BALIKPAPAN - Kondisi belajar mengajar di sekolah-sekolah di perbatasan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, seperti kecamatan Krayan, Sebatik, sangat memprihatkan.
Di SMA 1 Krayan, para murid tidak memiliki buku pegangan pelajaran. Mereka harus menyalin dari papan tulis layaknya sekolah era 80-an.
“Jadi buku pelajaran itu hanya dimiliki seorang guru, murid sama sekali tidak memiliki buku pegangan. Mereka benar-benar menyalin di papan tulis,” ungkap Hetifah Sjaifudian, anggota Komisi X DPR, usai reses ke perbatasan di Balikpapan, kemarin.
Lebih memprihatinkan lagi, kondisi itu bukan hanya dialami oleh satu kelas tapi semua kelas. Bahkan murid kelas 3 yang akan menigkuti ujian akhir juga tidak memiliki buku pegangan. “Mereka mengeluh karena merasa lelah harus menyalin pelajaran,” kata Hetifah.
Menurut politisi dari Fraksi Golkar ini, buku-buku pelajaran bagi para siswa tersebut menumpuk di dinas pendidikan kabupaten Nunukan. Pasalnya, bantuan BOS buku pelajaran tidak termasuk dana transportasi untuk sampai ke kecamatan.
“Mereka kecewa dan marah. Mereka mempertanyakan, mengapa bantuan dari pusat itu tidak sampai ke kecamatan yang berada di perbatasan Indonesia,” kata Hetifah.
Selain soal buku, juga ditemukan adanya bantuan dari pusat untuk pembuatan ruang kelas di SMA 1 Sebatik. Anggaran yang mengucur sebesar Rp341 juta itu tidak digunakan alias sia-sia hingga akhirnya dikembalikan.
“Dengan dana sebesar itu mereka tidak bisa membangun tiga kelas, tapi hanya satu kelas karena memang biaya bahan bangunan di sini mahal sekali. Semen per sak saja Rp600 ribu. Akhirnya uang itu tidak digunakan dan dikembalikan,” ungkap Hetifah.
Politisi Partai Golkar ini menambahkan, seharusnya ada biaya tambahan dari APBD sesuai juknis. Tapi, pencairan dana APBD-P juga terlambat sehingga tidak bisa menutupi perluasan kelas di SMA Sebatik.
Pada reses itu, Hetifah juga menemukan adanya pembangunan ruang kelas di bekas wisma guru yang telah lama ditinggalkan, namun terletak di tengah lapangan tempat murid-murid bermain.
“Ada lagi yang membangun ruang kelas di daerah banjir, tapi karena tidak ada biaya pengadaan pembebasan lahan, akhirnya tetap dibangun di daerah tersebut. Ya jika turun hujan, banjir hingga satu meter,” ungkap Hetifah.(rfa)
sumber:
http://kampus.okezone.com/read/2011/11/07/373/525728/sekolah-di-perbatasan-tidak-punya-buku
Amir Syarifudin, Balikpapan

Bagaimana cara dftr pip daerah balikpapan timur
Mohon beasiswa buat ananda: Nama : mawar fathonah Sekolah : SDN 10 Tanah Grogot Kelas : 3b
Knp waktu saya cek dana pip d google ko dana sudah d kembalikan ke pusat padahal saya blm ambl uangx