang dalam tahap persiapan. Untuk SMP dari target 3, terdapat 3 sekolah yang telah berstandar nasional dengan 1 sekolah dalam tahap persiapan.  SMA, dari target 2, terdapat 2 sekolah yang telah berstandar nasional dengan 1 sekolah dalam tahap persiapan. Indikator pencapaian standard ISO 9001:2008 untuk SMK dan standar internasional SMU. SMK Negeri 1 Bontang telah mencapai target indikator ke sepuluh pada Tahun 2007, dengan memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 dari SAI Global Australia. Sertifikat ISO ini kemudian diperbaharui dengan ISO 9001:2008 pada Tahun 2009 yang baru lalu. Saat ini SMK Negeri 2 Kota Bontang juga dalam tahap persiapan perolehan sertifikat ISO 9001:2008 dari lembaga yang sama. Selanjutnya, meski terdapat indikator yang belum terpenuhi yaitu sekolah berstandar internasional sampai dengan 2010 ini, namun terdapat empat sekolah yang dalam tahap persiapan perolehan sertifikat sekolah berstandard internasional (RSBI), yaitu SMA Negeri 1 dan Negeri 2 Kota Bontang, SMA YVDP Kota Bontang, dan SMA YPK Kota Bontang. Menurut data, kecukupan jumlah guru di Kota Bontang cukup ideal dan menunjukkan progess yang semakin ideal dari Tahun 2005 – 2009. Seluruh jenjang pendidikan telah menunjukkan rasio guru dan siswa di atas rata-rata nasional atau yang dipersyaratkan secara nasional. Rasio guru dan siswa Kota Bontang untuk semua jenjang berada pada angka di bawah 25:1. Sedangkan rata-rata nasional atau yang dipersyaratkan secara nasional adalah berkisar antara 25-30:1. Kondisi kecakapan guru yang dapat dilihat dari rasio guru sarjana dibandingkan siswa. Hanya pada jenjang SD rasio guru sarjana menunjukkan angka di atas rata-rata nasional, yaitu berkisar antara 40-48:1. Sementara pada jenjang lainnya (SMP dan SMA) telah menunjukkan angka di atas rata-rata nasional, yaitu di bawah angka 15 (<15:1). Kedua data ini jelas menunjukkan bahwa Kota Bontang memiliki guru yang cukup dan cakap untuk setiap jenjang pendidikannya. Kondisi sarana dan prasarana pendidikan Kota Bontang relatif tersedia dan memadai. Rata-rata kondisi ruang kelas untuk setiap jenjang pendidikan yang dimiliki oleh sekolah  di atas 85%. Ketersediaan ruang kelas,  jenjang SMP dan SMA memiliki persentase  yang lebih tinggi. Meskipun demikian untuk jenjang SD, persentase kondisi ruang kelas sudah cukup baik. Di akhir Tahun 2008, persentase kondisi ruang kelas adalah 90,21% untuk jenjang SD, 97,07% untuk ruang kelas SMP, dan 100% untuk ruang kelas SMA. Sarana-parasana lainnya, perpustakaan, lapangan olahraga, ruang UKS, laboratorium, ruang keterampilan, ruang BP,  ruang serbaguna, bengkel, ruang praktik,  dan lain-lain, juga relatif baik. Sedang kompetensi siswa di berbagai bidang keahlian merupakan suplemen dari tiga tujuan pelayanan pendidikan. Banyak penghargaan yang telah diterima dunia pendidikan Kota Bontang sebagai cerminan tingginya kompetensi siswa di  bidang akademik, olahraga, budaya, dan seni, baik   tingkat provinsi, nasional dan internasional, seperti olimpiade sains dan sebagainya.  (*/Tim JPIP Kaltim/bersambung )

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalam mualaikum Saya warga samarinda Ingin bertemu dgn beliau bagaimana ya

  2. Ade saya tahun lalu belum dapat beasiswa .semoga tahun ini dapat bu🙏

  3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ibu,,saya mo tanya Bu,,dulu di thn 2020 anak saya kelas lima SD di cek dapat pip ,, nah sampai sekarang di thn 2024 anak saya mau masuk SMU,belum pernah diterima uangnya,di status nya tertulis uang dikembalikan kepada negara,,mhn minta penjelasan nya Bu,itu disebabkan ap ya Bu,,terima kasih banyak sebelumnya Bu,🙏

Lihat semua aspirasi